berbagi pengetahuan tentang Islam diakhir zaman.بِـسْـمِ اللهِ

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Kisah Umar ra. Teladan pemimpin yang bijaksana

Oleh : Rahmah Nur Faizah

Pada suatu malam, khalifah Umar bin Khathab keluar dari rumahnya. Dia berjalan menyusuri pinggiran kota Madinah. Begitulah kebiasaan pemim­pin kaum muslimin itu. Setiap malam, dia selalu menyempatkan diri berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain untuk memastikan bahwa seluruh rakyatnya dalam keadaan tercukupi segala kebutuhannya.

Umar bin Khathab berjalan dan terus berjalaa. Langit yang cerah sebagai atapnya. Di sana, kelap- kelip bintang seolah menjadi saksi atas apa-apa yang dilakukan khalifah kedua itu. Ternyata, langkah sang khalifah semakin jauh meninggalkan rumahnya, hingga tiba di sebuah gurun yang sangat sepi sekali. Di sana, dia melihat sebuah tenda yang masih ada tanda-tanda kehidupan. Ke sanalah khalifah Umar melangkah.

Setelah kian dekat, Umar bin Khathab dapat melihat seorang lelaki sedang duduk di luar sebuah tenda. Raut muka lelaki tersebut tampak gelisah. Sementara itu, dari dalam tenda terdengar sebuah erangan. Rupanya istri si lelaki itu akan melahirkan. Umar berpikir, pastilah lelaki Badui itu sangat khawatir terhadap keselamatan istrinya. Apalagi tidak ada orang lain selain hanya mereka berdua.

Maka, Umar pun segera berbalik arah. Dia ber­jalan cepat supaya lekas sampai di rumah. Sesampai di rumah, dia segera menemui istrinya, ummi Kultsum bin Abi Thalib.

"Ada apa wahai Amirul Mukminin? Kenapa engkau tampak begitu gelisah?"

"Wahai istriku, ada kesempatan mulia dari Allah untukmu, maukah engkau ikut denganku?"

"Ya!" jawab Ummu Kultsum dengan muka berbinar.

"Ada seorang Badui pendatang yang hidup di ping­giran kota. Saat ini, istrinya akan melahirkan, tetapi tidak ada orang lain yang menolongnya." kata Umar.

"Kalau begitu, marilah kita segera ke sana!" potong Ummu Kultsum. Ummul mukminin itu segera mempersiapkan segala sesuatu untuk mem­bantu persalinan pendatang itu. Sementara itu, Umar mengambil tepung dan segala perlengkapan untuk memasak. Setelah semua siap, lantas mereka beranjak ke tempat orang Badui itu. Dengan sedikit tergesa, mereka pergi menuju tenda pendatang tadi. Tak lama berselang, mereka pun telah sampai.

Sesampainya di tenda milik Badui tadi, Ummul mukminin segera minta izin masuk untuk mem­bantu persalinan. Sementara itu, Umar langsung mempersiapkan tempat memasak. Dia membuat adonan kemudian mengukusnya. Semua itu dila­kukannya seorang diri dengan cekatan.

Laki-laki Badui yang semula kebingungan itu menjadi tenang. Diam-diam, dia memperhatikan kedua tamunya yang misterius itu. Dalam hati, dia sangat bersyukur. Di tengah padang pasir yang gersang itu masih ada yang peduli dengannya. Dia pun berpikir kalau orang itu lebih pantas menjadi khalifah daripada Umar. Dia tidak tahu kalau dia adalah Umar bin Khathab, khalifah yang sangat perhatian kepada seluruh rakyatnya.

Tak berapa lama dari dalam tenda terdengar suara lengkingan tangis bayi. Rupanya istri si Badui itu telah melahirkan. Laki-laki Badui yang sejak tadi berdiri gelisah di depan tenda, pun menjadi lega. Raut mukanya terlihat bahagia.

"Wahai Amirul mukminin, katakan kepada sahabatmu itu kalau istrinya telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat." Tiba-tiba dari dalam tenda, terdengar Ummul mukminin berteriak. Spontan saja dia menyebut Umar dengan panggilan 'Amirul mukminin'. Dia tidak sadar kalau tadi telah bersepakat akan menyembunyikan identitas mereka supaya si Badui merasa nyaman.

Mendengar sebutan itu, si Badui tampak terkejut. Dia mundur beberapa langkah. Dia sungguh tidak menyangka kalau laki-laki tamunya itu ternyata Amirul Mukmrnin, sang khalifah. Rasa bangga, malu, sekaligus takut, bercampur menjadi satu. Se­mentara itu, Umar yang melihat perubahan pada si laki-laki Badui itu segera menenangkannya.

"Tenanglah wahai saudaraku. Aku itu tak lebih hanya sebagai saudaramu!" kata Umar lembut. Dia terus memasak roti itu sampai matang. Setelah dira­sanya matang, dia memberikannya kepada Ummu Kultsum supaya istri si Badui itu makan.

"Sekarang lekaslah engkau makan, wahai saudaraku! Aku y akin, pastilah engkau juga lapar" tawar Umar.

Sejenak, laki-laki Badui itu terlihat ragu. Tapi perutnya tidak mau diajak kompromi. Akhirnya, dia pun memberanikan diri untuk makan roti yang telah dimasakkan oleh khalifahnya.

Setelah semuanya beres, Umar dan Ummu Kultsum pun mohon diri. Khalifah Umar telah menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang sa­ngat peduli terhadap keadaan rakyatnya. Bahkan, dia pernah berkata bahwa kalau rakyatnya lapar, maka dialah orang yang pertama kali akan kelaparan. Kalau rakyatnya susah, maka dialah orang yang per­tama kali menanggung kesusahan.

Wahai saudaraku apa yang dicontohkan umar bin khatab sangat berbeda dengan keadaan pemimpin dijaman sekarang ini. Dijaman jahiliyah modern ini pemimpin cenderung memperkaya diri dibandingkan mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Berebut jabatan dengan menghalalkan segala cara. Belum lagi korupsi dinegri ini yang makin menjadi-jadi. Kalau pemimpin sekarang perutnya kekenyangan memakan harta yang haram rakyatnya dibiarkan kelaparan. Pemimpin sekarang menindas rakyat beserta aparaturnya suka menggerogoti darah rakyat jelata. Kita dibebani pajak yg macam-macam untuk dikorupsi bukan untuk membangun negara. Contoh kecil saja yang sering kita lihat yaitu polisi lalu lintas yang mencari-cari kesalahan pengendara untuk membayar denda tapi kebanyakan masuk kantong mereka sendiri. Naudzubillah. Padahal setiap perbuatan pasti ada pertanggungan jawab diakhirat kelak. Menyia-nyiakan amanah adalah ciri orang munafik yang besar sekali dosanya. Semoga negri ini segera berbenah sebelum azab Nya turun dari langit membinasakan yang berdosa dan yang tidak berdosa pun merasakan dampaknya

Semoga pemimpin kita bisa meneladani umar bin khotob ra.
Khalifah yang dijanjikan masuk surga.

Pustaka : abatasadotcom

[ Read More ]

ISIS memang lebih biadab ketimbang iblis

Innalillahi, ISIS bakar 5 orang Ibu dan hancurkan kepala 12 tawanan mereka dengan buldoser

Dari Irak dikabarkan bahwa Tanzhim Daulah pimpinan Al-Baghdadi telah mengeksekusi 12 orang penduduk sipil di pusat kota Mosul dengan Buldoser, sebagaimana yang dilaporkan oleh kantor berita Al-Sumaria News koresponden Nainawa.

Liputan lapangan yang diadakan oleh kantor berita wilayah Nainawa mengabarkan bahwa eksekusi yang dilakukan oleh Tanzhim Daulah/ISIS terhadap 12 orang penduduk sipil tersebut dilakukan pada hari Jumat, dengan menggunakan Buldoser dan bertempat di tengah kota Mosul.

Sumber-sumber redaksi melaporkan kepada Sumeria News bahwa kelompok Daulah/ISIS telah mengundang penduduk kota untuk menyaksikan eksekusi tersebut pada sore hari, yang menampilkan model eksekusi baru yang lebih kejam, setelah mereka merampas hak penduduk Nainawa.

Dua belas orang penduduk kota yang akan dieksekusi tersebut dibaringkan berjajar di tengah jalan raya di pusat kota Mosul di dekat gerbang masuk At-Thawib.

Sopir Buldoser sekaligus eksekutor kedua belas penduduk sipil tersebut menjalankan Buldoser itu untuk melindas kepala mereka, kemudian kembali kedua kalinya untuk melindas jasad mereka.

Lima orang ibu dan anak-anak mereka dibakar hidup-hidup di Anbar (Irak)

Dari propinsi Anbar Iraq dilaporkan bahwa gerombolan ISIS mengumpulkan lima orang ibu dan anak-anak mereka dan membakar mereka hidup-hidup setelah para ibu tersebut menolak untuk mengizinkan anak-anak mereka bergabung dengan gerombolan yang mengusung nama Negara Islam. Para korban semuanya diyakini berasal dari suku Sunni Albu Nimr.

Berkaitan dengan peristiwa keji ini, pemimpin suku Sheikh Naim al-Kaoud, mengatakan bahwa wanita dan anak-anak ditangkap oleh geng ISIS dan dibakar di jalan-jalan.

