berbagi pengetahuan tentang Islam diakhir zaman.بِـسْـمِ اللهِ

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

SIAPA GOLONGAN YANG SELAMAT, FIRQOTUN NAJIYAH

Oleh : Ustadz Abu Ali Noor Ahmad S

Firqatun Najiyah

Istilah golongan yang selamat yang dalam bahasa Arab disebut dengan al-firqatu an-najiyah ( الفرقة الناجية ) muncul berdasarkan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yakni:

افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة

"Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka, dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka, dan demi yang jiwaku di tangan-Nya sungguh ummatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka, dikatakan "Wahai Rasul ALLAH siapa mereka itu?", beliau berkata: "Mereka adalah al-Jama'ah."" (HR Ahmad, shahih).

Kata " فرقة " bermakna golongan, kelompok dari hasil berpecah, sedangkan " ناجية " bermakna selamat. Dalam konteks hadis di atas adalah selamat dari Neraka dan dimasukkan Surga.

Dari hadis tersebut muncul pertanyaan siapa mereka itu? Lafadz hadis tersebut menunjukkan yang selamat disebut " الجماعة " yang juga secara bahasa bermakna golongan dari hasil berkumpul. Dalam hadis ini tentu saja tidak bermaksud makna bahasa tapi makna syar'i, sebab jika itu bermakna bahasa maka hadis itu tidak berarti apa-apa. Pertanyaan berikutnya adalah siapa al-Jama'ah yang dimaksud?

Untuk menjawab ini harus diteliti makna dan maksud al-Jama'ah dan al-Firqah dan perintah untuk berjama'ah atau berkumpul disertai larang berfirqah atau berpecah belah di dalam al-Quran dan as-Sunnah:

{ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا} (آل عمران: من الآية: 103)

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, …" (QS Ali Imran: 103)

{ وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ} (آل عمران: من الآية: 105)

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. …" (QS Ali Imran:105).

Dua ayat tersebut jelas-jelas memerintahkan bersatu (jama'ah) dan melarang perpecahan (firqah).

Sedangkan dalam as-Sunnah:

((من خرج من الطاعة وفارق الجماعة فمات مات ميتة جاهلية))

"Barangsiapa keluar dari ketaatan (pada amir) dan memisahkan diri (berpecah) dari al-jama'ah kemudian mati maka mati dalam keadaan mati jahiliyah" (HR Muslim dari Abu Hurairah).

((من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد))

"Barangsiapa menghendaki surga yang terbaik dan ternyaman hendaknya melazimi al-jama'ah karena syaitan bersama satu orang dan dia lebih jauh dari dua orang." (HR at-Tirmidzi dari 'Umar bin al-Khattab, hasan shahih gharib dan disebutkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

((الجماعة رحمة والفرقة عذاب))

"Jama'ah itu rahmat sedangkan furqah (perpecahan) itu 'adzab" (HR Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah dan dihasankan oleh al-Albani dalam takhrijnya, Shahih al-Jami' dan yang lain)

Hadis-hadis ini senada dengan ayat-ayat al-Quran yang telah disebutkan tentang kewajiban melazimi al-Jama'ah dan menjauhi furqah (perpecahan). Kemudian apa makna al-Jama'ah?

Al Jama'ah

Apabila dibawa pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat maka makna al-Jama'ah tentu saja berpegang kepada Islam yang murni yakni al-Quran dan as-Sunnah, karena jelas Nabi dan para shahabat termasuk dari al-Jama'ah yang dimaksud dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat dalam as-Sunnah tersebut, sehingga orang-orang yang menyelesihi mereka adalah firqah sebagai konsekuensi logis meninggalkan al-Jama'ah yakni Nabi dan para shahabat.