Menurut surat kabar Saudi yang berbasis di London "Sharq al-Awsat" pemimpin suku menceritakan bagaimana perempuan-perempuan itu menolak pasukan Tanzhim Daulah sekaligus menuntut bagi mereka untuk melepaskan anak-anak mereka dari bergabung dengan ISIS.

(muqawamah.net/arrahmah.com)

[ Read More ]

Pelurusan akidah menurut KH. Hasyim ‘Asy’ari

Oleh:

Kholili Hasib

(Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya)

 Akidah merupakan pondasi sakral dalam agama. Penyimpangan akidah berarti menegasikan agama Islam itu tersendiri.  KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri Nahdhatul Ulam', ketika hidup di masa kolonial Belanda mencermati bahwa banyak aliran-aliran pemikiran yang bisa melunturkan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Ciri yang dapat ditangkap dari figur Syekh Hasyim ini salah satu di antaranya adalah penguatan basic-faith (asas kepercayaan) kaum Muslim. Fatwa-fatwanya mengikuti sejumlah ulama'-ulama' mutakallimun (teolog) dari madzhab Abul Hasan Asy'ari dan Maturidi. Organisasi NU yang didirikannya juga bertujuan melestarikan ajaran Ahlussunnah dalam masyarakat Nusantara, dengan menyatukan para ulama' dan menepis fanatisme sempit terhadap kelompoknya. Buah pikirannya yang cemerlang dan melampaui zamannya (visioner) ini adalah salah satu hal yang menarik.

Figur Anti Paham Nyeleneh

Umat Islam Indonesia tentu berharap besar agar ormas-ormas Islam terbebas dari oknum yang berpaham liberal dan Syiah. NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia sangat berperan penting menjaga keislaman Muslim Indonesia – apalagi pendirinya, KH. Hasyim Asy'ari, termasuk yang menolak keras segala bentuk penodaan akidah. Jika ada anak muda NU yang liberal, sejatinya mereka adalah oknum budak asing. Maka, sudah saatnya arus liberalisasi agama yang diusung oleh sebagian intelektual muda NU ditanggapi serius[1]. Sebab, pemikiran mereka sangat jauh dari ajaran-ajaran KH. Hasyim Asy'ari — pendiri NU — yang dikenal tegas terhadap pemikiran-pemikiran yang menodai kesucian agama.

Ketokohan KH. Hasyim Asy'ari jangan sampai ditinggalkan Nahdliyyin (umat NU). Beliau adalah figur ulama' Nusantara yang patut diteladani, tidak hanya bagi kalangan NU, tapi juga umat Islam lainnya di Indonesia.

Biografi KH. Hasyim 'Asy'ari

KH. Hasyim Asy'ari adalah ulama' kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama'. Ia lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari Selasa, 24 Dzulhijjah 1287  H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kiai Asy'ari, seorang ulama asal Demak Ayahnya, juga seorang ulama' di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kyai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari berbagai daerah di seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kyai Sihah, juga ulama', adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.

Menginjak usia 15 tahun, KH. Hasyim berkelana ke berbagai pesantren yakni ke pesantren Wonokoyo Probolinggo, pesantren Langitan Tuban, pesantren Trenggilin Madura, dan akhirnya ke pesantren Siwalan Surabaya. Di pesantren Siwalan ia menetap selama 2 tahun. Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah beliau berguru kepada masyayikh di tanah haram[2]. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh 'Alawi dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis yang berasal dari Termas Jawa Timur. Ia juga pernya belajar kepada Kyai Cholil Bangkalan (mbah Cholil), ulama Madura yang cukup disegani. Cukup banyak Kyai sepuh NU yang belajar kepadanya.

Sepulang ke tanah air, ia memulai tapak perjuangan melalui pendidikan dan organisasi sosial. Di bidang pendidikan ia mendirikan pesantren bercorak tradisional di Tebuireng Jombang. Untuk mengkonsolidasi dakwah secara efektif ia mendirikan jam'iyyah Nahdlatul Ulama', yang artinya organisasi kebangkitan ulama' pada 31 Januari tahun 1936.

Ia termasuk penulis produktif. Karya yang dibukukan sekarang ini ada sekitar lebih dari 19 kitab. Itu belum risalah-risalah pendek belum dicetak yang menurut informasi masih tersimpan di perpustakaan keluarga di Jombang. Barangkali Syekh Hasyim Asy'ari ingin meneladani Imam al-Ghazali dalam perjuangan. Imam al-Ghazali dalam gerakan pembaharuannya dengan membenahi ilmu dan ulama'. Syekh Hasyim Asy'ari dengan berdirinya NU, berusaha membangkitkan ulama' dan semangat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ulama' adalah 'mesin' dakwah Islam. Oleh sebab itu ketika terjadi krisis, ulama' harus dibangkitkan, dibenahi keilmuannya dan diatur strategi perjuangannya. Syekh Hasyim sendiri adalah mengikuti madzhab Syafi'i dalam bidang fikih, dalam bidang teologi mengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Maturidi. Madzhab dan teologi ini mayoritas dianut umat Islam Nusantara.

Dalam kitabnya al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan terekam nasihat-nasihat penting yang disampaikan dalam pidato mu'tamar NU ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya.

Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjihad melawan akidah yang rusak dan pengkhina al-Qur'an. Untuk itu, ia mewanti-wanti agar menjaga keutuhan umat Islam dan tidak fanatik buta kepada perkara furu'[3].

Di hadapan peserta mu'tamar yang dihadiri para ulama', Syekh Hasyim Asy'ari menyeru untuk meninggalkan fanatisme buta kepada satu madzhab. Sebaliknya ia mewajibkan untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur'an, dan sifat-sifat Allah swt, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak. Usaha dalam bentuk ini wajib hukumnya. Ia mengatakan:

"Wahai para ulama' yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu', dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur'an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib"[4].

Tegas, tidak kenal kompromi dengan tradisi-tradis batil, serta bijaksana, inilah barangkali karakter yang bisa kita tangkap dari pidato beliau tersebut. Bahkan pidato tersebut disampaikan kembali dengan isi yang sama pada Muktamar ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap masa depan warga Nadliyyin dan umat Islam Indonesia umumnya, terutama masa depan agama mereka ke depannya – yang oleh beliau telah diprediksi mengalami tantangan yang berat.

Menurut Syekh Hasyim Asy'ari, fanatisme terhadap perkara furu' itu tidak dipernkenankan oleh Allah swt, tidak diridlai oleh Rasulullah saw (al-Tibyan, hal. 33). Oleh sebab itu ia menyeru untuk bersatu padu, apapun mazhab fikihnya. Selama ia mengikuti salah satu madzhab yang empat, ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath'i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur'an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu. Inilah sikap adil, yakni menempatkan perkara pada koridor syariah yang sebenarnya.

Dalam kitab yang sama, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.

Ditulis dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, Seykh Hasyim Asy'ari mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam lautan fitnah, yaitu berdakwah mengajak kepada agama Allah akan tetapi dalam hati ia durhaka kepada-Nya[5].

Nahi Munkar Syekh Hasyim

Hadratus Syekh Hasyim Asyari, pernah menceritakan tentang keadaan pemikiran kaum Muslimin di pulau Jawa. Cerita itu kemudian ditulis dalam salah satu kitabnya, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah. Selain dalam kitab tersebut, juga diuraikan dalam karya-karya lain, tentang ajaran-ajaran yang menyimpang yang harus diluruskan.

Sejak NU didirikan pertama kali pada 31 Januari 1926, Syeikh Hasyim Asy'ari sudah mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham nyeleneh. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan hati-hati menyikapi fenomena perpecahan akidah.

Pada sekitar tahun 1330 H terjadi infiltrasi beragam ajaran dan tokoh-tokoh yang membawa pemikiran yang tidak sesuai dengan mainstream Muslim Jawa waktu, yakni berakidah Ahlussunnah wal Jama'ah[6].

Kyai Hasyim mengkritik orang-orang yang mengaku-ngaku pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, dengan menggunakan paradigma takfir terhadap madzhab lain, penganut aliran kebatinan, kaum Syiah Rafidhah, pengikut tasawwuf menyimpang yang menganut pemikiran manunggaling kawulo gusti[7].

Organisasi yang beliau dirikan, NU, bertujuan memperbaiki keislaman kaum Muslim nusantara dengan cara membangkitkan kesadaran ulama-ulama' Nusantara akan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar. Diharapkan dengan wadah organisasi ini, para ulama' bersatu padu membela akidah Islam.

Paradigma takfir, dalam bidan furu', tidaklah tepat karena akan memcah belah kaum Ahlussunnah wal Jama'ah. Dalam menyikapi perbedaan furuiyah, Kyai Hasyim melarang untuk bersikap fanatik buta.  Ia mendorong keras kepada para ulama' untuk bersama-sama membela akidah Islam. Maka, seruan untuk tidak fanatik buta terhadap pendapat ijtihad merupakan salah satu cara untuk menggalang kekuatan pemikiran dalam satu barisan.

Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath'i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada akidah yang benar.

Aliran Syiah yang mencaci sahabat Abu Bakar dan Umar adalah aliran yang dilarang untuk diikuti. Bagaimana bermuamalah dengan penganut Rafidhah? Beliau mengutip penjelasan Qadhi Iyadh tentang hadis orang yang mencela sahabat, bahwa ada larangan untuk shalat dan nikah dengan pencaci maki sahabat tersebut. Karena mereka sesungguhnya menyakiti Rasulullah saw.