Para 'ulama mempunyai pendapat yang bervariasi tapi tidak saling bertentangan, di mana menurut asy-Syathibi bisa dirangkum dalam lima pendapat, yaitu:

  1. as-Sawadu al-A'dzam ( السواد الأعظم ) yakni maksudnya adalah kelompok terbesar dari orang-orang muslim. Mereka itulah yang dimaskud al-Jama'ah yakni al-Firqatu an-Najiyah (golongan yang selamat). Maka pemahaman Islam yang mereka pegang adalah benar yang menyelisihi mereka mati dalam keadaan mati jahiliyah baik menyelesihi pemahaman agama mereka ataupun menyelisihi imam mereka. Sehingga yang dimaksud as-Sawadu al-A'dzam adalah orang-rang yang berpegang teguh dengan syari'ah yang benar. Pendapat ini adalah pendapat Abu Mas'ud al-Anshari dan Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhuma. Ketika terbunuhnya khalifah 'Utsman radhiallahu 'anhu maka Abu Mas'ud ditanya tentang fitnah maka beliau menjawab: "Tetaplah engkau dengan al-Jama'ah, sesungguhnya ALLAH tidaklah mengumpulkan ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di atas kesesatan …". Ibnu Mas'ud berkata: "Tetaplah kalian mendengar dan ta'at, karena itu adalah tali ALLAH yang Dia perintahkan (untuk memegang teguh) …" beliau juga berkata: "Sesungguhnya yang kalian benci di dalam jama'ah lebih baik dari pada yang kalian sukai di dalam perpecahan …".
  2. Jama'ah imam-imam 'ulama mujtahidin, maka barang siapa keluar dari apa yang telah disepakati 'ulama ummat ini mati dalam keadaan mati jahiliyah. Karena 'ulama ummat ini lah yang dimaksud dalam hadis shahih :

    ((إن الله لن يجمع أمتي على ضلالة))

    "Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengumpulkan ummatku di atas kesesatan" (hadis ini dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami').
    Pendapat ini mengkhususkan 'ulama mujtahidin dari as-Sawadu al-A'dzam ummat ini. Pendapat ini dikatakan oleh: 'Abdullah bin al-Mubarak, Ishaq bin Rahawaihi dan sekelompok ulama salaf. Ibnu al-Mubarak pernah ditanya: "Siapakah al-Jama'ah yang sepatunya diikuti?" Beliau berkata:" Abu Bakar dan 'Umar". beliau terus menyebutkan sampai ke Muhammad bin Tsabit dan al-Husain bin Waqid. Maka dikatakan pada beliau: " Mereka sudah mati, siapakah yang masih hidup dari Jama'atu al-Muslimin hari ini?" maka dijawab: " Abu Hamzah as-Sukari adalah jama'ah." Abu Hamzah ini adalah Muhammad bin Maimun al-Marwazi, mendengar dari Abu Hanifah. Oleh karena itu barang siapa beramal menyelesihi para ulama mujtahid ini akan mati dalam keadaan jahiliyah.

  3. Para Sahabat secara khusus, karena mereka yang telah berhasil menegakkan agama ini secara keseluruhan dan meraka adalah orang-orang yang tidak akan bersepakat di atas kesesatan. 'Umar bin 'Abdil Aziz berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Wulatu al-amri (Khalifah-khalifah) sesudahnya telah memberikan tuntunan (sunnah). Mengambil tuntunan itu adalah pembenaran terhadap Kitab ALLAH (al-Quran), penyempurnaan ketaatan kepada ALLAH, kekuatan di atas agama ALLAH. Tidak seorangpun boleh mengganti dan mengubahnya dan tidak pula melihat apapun yang menyelesihinya. Barang siapa mengambil petunjuk dengan tuntunan itu akan mendapat petunjuk barang mengambil pertolongan berdasar tuntunan itu maka akan ditolong (oleh ALLAH), barang siapa menyelisihnya berarti mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman dan ALLAH akan membiarkan dia dalam kesesatannya dan memasukkan dia ke neraka Jahannam dan itulah sejelek-jelak tempat kembali".
    Riwayat ini disampaikan oleh al-Imam Malik dan beliau takjub dan menyetujuinya. Pendapat ini sesuai dengan riwayat lain dari hadis perpecahan ummat tersebut yakni lafadz pengganti al-Jama'ah yaitu:

    ((ما أنا عليه وأصحابي))

    "Apa yang aku dan shahabatku di atasnya …"
    hadis dengan lafadz ini diriwayatkan at-Tirmidzi dalam sunannya dan dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi. Lafadz ini menerangkan makna al-Jama'ah yang tidak lain dasarnya adalah tuntunan yang dipegang dan difahami para shahabat radhiallahu 'anhum.