Meski pada masa itu aliran Syi'ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi Hasyim Asya'ari memberi peringatan kesesatan Syi'ah melalui berbagai karyanya. Antara lain;  "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', "Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama'ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin" dan "al-Tibyan fi Nahyi 'an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan".

Hasyim Asy'ari, dalam kitabnya "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'" memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi'ah.Menurutnya, madzhab Syi'ah Imamiyyah dan Syi'ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali[8].

Beliau mengatakan: "Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi'ah Imamiyyah dan Syi'ah Zaidiyyah adalah ahli bid'ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti" (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', halaman 9)[9].

Syeikh Hasyim Asy'ari mengemukakan alasan mengapa Syi'ah Imamiyyah dan Zaidiyyah termasuk ahli bid'ah yang tidak sah untuk diikuti. Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi halaman 7 mengecam golongan Syi'ah yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi saw.

Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa'iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy'ari menghimbau agar para ulama' yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi saw itu.

Hadis Nabi saw yang dikuti itu adalah: "Apabila telah Nampak fitnah dan bid'ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia".

Peringatan untuk membentengi akidah umat itu diulangi lagi oleh Syeikh Hasyim dalam pidatonya dalam muktamar pertama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', bahwa madzhab yang sah adalah empat madzhab tersebut, warga NU agar berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah tersebut.

Dalam Qanun Asasi itu, Syeikh Hasyim Asy'ari menilai fenomena Syi'ah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi harus diluruskan. Pelurusan akidah itu menurut beliau adalah tugas orang berilmu, jika ulama' diam tidak meluruskan akidah, maka mereka dilaknat Allah swt.

Kitab "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'" sendiri merupakan kitab yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy'ari, berisi pedoman-pedoman utama dalam menjalankan amanah keorganisasian Nahdlatul Ulama. Peraturan dan tata tertib Jam'iyyah mesti semuanya mengacu kepada kitab tersebut.

Sikap tegas juga ditunjukkan Syeikh Hasyim dalam karyanya yang lain. Antara lain dalam "Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama'ah" dan "al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin" dan "al-Tibyan fi Nahyi 'an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan", di mana cacian Syi'ah dijawab dengan tuntas oleh Syeikh Hasyim dengan mengutip hadis-hadis Nabi SAW tentang laknat bagi orang yang mencaci sahabatnya.

Hampir setiap halaman dalam kitab "al-Tibyan" tersebut berisi kutipan-kutipan pendapat parra ulama salaf salih tentang keutamaan sahabat dan laknat bagi orang yang mencelanya. Diantara ulama' yang banyak dikutip adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Qadli Iyadl.

Hadis-hadis Nabi saw yang dikutip dalam dua kitab tersebut antara lain berbunyi:"Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti 'Aisyah". "Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabat mereka, maka dia akan mendapat laknat Allah swt, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah".

Pada masa lalu di Jawa juga telah muncul ajaran ibahiyyah. Kelompok ini mengajarakan pengguguran kewajiban syariah. Dijelaskannya, jika seseorang telah mencapai puncak mahabbah (cinta), hatinya ingat kepada Sang Maha Pencipta, maka kewajiban menjalan syariat menjadi gugur. Ibadah cukup hanya dengan mengingat Allah saja. Kyai Hasyim menyebut mereka sebagai kelompok sesat dan zindiq[10]. (Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, hal. 11).

Ajaran-ajaran lain yang menyusup merusak tasawwuf adalah ajaran inkarnasi, dan manunggaling kawula gusti. Menurut beliau orang yang meyakini inkarnasi telah mendustakan firman Allah swt dan sabda Rasulullah saw. Ajaran manunggaling kawula gusti merusak telah merusak ajaran tasawwuf. Ajaran ini menyimpangkan karena mengajarkan panteisme.

Menurut Kyai Hasyim, konsep penyatuan wujud yang ada pada para ulama' sufi dahulu bukanlah panteisme bukan pula pluralisme, tapi penyatuan itu hanya dalam konteks hierarki wujud, antara wujud makhluk dan wujud Allah. Tidak dipungkiri ajaran tersebut sengaja dirusak untuk menyimpangkan ajaran tasawwuf para ulama'-ulama' terdahulu. Mereka ini disebut orang jahil yang sok bertasawwuf.

Dalam kitab Al-Dhurar al-Muntastiro fi Masa'ili al-Tis'i 'Asyarah Syekh Hasyim memberi penjelasan-penjelasan ringkas dan padat tentang konsep-konsep kewalian dan tasawwuf. Di situ, terdapat penjelasan penting. Bahwasannya, jika ada seorang mengaku wali lantas melakukan hal-hal 'aneh', namun mengingkari syariat maka — menurut beliau — dia bukan wali, tapi sedang ditipu setan.

Beliau mengatakan bahwa, siapapun diwajibkan untuk melaksanakan syariat. Tidak ada perbedaan antara seorang santri, kyai, orang awam dan wali, semuanya sama diwajibkan menjalankan perintah syariah.

Ia mengatakan, "Tidak ada namanya wali yang meninggalkan kewajiban syariat. Apabila ada yang mengingkari syariat maka ia sesungguhnya mengikuti hawa nafsunya saja dan sedang tertipu setan"[11].

Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan usaha Kyai Hasyim untuk membendung keyakinan yang mendekonstruksi akidah Ahlussunnah wal Jama'ah di kalangan jam'iyah NU secara khusus dan umat Islam di Nusantara secara umum. Bahkan menurutnya, kelompok-kelompok yang menyimpang tersebut lebih berbahaya bagai kaum Muslimin daripada kekufuran lainnya. Sebab, kalangan Muslim awam mudah terkecoh dengan penampilan mereka, apalagi bagi kalangan yang awam dalam bahasa arab dan syariat.

Mereka wajib dibendung. Tapi beliau mengingatkan, bahwa nahi munkar terhadap aliran 'nyeleneh' tersebut harus dilakukan sesuai petunjuk syariat. Tidak boleh nahi munkar dengan cara munkar pula atau menimbulkan fitnah baru. Sehingga tidak menyudahi kemungkaran namun akan menambah kemungkaran itu sendiri, yakni menambah umat Islam makin menyimpang akidahnya. Sebagaimana dilarangnya sedekah dengan harti hasil curian. Tapi di sini bukan larangan nahi mungkar dengan 'tangan', namun yang dilarang  adalah yang melanggar syariat. Inilah karakter Syekh Hasyim Asy'ari yang patut diteladani umat. Tegas terhadap penyimpangan Islam, teduh dalam menyikapi perbedaan furu'.

Ia salah satu tokoh nasional pejuang syari'ah. Ia adil. Kepada pengikutnya yang salah, ia tak segan membenahi, dan terhadap kelompok lain yang menyimpang, tanpa sungkan ia mengkritik. Semuanya demi Islam, demi keagungan Allah, bukan demi manusia tertentu.

Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi'ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi saw. Mereka berkumpul membaca Al-Qur'an, dan sirah Nabi[12].

Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari'at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.

Syekh Hasyim Asy'ari tidak pernah mengajarkan paham liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Fatwa-fatwanya cukup tegas. Tidak abu-abu. Beliau mengatakan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah menyimpang. Hanya Islam lah agama wahyu yang orisinil, yang harus tetap dijaga dan dipeluk.

Sebab, liberalisasi dan pluralisasi agama jelas menyalahi tradisi NU, apalagi melawan perjuangan KH. Hasyim Asy'ari. "Liberalisme ini mengancam akidah dan syariah secara bertahap," ujar KH Hasyim Muzadi seperti dikutip www.nuonline.com pada 7 Februari 2009.

KH. Hasyim Asy'ari sangat menentang ide penyamaan agama, dan memerintahkan untuk melawan terhadap orang yang melecehkan Al-Qur'an, dan menentang penggunaan ra'yu mendahului nash dalam berfatwa (lihat Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama'ah). Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, Syekh Hasyim mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid'ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.

Perjuangan Syekh Hasyim pada zaman dahulu adalah menerapkan syariat Islam. Untuk itulah beliau, sepulang dari belajar di Makkah mendirikan jam'iyyah Nadlatul Ulama' – sebagai wadah perjuangan melanggengkan tradisi-tradisi Islam berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Liberalisme di kalangan NU sesungguhnya telah dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan. Pada Muktamar NU di Boyolali Jawa Tengah, terbit rekomendasi dari sesepuh Kyai NU agar kepengurusan NU dan organisasi-organisasi di bawahnya dibebaskan dari orang-orang berhaluan Islam Liberal.

PWNU Jawa Timur patut menjadi teladan warga NU dalam meneruskan perjuangan Kyai Hasyim 'Asy'ari. Pada 9 Januari 2012, melalui ketuanya, KH. Mutawakil Alallah, PWNU secara resmi menyatakan bahwa Syiah sesat. "Kami harap, aparat membubarkan kelompok Syiah. Jika dibiarkan berkembang keberadaan mereka akan menabrak konstitusi. Aliran itu hanya mengakui satu pimpinan dan imam, yakni yang masih ada hubungan keluarga dengan pimpinan sebelumnya. Hal itu bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa," terang Mutawakkil kepada metronews.com. seperti dilansir dalam berita suara-islam.com, Kyai asal Probolinggo ini menjelaskan bahwa Syiah telah melanggar HAM karena mecaci sahabat Nabi saw. Ajaran Syiah menyebut Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan sebagai "perampok" posisi Sayidina Ali bin Abi Thalib. juga tidak mengakui Al Quran sebanyak 30 juz serta tidak mengakui Hadits Bukhari-Muslim, kecuali hadits dari Syiah sendiri. Mereka juga tidak mengakui imam di luar Sayidina Ali, sehingga mereka tidak menerima kepemimpinan presiden, gubernur, bupati/wali kota, dan seterusnya.