  4. Jama'atu ahli al-Islam jika mereka berkumpul di atas suatu perkara maka wajib atas yang lain untuk mengikuti mereka. Berkaitan dengan in al-Imam asy-Syafi'i berkata:

    الجماعة لا تكون فيها غفلة عن معنى كتاب ولا سنة ولا قياس، وإنما تكون الغفلة في الفرقة

    "al-Jama'ah tidak mungkin di dalamnya lalai dari makna Kitab (al-Quran) dan Sunnah tidak pula qiyas, kelalaian hanya terjadi pada firqah (sempalan)".
    Beliau bermaksud bahwa jama'ah kaum muslimin adalah orang-orang yang berkumpul dalam satu perkara, karena berkumpulnya mereka terhadap satu perkara menunjukkan kalau perkara itu shahih karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa ummat ini tidak akan bersepakat dalan kesesatan, sedangkan perpecahan dan perselisihan adalah hasil dari kelalalaian (terhadap al-Quran dan as-Sunnah) dan tidak masuk ke makna al-Jama'ah.

  5. Jama'ah kaum muslimin jika bersepakat pada satu amir (pemimpin), maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk melazimi dan menetapi jama'ah tersebut dan melarang berpecah serta meninggalkan jama'ah ini. Ini adalah pendapat al-Imam ath-Thabari. Sesuai hadits :

    ((من جاء إلى أمتي ليفرق جماعتهم فاضربوا عنقه كائنًا من كان))

    "Barangsiapa datang ke ummatku untuk memecah-belah jama'ah mereka maka penggallah lehernya apapun yang terjadi."

Kelima makna al-Jama'ah bisa dirangkum bahwa al-Jama'ah kembali kepada berkumpul dan bersatunya kaum muslimin atas seorang imam yang sesuai al-Quran dan as-Sunnah, sehingga bersatunya manusia di atas selain as-Sunnah di luar makna al-Jama'ah dalam hadis tersebut, sebagaimana orang-orang Khawarij yang keluar dari ketaatan al-Imam 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu dan juga pemahaman para shahabat terhadap al-Quran dan as-Sunnah.

Golongan yang selamat yang dimaksud adalah al-Jama'ah disertai dengan ittiba' sunnah sehingga dinamai Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah. Mereka adalah golongan yang dijanjikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan keselamatan di antara golongan-golongan yang ada. Prinsip mereka adalah ittiba' (mengikuti) sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam aqidah, ibadah, akhlak dan selalu melazimi jama'ah kaum muslimin jika ada, jika tidak ada mereka tetap berpegang pada sunnah dan meninggalkan seluruh golongan yang ada.

Ibnu Abi Syamah berkata: "Ketika datang perintah melazimi jama'ah maka yang dimaksud adalah melazimi kebenaran dan megikutinya walaupun orang yang berpegang pada kebenaran jumlahnya sedikit sedangkan yang menyelesihinya berjumlah banyak, karena kebenaran itulah yang dipegang oleh jama'ah pertama pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan begitu juga pada zaman para shahabat radhiallahu 'anhum, tidak dipedulikan banyaknya orang-orang yang berpegang pada kebathilan setelah mereka.