Ketegasan Kyai Hasyim 'Asy'ari semoga menjadi teladan baik bagi ulama di Indonesia. Tindakan nyata dan tegas hukumnya fardlu 'ain bagi para ulama' yang memiliki otoritas dalam tubuh organisasi.

Ormas-ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari gempuran penyimpangan akidah. NU dan Muhammadiyah bagi muslim Indonesia adalah dua kekuatan yang perlu terus di-backup. Jika dua kekuatan ini lemah, tradisi keislaman Indonesia pun bisa punah.

 

[1] Uraian ini dapat dibaca  di Muhammad Najih Maimoen, Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU, (Rembang: Toko Kitab al-Anwar PP al-Anwar Sarang, 2011)

[2] http://kangdoellah.wordpress.com/2011/04/05/biografi-kh-hasyim-asy%E2%80%99ari

[3] Hasyim Asy'ari, al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan,(Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy, tanpa tahun), hal. 32

[4] Ibid, hal. 33-34

[5] Hasyim 'Asy'ari, al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, dalam al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan,(Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy, tanpa tahun), hal. 22-23

[6] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 9

[7] Ibid, hal. 10

[8] Ibid, hal. 14. Lihat juga Keputusan Muktamar NU I di Surabaya pada 21 Oktober 1929 dalam Ahkamul Fukoha' Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, (Surabaya; Diantama dan LT NU Jawa Timur), hal. 3

[9] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 9

 

[10] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 11

 

[11] Hasyim Asy'ari, Al-Dhurar al-Muntastiro fi Masa'ili al-Tis'i 'Asyarah,(Kediri: PP. Lirboyo Kediri, tanpa tahun), hal. 4 dan 6

[12] Hasyim Asy'ari, Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat,(Jombang: Maktabah al-Turast al-Islamiy,tanpa tahun), hal. 9

Sumber : insists magazine

[ Read More ]

Filsafat islam ; pembahasan kimia kebahagiaan

Peneliti Insists Henri Salahuddin menjelaskan bahwa agar mencapai kebahagiaan, manusia mesti memenej  unsur-unsur untuk mencapai kebahagiaan itu. "Imam al Ghazali menyatakan bahwa partikel-partikel dalam diri manusia yang dimenej untuk mencapai kebahagiaan itu adalah: mengenal diri, mengenal Allah, mengenal hakikat dunia dan mengenal hakikat akherat. Insya Allah kebahagiaan akan diraih bila mengenal empat ini,"paparnya.

Imam Ghazali membahas masalah ini, pada kitabnya Kimiya as Sa'adah (Kimia Kebahagiaan). Karya ini adalah karya ke 45 sang Imam. "Sedang Ihya' Ulumuddin adalah karya Imam Ghazali yang ke-28,"terang Henri dihadapan puluhan peserta dua mingguan Insist pada Sabtu lalu (1/12).  Dalam Kimia as Sa'adah ini diterangkan bagaimana mendidik diri dengan cara menjauhi hal-hal yang buruk dan mencapai keutamaan dengan menghiasi diri melakukan amal-amal yang shaleh. Dalam kitab ini, menurut Henri, manusia ditanya:
Anda siapa?
Anda datang ke sini dari mana? Anda diciptakan untuk apa? Anda bahagia karena apa dan Anda sengsara karena apa?

Kemudian Imam Ghazali menjelaskan bahwa manusia mempunyai empat sifat. Pertama sifat binatang ternak, yang bahagia dengan makan, minum dan menyalurkan hasrat seksualnya. Kedua, sifat binatang buas yang bahagia bila berantem atau bertengkar. Ketiga sifat Iblis dan keempat sifat malaikat.

"Bersungguh-sungguhlah untuk mengetahui usul Anda, sehingga Anda kenal jalan menuju Tuhan. Sehingga Anda bisa menggapai kebahagiaan dan mencegah kekangan hawa nafsu syahwat dan marah. Barangsiapa mementingkan apa yang masuk dalam perut, maka nilainya sma dengan apa yang dikeluarkan,"jelas penulis buku 'Al Qur'an Dihujat' ini.

Kemudian Henri menjelaskan bahwa manusia ibarat sultan dalam kerajaan.  Akherat sebagai negeri tempat tinggalnya. Dunia ini ibarat rumah. Jiwa adalah kendaraan, syahwat adalah pegawai, dua tangan dan kaki adalah pelayan, amarah adalah polisi, quwwatul khayal adalah pejabat tinggi yang mengumpulkan informasi dari mata-mata, quwwatul hifz adalah tempat pengumpul yang dihasilkan pejabat tinggi dan akal adalah menterinya. "Ini semua tujuan akhirnya adalah mengenal Allah (beribadah) dan qalbu adalah kunci untuk mengenal Allah,"terangnya. Karena itu jangan sampai syahwat mengalahkan akal atau qalbu.

Di sini Henri mengritik keras pendapat Freud yang menyatakan bahwa manusia tidak lepas kebutuhannya dari bawah perut (seks)." Karena ada tingkatan kebutuhan atau kebahagiaan manusia yang lebih tinggi yaitu kebahagiaan karena mempunyai ilmu dan sifat-sifat yang terpuji (nafsiyah),"paparnya. Memang tidak dipungkiri, adanya kebahagiaan yang sifatnya badaniyah (atau sifat binatang ternak) seperti kebutuhan makan, seks, kesehatan dan sebagainya,. Di samping juga kebahagiaan yang sifatnya 'kharijiyah' seperti manusia gembira karena kekayaannya.

Imam Ghazali menasehatkan agar manusia tidak menuruti nafsu ammarah bis su' (nafsu keburukan/ kejahatan). Seperti perbuatan seks bebas atau seks sesama jenis (homoseksual/Lesbian), yang menjadikan manusia kedudukannya lebih rendah dari binatang. "Dan kita mesti menjauhi dari sifat-sifat tercela dan menghiasi diri kita dengan sifat-sifat terpuji seperti: iffah, sajaah, hikmah dan adalah, taubah, sabar, syukur, raja', khauf, tauhid, tawakal dan mahabbah,"papar Henri. Di sinilah Imam Ghazali menekankan pentingnya jihadul akbar, jihad melawan hawa nafsu itu.

Masalah pentingnya ilmu, ditekankan dalam diskusi Insists itu. "Ilmu dapat menimbulkan jiwa yang sakinah, dapat mengenal Allah (ma'rifatullah) dan akhirnya dapat sampai pada nafsu muthmainnah,"jelasnya.  Menurut Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya' Uluumuddin,  manusia itu ada tiga golongan, temanilah yang dua dan tinggalkanlah yang satu. Pertama, orang yang lebih pandai darimu, maka bertemanlah dengannya niscaya engkau mendapat ilmu. Kedua, orang yang lebih bodoh darimu, temanilah ia dan ajarkanlah ilmu padanya dan ketiga orang yang sombong maka jauhilah ia.*(nh)

Sumber ; insists magazine

[ Read More ]