'Amru bin Maimun yang pernah melazimi Mu'adz bin Jabal dan kemudian 'Abdullah bin Mas'ud pernah mendengar Ibnu Mas'ud berkata: "Tetaplah kalian bersama al-Jama'ah …", sehingga datang suatu zaman diakhirnya shalat dari waktunya maka Ibnu Mas'ud memerintahkan shalat tepat pada waktunya di rumah dan berjama'ah bersama "al-jama'ah" sebagai tambahan (nafilah/sunnah). Maka 'Amru mempertanyakan saran Ibnu Mas'ud ini. Maka Ibnu Mas'ud bertanya: "Apakah engkau mengetahui makna al-Jama'ah?". 'Amru menjawab: "Tidak."

Ibnu Mas'ud berkata:" Sesungguhnya mayoritas al-Jama'ah itulah yang telah meninggalkan al-Jama'ah yang sesungguhnya, sesungguhnya al-Jama'ah itu adalah apa yang sesuai kebenaran walaupun engkau sendirian!"

Nu'aim bin Hammad berkata: "Yaitu jika al-Jama'ah sudah rusak maka tetaplah Engkau dengan apa yang di atasnya al-Jama'ah sebelum rusak, walaupun dirimu sendirian maka Engkau adalah al-Jama'ah pada saat itu". Ini adalah ucapan yang luar biasa jelas, sebab kebenaran tidak dilihat dari banyaknya pengikut akan tetapi dilihat dari sejauh mana iltizam dan melazimi agama Allah Ta'ala, tidak dilihat dari banyak atau sedikitnya.

Kemudian kadang-kadang mereka yakni para Shahabat dan juga orang-orang generasi awal yang mengikuti mereka berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah yakni Islam yang murni sering disebut dengan istilah salaf. Apa makna dan maksud salaf di sini?

Salaf

Istilah "سلف " secara bahasa adalah bentuk plural atau jamak dari " سالف " yang bermakna orang yang mendahului, sehingga salaf bermakna kumpulan orang-orang yang telah mendahului, sebagaimana kata salaf dalam al-Quran:

{فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلآخِرِينَ} (الزخرف: 56).

"dan Kami jadikan mereka sebagai 'salaf' dan contoh bagi orang-orang yang datang kemudian." Kata 'salaf' di ayat tersebut adalah para pendahulu sebagai pelajaran untuk diambil 'ibrahnya.

Makna salaf secara istilah terdapat beberapa pendapat:

  1. salaf adalah para shahabat saja, ini pendapat para pensyarah kitab ar-Risalah oleh Ibnu Abi Zaid al-Qairawani.
  2. salaf adalah para shahabat dan tabi'in, ini pendapat Abu Hamid al-Ghazzali.
  3. salaf adalah para shahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in, yakni tiga generasi yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kebaikan dalam hadis 'Imran bin Hushain yakni:

    "خير أمتي قرني، ثم الذي يلونهم، ثم الذين يلونهم" .

    " Sebaik-baik ummatku adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka" (HR al-Bukhari)

Pendapat ini dipegang banyak 'ulama seperti asy-Syaukani, as-Safarini, Ibnu Taimiyah, dan yang lain. Sebagian 'ulama seperti al-Imam al-Ajuri memasukkan generasi sesudahnya seperti al-Imam Ahmad, al-Imam asy-Syafi'i, Ishaq, Abu 'Ubaid dan lainnya yakni aqran mereka ('ulama sezaman dan seumuran mereka) ke dalam istilah salaf.

Tentu saja salaf yang dimaksud bukan hanya pembatasan masa atau generasi akan tetapi kembali ke makna al-Jama'ah yakni ahlu as-sunnah wa al-jama'ah di mana salaf yang dimaksud adalah generasi shahabat, tab'in, tabi'ut tabi'in yang berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah, sebab munculnya bid'ah Khawarij dan Rafidhah masih di masa tiga generasi tersebut. Kenapa dibatasi hanya tiga generasi awal, sebab setelah itu jumlah firqah dan kelompok-kelompok menyimpang mulai banyak dan leluasa di antaranya pada zaman al-Imam Ahmad di mana mu'tazilah berhasil mempengaruhi kekuasaan yaknik khalifah untuk menyebarkan faham al-Quran makhluk kepada ummat Islam dengan paksa. Sehingga madzhab atau pemahaman salaf itu tidak lain pemahaman al-Jama'ah yakni pemahaman golongan yang selamat.

Al-Imam as-Safarini berkata: "Maksud dari madzhab as-salaf yaitu apa yang para shahabat yang mulia di atasnya dan juga para tabi'in (pengikut shahabat dengan cara yang baik), pengikut tabi'in, para imam agama ini yang diakui ke-imamannya dan perhatiannya kepada agama ini, dan manusia menerima ucapan-ucapan mereka sebagai pengganti para salaf, bukan orang yang dicap dengan bid'ah atau terkenal dengan gelar yang tidak diridhai seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murjiah, Jabriyah, Jahmiyah, Mu'tazilah, Karramiyah dan semacamnya".

Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan para 'ulama yang senada dengan beliau yang tidak cukup disebutkan dalam tulisan yang singkat ini.

Ahlul Hadits dan Ath Tha'ifah Al Manshurah

Ada beberapa sebutan lain dari al-Jama'ah sebagai golongan yang selamat selain nama ahlu as-sunnah wa al-jama'ah dan salaf, yakni ahlu al-hadis dan ath-tha'ifah al-manshurah. Makna yang dimaksud " أهل الحديث " bukanlah para pakar hadis baik sisi riwayat atau dirayah saja tapi yang dimaksud adalah orang-orang yang menempuh jalan orang-orang shalih dan mengikuti jejak para salaf di mana mereka mempunyai perhatian khusus dengan hadis-hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baik dalam mengumpulkan, menjaga, meriwayatkan, memahami dan mengamalkan dzahir dan bathin, maka dengan itu mereka menjadi orang-orang yang paling melazimi sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mendahului sunnah-sunnah dengan akal, hawa nafsu atau membuat bid'ah apapun keadaannya.

Makna istilah ahli hadis telah mengalami perubahan dari zaman ke zaman, akan tetapi makna ahli hadis yang dimaksud bukanlah makna ahli hadis zaman sekarang yang berarti sekelompuk ilmuwan atau ulama yang bergelut di bidang hadis riwayat dan dirayat akan tetapi makna ahli hadis harus dikembalikan ke makna munculnya istilah ini sebagai nama lain dari al-Jama'ah atau dengan kata lain istilah ahli hadits harus dikembalikan dalam pembahasan 'aqidah dengan merujuk kepada kitab-kitab 'aqidah salaf seperti "Aqidatu as-Salaf Ashabi al-Hadits" oleh Abu 'Utsman ash-Shabuni, juga "I'tiqad Aimmati al-Hadits" oleh Abu Bakar al-Isma'ili dan semacamnya bukan merujuk kepada kitab-kitab musthalah al-hadits. Sebab tidak mungkin hanya sekedar pakar dalam ilmu hadis menyebabkan seseorang menjadi golongan yang selamat.

Apabila dikembalikan dalam pembahasan 'aqidah maka istilah ahlu as-sunnah akan sama dengan ahlu al-hadits. Akan tetapi jika dikembalikan pembahasan ilmu musthalah hadits maka ahlu as-sunnah berbeda dengan ahlu al-hadits.

Ibnu ash-Shalah ditanya tentang perbedaan antara as-sunnah dengan al-hadits tentang perkataan sebagian 'ulama tentang al-Imam Malik bahwa beliau mengumpulkan antara as-sunnah dengan al-hadits (yakni ahlu as-sunnah sekaligus ahlu al-hadits), maka beliau menjawab: "As-sunnah adalah lawan dari al-bid'ah, kadang-kadang seseorang termasuk ahlu al-hadits tapi dia ahlu al-bid'ah sedangkan Malik mengumpulkan dua sunnah, yakni beliau sangat mengetahui sunnah (yakni hadits) dan ber'aqidah sunnah (yakni madzhab (aqidah) nya adalah madzhab yagn ahlu al-haq bukan bid'ah)".