Jilbab gaul vs jilbab syariat


 
Jilbab adalah busana muslim terusan panjang yang menutupi seluruh badan kecuali wajah, tangan dan kaki, yang biasa dipakai oleh perempuan muslim (muslimah). Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntunan syariat diwajibkannya para perempuan muslimah untuk menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab. Secara etimologis jilbab berasal dari bahasa arab jalaba yang artinya menghimpun atau membawa. Istilah jilbab di Negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim digunakan sebagai jenis pakaian dengan penamaan yang berbeda-beda, misalnya di Iran disebut chador, di Irak abaya, di Malaysia disebut tudung, sementara di Arab dan Afrika disebut hijab. Di Indonesia, istilah jilbab lebih populer sebagai busana kerudung atau penutup kepala (rambut dan leher) yang dirangkai dengan baju yang menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan dan kaki. Kata ini sudah masuk dalam kamus besar bahasa Indonesia pada tahun 1990 bersamaan dengan populernya penggunaan jilbab di kalangan muslimah perkotaan. Adapun dalam kosakata bahasa Indonesia menurut KBBI jilbab adalah kerudung lebar yang dipakai perempuan muslim untuk menutupi kepala, leher sampai ke dada.
Dewasa ini perkembangan dunia fashion semakin hari semakin berkembang pesat dengan  beragam jenis dan model, tak terkecuali jilbab. Banyak kita jumpai model jilbab sekarang ini dari yang panjangnya selutut, sedada, bahkan cuma sampai leher dengan berbagai macam warna, motif, dan model pemakaian yang bervariasi. Kebanyakan mereka yang menggunakan jibab (kerudung) yang cuma sampai leher ini adalah remaja, mahasiswa, bahkan ibu-ibu yang memang ingin tampil modis dan trendy, dan mereka menyebutnya dengan istilah jilbab gaul. Sejatinya penggunaan jilbab itu dirangkai dengan pemakaian baju yang menutup aurat, yaitu baju yang tidak ketat dan transparan yang sesuai dengan tuntunan syariat, akan tetapi melihat fenomena sekarang, pemakaian jilbab disalahgunakan bahkan jauh dari tuntunan syariat Islam. Maksudnya seorang muslimah mengenakan jilbab namun berpakaian tipis, transparan dan ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ini menunjukkan jilbab bagi mereka hanya sebagai trend atau simbol islami saja.
Dalam ajaran islam, jilbab bukanlah selembar kain tanpa makna. Berjilbab, wajib hukumnya bagi muslimah yang sudah akil baligh. Sebagaimana dikatakan Allah SWT dalam firman-Nya:
"Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan perempuan-perempuan orang mukmin, supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu (disakiti) oleh orang jahat. Allah maha pengampun lagi pengasih" (QS: Al-Ahzab ayat 59).
 Jilbab adalah sebuah identitas keagamaan yang dimulai dari keyakinan hati, tutur hingga laku. Namun sekarang ini jilbab sudah melenceng dari fungsi utamanya. Jilbab yang semestinya untuk menutup aurat mereka jadikan hanya untuk membalut aurat, maksudnya berjilbab dengan ketentuan yang mereka buat sendiri tanpa memperhatikan tuntunan syariat, dengan alasan biar modis, cantik dan tidak ketinggalan zaman. Berjilbab merupakan dorongan hati yang paling dalam. Jangan berjilbab karena kondisi, misalnya berjilbab hanya pada waktu kuliah saja, di luar kuliah tidak berjilbab. Hal seperti itu sama saja melecehkan agama.
Fenomena jilbab gaul adalah fenomena yang membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang muslimah mengenakan jilbab gaul, dalam benaknya ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil modis dan cantik. Sebagian muslimah berkomentar, "lho, masih mending memakai jilbab gaul daripada tidak berjilbab sama sekali?!" yang lainnya juga berkomentar, "ini kan masih belajar untuk menutup aurat." Memang jilbab gaul selalu dianggap lebih baik dari tidak menutup aurat sama sekali atau juga dianggap sebagai proses belajar untuk menutup aurat. Sekilas pernyatan-pernyataan tersebut tampak benar, tetapi sejatinya sungguh keliru, karena setiap muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah. Bagi para muslimah yang memahami benar ketentuan jilbab sesuai perintah teks Al-Qur'an dan hadits, mengenakan jilbab gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. Akan tetapi tidak ada salahnya jika diantara kita para muslimah yang sudah berjilbab secara syar'i untuk senantiasa memberi semangat kepada mereka yang masih tahap belajar menutup aurat, supaya bisa menutup aurat secara sempurna, karena bagaimanapun memakai jilbab gaul lebih baik daripada tidak beljilbab sama sekali. Yang terpenting adalah pendekatan dakwah yang baik dengan menanamkan makna dan hakikat ajaran islam yang secara intensif dan mengena supaya perlahan lahan mereka mau berjilbab secara sempurna (syar'i).
Maraknya fenomena jilbab gaul bagi remaja putri dan muslimah lain, bisa jadi disebabkan minimnya pemahaman agama, dan pengetahuan mereka mengenai jilbab, sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja. Sebab lain, bisa jadi mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh islam yang ingin menggiring kaum muslimah untuk keluar rumah dalam keadaan telanjang. Propaganda-propaganda yang menyimpulkan bahwa jilbab adalah pakaian adat orang arab saja, atau jilbab adalah pakaian tradisional yang kuno. Sehingga banyak dari kaum muslimah termakan olehnya dan meninggalkan jilbab yang syar'i.
Adapun ketentuan berjilbab atau menutup aurat secara syar'i yaitu yang sesuai dengan tuntunan alquran dan hadits, diantaranya:
Menutup seluruh badan, kecuali yang dikecualikan
Bukan berfungsi sebagai perhiasan, sebagaimana dalam surat an Nur ayat 31: "hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluaanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung sampai ke dadanya………"
sebagaimana keterangan ayat di atas, jilbab di pakai untuk menutupi aurat bukan untuk perhiasan, sehingga jilbab (kerudung) pun harus menutupi dada.
Tebal, tidak transparan
Longgar dan tidak ketat
Tidak memakai parfum atau wewangian yang bisa mengundang syahwat
Tidak menyerupai pakaian laki-laki
Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Tidak untuk popularitas
Berjilbab atau menutup aurat tidak hanya sebagai lambang keislaman saja, berjilbab merupakan perintah syariat yang wajib dilakukan. Muslimah yang berjilbab akan terlihat santun, terhormat, bermartabat dan tentunya berkpribadian muslim. Oleh karena itu berjilbab harus juga dibarengi dengan akhlak yang baik. Jangan sampai berjilbab tapi prilakunya lebih buruk dari yang tidak berjilbab. Dengan berjilbab yang syar'i berarti kita telah menjaga nama baik agama, dan tentunya akan memperoleh pahala dari Allah sebagai balasan atas ketaatan kita kepada-Nya.

Sumber : abatasa.com
 

[ Read More ]

Nasehat islam "islam bukan teroris"

"Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Penebar kasih sayang bagi alam semesta. Bukan agama teroris yg mengajari manusia untuk berbuat kebengisan dan kekejaman meresahkan umat manusia ataupun merusak alam sekitar. Siapapun yang melakukan teror kepada yang tidak berdosa dan meresahkan umat manusia sementara ia mengaku muslim berpakaian ala syariat dan menyerukan jihad dia sebenarnya hanya pendusta agama dan pengikut ajaran sesat atau satanisme yg terselubung."

(Ashabul-muslimin)

[ Read More ]

Kenapa kita wajib dakwah ?

Penulis: ust.Abu Mushlih Ari

Berikut poin poin yg kami dapatkan dari ustadz

1. Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…" (Qs. Yusuf: 108)

Berdasarkan ayat yang mulia ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil sebuah pelajaran yang amat berharga, yaitu: Dakwah ila Allah (mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau tuliskan di dalam Kitab Tauhid bab Ad-Du'a ila syahadati an la ilaha illallah (Ibthal At-Tandid, hal. 44).

[2] Dakwah merupakan karakter orang-orang yang muflih (beruntung)

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung." (Qs. Ali-'Imran: 104)
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja'far Al-Baqir setelah membaca ayat "Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan" maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah-ku." (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, jilid 2 hal. 66)
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan." (HR. Ahmad, dinilai hasan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami' hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, jilid 2 hal. 66)

[3] Dakwah merupakan ciri umat yang terbaik

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma'ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…" (Qs. Ali-'Imran: 110)
Ibnu Katsir mengatakan, "Pendapat yang benar, ayat ini umum mencakup segenap umat (Islam) di setiap jaman sesuai dengan kedudukan dan kondisi mereka masing-masing. Sedangkan kurun terbaik di antara mereka semua adalah masa diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi yang berikutnya." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, jilid 2 hal. 68)
[4] Dakwah merupakan sikap hidup orang yang beriman
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar,…" (Qs. At-Taubah: 71)
Inilah sikap hidup orang yang beriman, berseberangan dengan sikap hidup orang-orang munafiq yang justru memerintahkan yang mungkar dan melarang dari yang ma'ruf. Allah ta'ala menceritakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), "Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma'ruf…" (Qs. At-Taubah: 67)

[5] Meninggalkan dakwah akan membawa petaka

Allah ta'ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra'il (yang artinya), "Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra'il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu." (Qs. Al-Ma'idah: 78-79)
Syaikh As-Sa'di rahimahullah menjelaskan, "Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…" (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)
Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syaikh As-Sa'di telah memaparkan akibat buruk ini, "Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari." (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

[6] Orang yang berdakwah adalah yang akan mendapatkan pertolongan Allah

Allah berfirman (yang artinya), "Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan." (Qs. Al-Hajj: 40-41)
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).

[7] Dakwah, bakti anak kepada sang bapak

Allah ta'ala mengisahkan nasihat indah dari seorang bapak teladan yaitu Luqman kepada anaknya. Luqman mengatakan (yang artinya), "Hai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah)." (Qs. Luqman: 17)
Allah juga menceritakan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya. Allah berfirman (yang artinya), "Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang jujur lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya; Wahai ayahku. Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bisa mencukupi dirimu sama sekali? Wahai ayahku. Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku. Janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu selalu durhaka kepada Dzat Yang Maha Penyayang." (Qs. Maryam: 41-44)

[8] Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabbnya

Allah berfirman (yang artinya), "Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, 'Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?' Maka mereka menjawab, 'Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa'." (Qs. Al-A'raaf: 164)
Syaikh As-Sa'di rahimahullah mengatakan, "Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu." (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307)
Allah berfirman (yang artinya), "Para rasul yang kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan itu, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. An-Nisaa': 165).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, "Wahai umat manusia, hari apakah ini?" Mereka menjawab, "Hari yang disucikan." Lalu beliau bertanya, "Negeri apakah ini?" Mereka menjawab, "Negeri yang disucikan." Lalu beliau bertanya, "Bulan apakah ini?" Mereka menjawab, "Bulan yang disucikan." Lalu beliau berkata, "Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini." Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, "Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?"… (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina. Hadits no. 1739)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, "Sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan." (Fath Al-Bari, jilid 3 hal. 652).
[9] Dakwah tali pemersatu umat
Setelah menyebutkan kewajiban untuk berdakwah atas umat ini, Allah melarang mereka dari perpecahan, "Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah keterangan-keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang berhak menerima siksaan yang sangat besar." (Qs. Ali-'Imran: 105)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Kalaulah bukan karena amar ma'ruf dan nahi mungkar niscaya umat manusia (kaum muslimin) akan berpecah belah menjadi bergolong-golongan, tercerai-berai tak karuan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki…" (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 102)
***

[ Read More ]

HIKMAH DIBALIK MASALAH KITA

 Oleh Rina Rakhmawati
 
MUKADIMAH :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia;Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” 
(QS. Ali ‘Imran: 190-191)


Jengkel, kesel, marah, galau, gelisah, dan sederet unsur negatif lain biasanya timbul manakala kita terbelit dalam suatu masalah. Apalagi kalau masalahnya berderet-deret dan seolah tak kunjung selesai, tiada hari tanpa frustasi. Tapi, cobalah memulai kebiasaan ini, masalah?enjoy aja lagi!Lho, lagi ada masalah kok malah disuruh enjoy!Weits, tunggu dulu, kawan.