Mereka disebut ahlu al-hadits karena mereka pembawa sunnah dan orang yang paling dekat kepada sunnah, dan mereka adalah pewaris Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan penukil sunnah-nya, ahlu al-bid'ah di antara mereka sangat sedikit, sebagian besar dari mereka adalah mengikuti atau ittiba' bukan ibtida' yakni berbuat bid'ah.

Sehingga jika disebut ahlu al-hadits dalam kitab-kitab 'aqidah maka yang dimaksud adalah ahlu al-hadits dalam riwayat dan dirayah dan ittiba', tidak hanya sekedar mendengar, menulis dan meriwayatkan hadits tanpa ittiba'. Sehingga maksud ahlu al-hadits adalah ahlu as-sunnah secara muthlaq khususnya dalam kitab-kitab 'aqidah dari para salaf.

Sedangkan penamaan yang lain yakni " الطائفة المنصورة " yang bermakna "Golongan yang ditolong". Penamaan ini berasal dari hadits:

(( لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حتى يأتيهم أمر الله وهم ظاهرون))

"Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang selalu tegak (di atas kebenaran) sehingga datang kepada mereka perintah ALLAH dan mereka tetap tegak (di atas kebenaran)". (HR al-Bukhari)

(( لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي منصورين، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حتى تقوم الساعة))

"Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang ditolong, tidak memudharatkan mereka orang-orang yang menjatuhkan mereka sehingga tegaklah hari kiamat." (HR at-Tirmidzi, beliau berkata hasan shahih, dan dishahihkan al-Albani)

Para salaf telah menjelaskan maksud gelar ini (thaifah manshurah), 'Abdullah bin al-Mubarak berkata: "Mereka menurutku adalah ashabu al-hadits." Maksud ashabu al-hadits adalah ahlu al-hadits yakni ahlu as-sunnah.

Yazid bin Harun berkata: "Jika mereka bukan ashabu al-hadits maka saya tidak tahu siapa lagi mereka itu."

'Ali bin al-Madini berkata: "Mereka adalah ashabu al-hadits".

al-Imam Ahmad berkata: "Jika golongan yang ditolong ini bukan ashabu al-hadits maka saya tidak tahu lagi siapa mereka itu."

al-Bukhari berkata: "Mereka adalah ahlu al-'ilmi ('ulama)."

dalam riwayat lain dari al-Khatib al-Baghdadi, al-Bukhari berkata: "Mereka ashabu al-hadits", tentu saja ini tidak bertentangan sebab ahlu al-hadits termasuk ahlu al-'ilmi ('ulama).

Ahmad bin Sinan berkata: "Mereka ahlu al-'ilmi dan ashabu al-atsar". Ahlu al-atsar yang dimaksud sama dengan ahlu al-hadits.

Kenapa ahlu al-hadits adalah golongan yang paling berhak mendapat pertolongan dan kemenangan dari ALLAH? Sebab mereka menolong sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, mengamalkannya, dan membelanya sehingga mereka orang yang paling layak mendapat gelar "thaifah manshurah" sebagaimana kata Abu 'Abdillah al-Hakim: "Sungguh Ahmad bin Hambal sangat tepat dalam tafsir khabar ini bahwa ath-Thaifah al-Manshurah yang diangkat dari mereka pengkhianatan sampai hari kiamat adalah ashabu al-hadits …"

Maksud ahlu al-hadits di sini adalah ahlu as-sunnah sebagaimana telah dijelaskan.

al-Qadhi 'Iyadh berkata: "Sesungguhnya Ahmad bermaksud (dari ashabu al-hadits) adalah ahlu as-sunnah wa al-jama'ah dan siapapyn yang beraqidah dengan madzhab ahlu al-hadits".

Sehingga jelas sekali bahwa ahlu al-hadits menurut tafsir para salaf terhadap ath-Thaifah al-Manshurah adalah Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah, merekalah golongan yang ditolong, oleh karena itu banyak didapatkan dalam kitab-kitab 'aqidah pemutlakan nama ath-Thaifah al-Manshurah atas nama Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah.