Kening saya juga berkerut ketika membaca salah satu subbab dari karya Ustadz Solikhin, penulis “Zero to Hero”, ‘Ada Masalah?Bahagialah!’. Wah, ini lagi, ada masalah kok ya disuruh bahagia. Nah, kawan, ternyata masalah itu justru memiliki beberapa manfaat. Bukankah Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk berpikir positif, khusnudzon terhadap segala sesuatu yang ditakdirkan dalam hidup meski itu pahit? Begitu pun dengan masalah, seberat apapun, insyaAllah ada sederet manfaat yang mengajarkan kita untuk lebih dewasa, lebih bijak, lebih tangguh.

Berikut saya kutip manfaat masalah dari sekuel kedua “Zero to Hero”:

- Masalah adalah Penebus Dosa
Kita pasti pernah mendengar ungkapan, sakit itu menggugurkan dosa (jika dalam sakit itu kita iringi kesabaran dan keikhlasan). Begitu pula masalah, ia berfungsi sebagai penebus dosa. Kita dididik untuk belajar banyak dari kesalahan yang mungkin tanpa kita sadari sudah membuat Allah Swt. jengah, tidak ridha. Masalah menjadi sarana tarbiyah ilahiyah. Allah Swt. bermaksud menunjukkan dosa yang sudah kita lakukan, dan segera membenahi diri, meluruskan niat, memperbaiki cara agar segala sesuatunya mendatangkan berkah dan ridha-Nya.

- Masalah itu Nikmat Kehidupan
Sebagai nikmat, sudah seharusnya disyukuri, bukan dicaci walaupun secara kasat mata jarang sekali ditemui masalah yang manis. Masalah justru membuat hidup kita lebih dinamis, tidak hambar layaknya sayur tanpa garam. Jika diberi hidup datar-datar saja kita masih sering mengeluh, apalagi yang dinamis, minimalkan!Kalau bisa buang jauh-jauh keluh kesah tiada guna itu. Ketika terbesit niat untuk mengeluh, segera istighfar&ubah dengan ungkapan syukur.

- Penyaring Mutu, Mengangkat Derajat
Seperti kilaunya permata yang hanya bisa didapatkan manakala digosok terus menerus, seperti cantiknya mutiara yang diperoleh dari kesabaran kerang menahan rasa sakit ketika mengubah sebutir pasir tak berharga menjadi mutiara nan elok rupa, seperti kokohnya baja karena dilebur dalam suhu yang panasnya luar biasa, begitu pun masalah. Jika kita berhasil melewati masalah hidup dengan kesabaran dan keikhlasan bukan tidak mungkin kita menjadi pribadi yang tangguh dan bermartabat, dinaikkan derajatnya oleh Allah Swt.Insya Allah…

- Banyak Masalah, Banyak Ilmu

Adanya masalah menuntut kita untuk berpikir kreatif, memutar otak agar menghasilkan solusi terbaik dari beragam solusi yang dihadirkan. Proses mencari solusi itulah yang kemudian malah menganugrahkan ilmu-ilmu baru yang bisa jadi tidak kita temukan dalam hidup tanpa masalah.
- Masalah sebagai Seleksi
Tidak sedikit kita yang ketika terlibat masalah sangat pelik justru semakin jauh dari Allah Swt. Lari dari masalah dengan meninggalkan masalah baru. Kurang bersabar plus tidak ikhlas atas proses seleksi yang diadakan Allah Swt. Ya, masalah merupakan prosedur seleksi Allah Swt. untuk menguji hamba-hambaNya yang katanya beriman, bertakwa, cinta number one hanya kepada Allah Swt. Dengan demikian akan terlihat mana yang benar dalam beriman, dan mana yang ‘abal-abal’.
- Masalah untuk Merevisi Langkah
Masalah sebagai media evaluasi, muhasabah diri atas segala gerak langkah kita. Adakah yang melenceng dari tujuan awal, adakah dari cara yang kita lakukan, tidak sesuai dengan syari’ah?Orang-orang sholeh mengoreksi kesalahan dalam medan pertempuran melalui kualitas ibadah, yang wajib dan yang sunnah. Menemukan sumber masalah segera berbenah, memompa gairah, agar kemenangan diraih dengan mudah, penuh berkah dalam setiap langkah.

-Yang terakhir dari (Ashabul Muslimin-pen) : Masalah adalah melatih Kedewasaan

setiap manusia tidak dibebani masalah yang melebihi kapasitas kemanusiaannya setiap tahapan kedewasaan berbeda masalahnya, misal masalah anak sd tentu beda dengan anak kuliahan dan masalah rumah tangga berbeda dengan masalah kenegaraan dsb. oleh karena itu jika telah lulus ujian masalah itu kita akan memasuki tahap selanjutnya ketingkat kedewasaan yang lebih tinggi, bisa dibilang masalah itu adalah ujian akal untuk lebih dewasa dan lebih matang untuk orientasi kedepan.


Kunci dari manajemen masalah ada pada kejernihan hati, kejernihan pikir sehingga menghasilkan kejernihan dalam bersikap terhadap masalah yang hadir. Seberat dan sebanyak apapun masalah yang dihadapi, ketika hati sudah tertaut sepenuhnya pada Rabb Yang Maha Pemurah, insya Allah akan dipermudah dalam menemukan jalan penyelesaian. Karena dalam satu kesulitan, ada dua kemudahan, Allah Swt. menjaminnya dalam firman, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS. Asy Syarh: 5-6). Wallahu’alam bishshawwab…
Referensi:
a. Al Qur’an
b. The Way to Win, Solikhin Abu Izzudin
c. berbagai situs islam
[ Read More ]

BENDERA ISIS BUKAN BENDERA ISLAM

Satu lagi kesesatan ISIS (negara islam palsu) yang amat gamblang namun kita baru akan tahu kalau melihat gambar-gambar ini:

Bendera ISIS adalah seperti ini :

ISIS 

sedangkan bendera islam tidak ada simbol bulat dibawahnya yang bertuliskan "ALLAH RASUL MUHAMMAD". hah? kebalik bukan atau itu sengaja dibuat intelejen dajal untuk merusak akidah Islam secara halus?

BENDERA ISLAM
 Lihatlah gambar diatas ini sebuah bendera yang bertuliskan "Lailahailallah Muhammadurrasulullah". ini baru yang bernar-benar bendera tauhid. gak kebalik kayak benderanya ISIS. Kalimat tauhid kalau dibolak balik ya SESAT. makanya kita harus selektif dalam segala hal. karena firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

penjelasan ayat : 


Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.

darimanakah mereka mendapat "inspirasi mendesain logo bendera mereka jika dari cincin nabi saw tidak mungkin karena cincin Nabi tidak bertuliskan seperti itu, cincin nabi saw yang asli disimpan dimuseum adalah seperti ini :


[ Read More ]

Kisah Islam - Ketika orang musyrik memakan 'tuhan'nya sendiri

 by Nurul Fatin
Edit by Ashabul-Muslimin.tk

Memang kita sebagai orang beriman patut heran melihat kenyataan para musyrikin penyembah berhala yang sungguh diluar nalar, mereka membuat patung itu sendiri kemudian mereka sembah padahal bergerak sedikitpun tidak mampu, apalagi berbicara dan menciptakan sesuatu, itulah keanehan para penyembah berhala padahal mereka yang buat sendiri mereka pula yang menyembah benda terkutuk buatannya sendiri, naudzubillah.

Ada cerita menarik terkait perilaku jahiliyah bangsa Arab kuno. Suatu hari, Sa’ib bin Abdullah sedang sibuk memahat patung berhala yang akan disembahnya. Tidak beberapa lama, patung itu terbentuk. Wujudnya mirip manusia. Ada kepala, mata, hidung, mulut, tangan, kaki, dll. Sa’ib dengan seksama memerhatikan hasil karyanya tersebut. Lalu ia ambil bejana berisi susu kental. Ia arahkan bejana ke lubang hidung patung dengan maksud agar susu tersebut dihirup. Sang patung tentu saja tak akan pernah menghirup karena tak bernyawa. Kemudian Sa’ib menyiramkan air susu ke tubuh patung. Byurr.. byurr.. byur... patung basah kuyup.
Selang beberapa saat, datang seekor anjing ,menghampiri patung. Hidungnya mengendus endus seluruh bagian tubuh patung, lidahnya dijulurkan. Dan apa yang terjadi?  Anjing tersebut kemudian menjilati seluruh bagian patung. Setelah puas, anjung tersebut mengangkat satu kakinya dan mengencingi patung yang dijadikan tuhan oleh Sa’ib.sungguh luar biasa kebodohan orang-orang musyrik paganisme (penyembah berhala) jaman dulu masak tuhan mereka kok lebih buruk daripada anjing, karena dijilatin dan bahkan dikencingi anjingpun berhala mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Lain lagi dengan kaum bani Hanifah. Patung yang mereka buat bukan dari kayu atau batu, melainkan tepung terigu. Tradisi ini telah berlangsung berabad-abad. Sampailah saat kaum ini diterpa bencana kelaparan. Panen gagal, tak ada lagi pangan yang dapat dimakan. Yang tersisa hanya tepung terigu yang telah berwujud patung. Karena perut tak bisa diajak kompromi, mereka pun beramai-ramai memakan patung tersebut. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada makanan, tuhan pun jadi .he.he.he. Mungkin begitulah yang ada pada benak mereka saat itu. sungguh memang otak orang musyrik lebih buruk daripada binatang jalang sekalipun semoga kita tidak termasuk mereka yang dibinasakan dineraka jahanam, Naudzubillahi min dzalik


Refrensi : buku "The Great Story of Muhammad”
[ Read More ]

Kisah Hidup Seorang Santri


Kita tak pernah asing dengan sebutan santri, dan kitapun tak pernah bisa melepaskan jasa jasa para lulusan pesantren yang disebut santri, misal saja ketika ada acara pengajian, pernikahan, kelahiran dan ataupun ketika ada saudara kita yang meninggal dunia.

90% di antara beliau yang memimpin acara tersebut adalah lulusan pesantren yg dulunya disebut santri dan kini beliau berganti gelar menjadi kiai. Mungkin saat beliau masih menjadi santri, banyak orang yang tak menganggap keberadaanya. Namun ketika beliau bisa menjadi sesosok figur teladan dalam masyarakat, beliau amat disegani, sangat di harapkan barokah doanya. namun jangan salah, perjuangan beliau disaat masih berstatus ''santri'', sangatlah berat. berawal dari keberangkatanya dari desa yang nun jauh menuju pesantren, terkadang beliau berjalan kaki ataupun menaiki sepeda tua. Keringat beliau adalah pahala, langkah kaki beliau selalu di hitung oleh para malaikat yang setia disisinya.beliau tak pernah mengeluh seberapa jauhnya perjalanan itu, tak pernah mengeluh sedikitnya bekal yang di berikan oleh orang tuanya.

Karena tekad beliau hanya satu yaitu mencari ilmu yang bermanfaat. sesudanya sampai di pesantren, beliau lantas tak pernah melewatkan waktunya untuk mengaji, bangun malam untuk sholat tahajjud ketika para manusia sedang tidur terlelap. sungguh perjuangan yang amat sangat sulit untuk di praktekkan oleh manusia di zaman ini sekalipun mereka yang masih menuntut ilmu di pesantren.

Itulah sang santri yang esok harinya menjadi figur teladan di masyarakat. meskipun dulunya ia hanya berjalan kaki, namun skarang tak jarang beliau beliau yang mempunyai mobil bahkan lebih dari satu. banyak orang yang mengatakan bahwa hidup zaman sekarang jika tak mempunyai ijazah maka akan sulit tuk mencari makan.

Padahal beliau beliau para kiai banyak yang tak mempunyai ijazah. banyak manusia yang tak pernah bersyukur atas apa yang di berikan oleh Alloh SWT padanya. sehingga mereka lebih mempercayai doktrin barat daripada agama islam itu sendiri.

Semoga dengan perjuangan beliau beliau para pemegang panji panji agama islam senantiasa di beri ketabahan dan kekuatan oleh Alloh SWT tuk membimbing kita semua kembali pada jalanNya. amin.
[ Read More ]

Kisah Islam "Kehendak Allah Tak Seburuk Yang Kau Sangka"

Oleh : Dadang Ari Murtono
­
 

"BENARKAH Tuhan seperti yang kausangka?" perempuan yang di mata Haji Ahmad sudah terlihat begitu menjijikkan dan pekat oleh dosa itu bertanya dengan muka lebam, lembab, dan pasai. Lebam karena beberapa menit sebelumnya, Haji Ahmad menimpukkan genggaman tangan di sana, lembab karena airmata yang daritadi tak henti-henti berjatuhan, dan pasai karena gering yang sudah tiga hari tak mau surut.
 
Haji Ahmad merutuki perempuan itu. Ia juga mengutuki hari di mana ia bertemu perempuan itu untuk pertama kali dan jatuh cinta kepada si perempuan bertahun-tahun yang lampau. "Betapa setan benar-benar pintar menyarukan neraka menjadi seakan surga," kata Haji Ahmad. Ya, bertahun-tahun yang lampau, Haji Ahmad seakan melihat surga dalam diri perempuan itu. Perempuan yang terlihat begitu cantik dalam balutan jilbab berwarna hijau, pandangan yang begitu teduh seperti teduhnya pohon-pohon di kebun belakang rumah masa kecilnya, dan senyuman sesejuk es setrup di hari-hari panjang musim kemarau yang panasnya minta ampun.
 
Haji Ahmad keturunan orang baik. Bapak dan ibunya adalah dua orang pertama yang bisa pergi ke Mekkah di kampungnya. Bapaknya menjadi ketua takmir masjid dan ibunya kepala kelompok pengajian ibu-ibu di desanya. Haji Ahmad anak satu-satunya. Dan semenjak usianya lima tahun, ia telah dikirim ke pondok pesantren terkenal di daerah Jombang, Jawa Timur. Banyak orang besar, alim, dan pintar yang merupakan alumni pondok pesantren tersebut. Bapak dan ibunya menaruh harapan besar kepada Haji Ahmad.
 
"Semoga kau bisa menjadi seperti tokoh-tokoh yang berperan besar dan bermanfaat bagi negara seperti beberapa alumni pondok pesantren itu," demikian dulu bapak dan ibunya berkata setiap kali ia pulang kampung di musim liburan pondok pesantren. Dan ia mengaminkan doa itu. Doa siapa yang lebih ampuh selain doa orangtua?
 
Namun sayangnya, tidak semua doa mesti terkabul. Tidak semua harapan terwujud menjadi kenyataan. Sepuluh tahun sejak Haji Ahmad kecil berangkat ke pondok pesantren tersebut, beberapa kawannya mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Mesir dan Arab Saudi, namun Haji Ahmad masih juga berkutat dengan nahwu yang belum juga dikuasainya. Dia juga belum lancar benar membaca kitab kuning dengan hurup-hurup arab pego gundul. Pengasuh pondok pesantren suatu kali berkata kepada bapak dan ibu Haji Ahmad ketika mereka datang menengok ke pondokan, "anak Abah memang tidak secerdas beberapa temannya yang lain, namun bukan berarti anak Abah bodoh."
 
Setelahnya, bapak dan ibu Haji Ahmad berkata kepada Haji Ahmad, "kalau tidak bisa menjadi orang besar dan bermanfaat bagi negara, paling tidak, kau bisa menjadi orang besar dan
bermanfaat bagi propinsimu."
 
Namun sekali lagi, doa tidak selalu terkabul sekali pun bapak dan ibu Haji Ahmad terus berdoa agar ia menjadi orang besar dan bermanfaat bagi propinsinya dan Haji Ahmad tak henti mengaminkan doa-doa itu.
 
Orang-orang tua yang sudah banyak makan asam garam, yang sepertinya lebih dekat dengan Tuhan daripada orang awam seperti kiai pengasuh pondok pesantrennya pada kesempatan yang lain berkata kepada orangtua Haji Ahmad, "jangan terlalu membebani Ahmad dengan harapan-harapan semacam itu. Dia memang tidak bodoh, tapi sepertinya akan sulit baginya menjadi orang besar yang berkiprah di propinsi. Dan harapan-harapan yang terlalu besar kepadanya bisa membuatnya tertekan dan hanya akan menjadikannya tidak berkembang. Semoga dia bisa menjadi orang yang baik dan bisa menjaga dirinya dari dosa, dan kelak, menjadi kepala keluarga yang mampu membimbing keluarganya ke jalan yang benar."
 
Dan semenjak itulah, bapak dan ibu Haji Ahmad tidak lagi mengatakan sesuatu yang muluk-muluk kepada Haji Ahmad. Pesan si pengasuh pondok pesantren benar-benar mereka pegang, "menjadi kepala keluarga yang baik dan bisa membawa keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah itu lebih baik daripada menjadi kepala negara tapi lalim dan mengabaikan kesejahteraan rakyatnya."
 
Ketika tiba masa bagi Haji Ahmad lulus dari pondok pesantren, orangtuanya berupaya segera menikahkan Haji Ahmad dengan perempuan yang baik, perempuan yang alim, perempuan yang bisa menjadi ibu yang baik dan mau terus dibimbing menuju jalan yang benar yang diridhoi Allah. Tapi ternyata mencarikan jodoh bagi orang seperti Haji Ahmad bukanlah pekerjaan mudah. Beberapa kali mereka mencoba menjodohkan Haji Ahmad dengan putri kenalan mereka, namun ada saja hal yang mengganjal sehingga perjodohan itu tidak bisa diteruskan.
 
"Ya kalau memang bukan jodohnya, mau apa lagi?" demikian akhirnya mereka mencoba menghibur diri dengan kenyataan yang mereka hadapi.
 
Hingga pada suatu hari, di sebuah acara semaan alquran, Haji Ahmad bertemu dengan perempuan itu, perempuan berjilbab hijau yang seperti menyimpan surga di dalam dirinya. Dengan bertanya kepada beberapa orang, tahulah Haji Ahmad bahwa perempuan itu sering mengikuti acara semaan alquran. Haji Ahmad merasa bahwa perempuan itu adalah jodohnya. Dan Haji Ahmad semakin kepikiran perempuan itu ketika mendapat lebih banyak informasi. Perempuan itu adalah perempuan yang tak putus dirundung malang. Orangtuanya meninggal karena penyakit panas ketika si perempuan masih berusia sepuluh tahun. Perempuan itu anak tertua dan masih memiliki dua adik lagi. Setelah kematian kedua orangtuanya, si perempuanlah yang bekerja untuk menghidupi dua adiknya.
 
"Dia bekerja apa saja. Tak tentu. Namun dia selalu rajin mengikuti semaan alquran dan kerap hadir pada acara-acara pengajian. Dia perempuan yang baik dan pasti bisa menjadi istri yang berbakti. Kalau kau menikah dengannya, rumahtanggamu insyaallah sakinah," demikian yang dikatakan salah satu hafidz yang ditemui Haji Ahmad.
 
Sebulan kemudian, Haji Ahmad menikahi perempuan itu. Waktu itu, Haji Ahmad belum menunaikan ibadah haji. Dan ia tidak memiliki pekerjaan selain sholat, membaca alquran, mengikuti pengajian, tahlilan, dan hal-hal semacam itu. Kebun dan sawah orangtuanya cukup luas dan dikelola dengan baik oleh orangtuanya sehingga hasilnya lebih dari cukup untuk menunjang kehidupan Haji Ahmad dan istrinya. Perempuan itu, setelah resmi menjadi istrinya, juga tidak tampak lagi bekerja serabutan seperti dulu. Adik-adik perempuan itu juga bisa meneruskan sekolahnya dengan biaya dari orangtua Haji Ahmad. Namun meski pun sudah menjadi istri Haji Ahmad, perempuan itu tetap saja tidak menceritakan secara detail pekerjaan apa yang dulu dilakukan si perempuan. "Pokoknya serabutan," begitu si perempuan senantiasa menjawab.
 
Kehidupan pernikahan mereka sepertinya baik-baik saja sekali pun mereka belum dikaruniai anak. Ketika usia pernikahan mereka menginjak lima tahun, kedua orangtua Haji Ahmad meninggal karena kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah pengajian di kota kecamatan. Sesaat sebelum meninggal, di rumah sakit, bapak Haji Ahmad berpesan agar kalau punya rejeki berlebih, Haji Ahmad segera menunaikan ibadah haji. Haji Ahmad menganggap pesan bapaknya sebagai wasiat yang harus segera dilaksanakan. Namun tentu saja itu hal yang sulit karena selama ini ia tidak bekerja selain beribadah. Haji Ahmad juga tidak tahu bagaimana caranya bertani sekali pun orangtuanya mewarisinya sawah dan kebun yang cukup luas. Untunglah, adik-adik istrinya sudah selesai sekolah dan telah pula sanggup bekerja di kota propinsi hingga tak lagi membebani Haji Ahmad.
 
Pesan bapaknya untuk segera menunaikan ibadah haji terus mengiang di telinga Haji Ahmad, membuatnya tidak tenang. Hingga pada tahlilan empatpuluh hari meninggalnya orangtuanya, Haji Ahmad mendapat ide cemerlang, "aku akan menjual sawah dan kebun itu dan hasil penjualannya akan kugunakan untuk pergi haji."
 
Istrinya keberatan dengan hal itu. Namun Haji Ahmad berkata, "toh, aku juga tidak memiliki kemampuan bertani. Dan jangan khawatir tentang kehidupan kita setelahnya. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya kelaparan, apalagi hamba yang seluruh waktunya dihabiskan untuk memuji dan beribadah kepada-Nya. Rejeki akan datang dengan cara yang tidak disangka-sangka."
 
Haji Ahmad kemudian memang pergi menunaikan ibadah haji. Tidak ada lagi sisa penjualan sawah dan ladang itu. Dan sepulangnya dari tanah suci, Haji Ahmad semakin giat beribadah. Jauh lebih giat dari sebelumnya. Dan pada waktu itulah, orang-orang mulai sering melihat istri Haji Ahmad keluar rumah. Ketika ada yang bertanya, perempuan itu menjawab, "pergi bekerja." Dan tetap tak ada yang tahu apa pekerjaan perempuan itu.
 
Haji Ahmad sepertinya juga tidak perduli dengan pekerjaan istrinya. Ia benar-benar ahli ibadah yang baik. Dan ia memang berkonstrasi penuh ke sana. Istrinya memang bekerja untuk menunjang kehidupan mereka, namun Haji Ahmad yakin rejeki yang didapat istrinya itu adalah juga karena ibadahnya yang tak putus-putus. Allah memang selalu mendatangkan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka, bukan?
 
Hingga semua berubah pada suatu hari. Seorang lelaki perlente memarkir mobilnya di depan rumah Haji Ahmad. Lelaki itu turun dari mobil, mengetuk pintu rumah Haji Ahmad dan mengganggu Haji Ahmad yang tengah mendaras alquran. Istri Haji Ahmad gering sudah tiga hari terakhir ini dan hanya bisa terbaring di atas dipan.
 
"Benarkah ini rumah Siti?" lelaki itu bertanya. Haji Ahmad mengiyakan, mempersilakan lelaki itu masuk. Dan bertanya bagaimana si lelaki kenal dengan istrinya.
 
"Sudah tiga hari Siti tidak terlihat di komplek. Setiap siang saya datang ke komplek karena saya tahu Siti hanya siang hari saja di sana. Saya pelanggan tetapnya. Saya sebenarnya mencintainya. Namun dia selalu menolak lamaran saya. Padahal maksud saya baik, ingin mengentasnya dari dunia pelacuran. Saya kira, dia menolak karena tidak mau menjadi istri simpanan saya. Oya, apakah saudara ini kakaknya? Siti pernah cerita kalau dia tinggal dengan kakaknya yang menderita suatu penyakit sehingga tidak memungkinkan untuk bekerja."
 
Untuk beberapa saat, Haji Ahmad tertegun, tak mampu bicara sepatah kata pun. Namun begitu dia bisa menguasai dirinya, dengan berang yang luarbiasa, dengan suara menggelegar, Haji Ahmad
mengusir lelaki itu.
 
Dari kamar, istrinya mendengar kejadian itu. Ia menangis. Namun tangisan itu tak cukup menghadirkan rasa belas pada diri Haji Ahmad. Malah, marahnya semakin menjadi-jadi. Dan dengan kalap, Haji Ahmad memukul dan menampar istrinya.
 
"Kau perempuan laknat! Kau kerak neraka! Kau pelacur sial! Allah akan menyiksamu dengan adzab yang tak terkira pedihnya! Allah membencimu dan tak ada tempat untukmu di rumah ini. Allah akan menempatkanmu di neraka selama-lamanya!" rutuk Haji Ahmad.
 
Makian dan cercaan seperti tak habis-habisnya. Haji Ahmad dengan menggunakan dalil-dalil, hadits-hadits, dan ayat suci-ayat suci, terus saja meneriaki dan menakuti istrinya. Sampai istrinya bertanya lirih, "benarkah Tuhan seperti yang kau sangka?".

Padahal orang yang bertobat dari maksiat itu sama saja bayi yang baru lahir dihadapan Allah SWT. dan tidak jarang hati seorang alim pun lebih kotor dari pelacur karena merasa diri paling hebat dan paling berilmu. ada  kisah dari hadist Rasulullah saw bahwa pelacur bisa masuk surga karena kebaikan akhlaqnya dan ahli ilmu masuk neraka karena kesombongan dan hanya mengharapkan pujian orang.


Nasehat Yang Tersirat dari Kisah Ini  :

- Dunia Memang ladang ujian dan cobaan barangsiapa bersabar dan mampu menerima kenyataan, dan pasrahkan kepada Allah SWT maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

- Jodoh sudah diatur Allah SWT, tidak akan tertukar, jika jodoh kita berakhlaq buruk maka itu cermin dari kekotoran hati yang tidak terlihat oleh diri sendiri. maka jangan salahkan istrimu, apalagi Takdir Tuhanmu salahkan dirimu, apakah hatimu sudah bersih untuk mendapatkan seorang jodoh yang sempurna? apakah akalmu cukup sehat untuk mendapatkan jodoh yang bersikap dewasa? Apakah akhlaqmu sudah sempurna untuk mendapat jodoh yang begitu sempurna pula?

- Orang yang bertobat dari maksiat sama dengan orang yang baru masuk islam seperti bayi yang baru lahir. jadi jangan seenaknya menjustice (memvonis) seseorang karena Takdir Allah belum tentu seperti yang kau kira, bisa jadi ahli maksiat mati khusnul khotimah dan ahli ibadah malah mati buruk. semua itu adalah sebab tersembunyi dari penyakit hati manusia.

- Allah SWT maha penerima Taubat, mumpung hembusan nafas masih dirongga dada jangan menunda berhenti dari maksiat sebelum ajal memutuskan kita dari pintu taubat.


Rerefensi : Koran Suara Merdeka

Nasehat Oleh : www.Ashabul-Muslimin.tk


[ Read More ]

    close
    Banner iklan disini

    Kunjungan Anda

    Total Tayangan Halaman