Meskipun dalam beberapa riwayat disebut letak golongan yang ditolong ini di daerah Syam, tidak berarti membatasi hanya di Syam saja akan tetapi dalam suatu masa mereka ini yakni golongan yang ditolong ini ada di Syam di mana pada masa yang lain bisa di Hijaz maupu di Mesir atau tempat-tempat lain, ALLAH a'lam.

Metode penerimaan ilmu agama

Sumber ilmu mereka baik dalam 'aqidah, 'ibadah, mu'amalah, akhlak dan seluruh cabang-cabang syari'ah adalah hanya dari al-Quran dan as-Sunnah.

Menurut ahlu as-sunnah tidak ada yang maksum kecuali Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semua perkataan siapapun boleh diambil atau ditinggalkan kecuali perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Perkataan imam-imam mereka mengikuti perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan sebaliknya.

Oleh karena itu tampak pada diri mereka iltizam dan selalu mengikuti sunnah sebagaimana jama'ah pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yakni para shahabat radhiallahu 'anhum dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka. Mereka tidak menerima ijtihad atau pendapat apapun kecuali setelah ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah serta ijma' salaf.

Ahlu as-sunnah wa al-jama'ah tidaklah bersikap kecuali dengan ilmu dan akhlak para as-salafu ash-shalih dan orang-orang yang mengambi dari mereka dan melazimi jama'ah mereka. Hal itu disebabkan karena para shahabat radhiallahu 'anhum belajar tafsir al-Quran dan al-Hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka mengajarkan kepada para tabi'in dan mereka tidak pernah sama sekali mendahului ALLAH dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak dengan pendapat, tidak pula perasaan, tidak pula akal, tidak pula yang lainnya.

ALLAH telah memuji mereka dalam al-Quran:

{ وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} (التوبة: 100)

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."

Maka ALLAH menjadikan pengikut mereka dengan baik mendapat ridha dan surga-Nya. Maka barang siapa mengikuti as-sabiqun al-awwalun maka termasuk golongan mereka dan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi karena ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia dan para shahabat pada hakikatnya adalah sebaik-baik ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ahlu as-Sunnah adalah ahlu at-tawassuth wa al-i'tidal (ummat pertengahan dan moderat)

Ummat Islam adalah sebaik-baik ummat sebagaimana firman ALLAH ta'ala:

}كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ) {آل عمران: من الآية: 110)

"Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia" (QS: Ali Imran:110)

mereka juga ummat pertengahan sebagaimana firman-Nya:

}وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا) {البقرة: من الآية: 142.(

"demikianlah Kami jadi kalian umat yang pertengahan"

Ummat Islam adalah sebaik-baik ummat dari seluruh ummat agama lain sehingga Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah adalah sebaik-baik ummat dari ummat Islam karena kebaikan ummat Islam adalah karena mereke berpegang dan mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah sedangkan Ahlus as-Sunnah adalah golongan yang paling berpegang kepada al-Quran dan as-Sunnah sebagaimana para shahabat radhiallahu 'anhum sehingga merekalah sebaik-baik golongan dari ummat Islam.

Sifat pertengahan Ahlu as-Sunnah tampak pada ciri-ciri dan sifat mereka yakni:

  • Pertengahan dalam bab sifat-sifat ALLAH Ta'ala di antara orang-orang yang menta'thilnya (menolak) seperti Jahmiyah dan orang-orang yang menyerupakannya dengan sifat makhluk (tamtsil).
  • Pertengahan dalam bab perbuatan hamba-hamba-Nya di antara Jabriyah (menganggap hamba-hamba-Nya dipaksa tanpa kehendak sama sekali) dan Qadariyah (menolak adanya takdir).
  • Pertengahan dalam bab janji dan ancaman ALLAH Ta'ala di antara Murji'ah dengan Khawarij serta Mu'tazilah.
  • Pertengahan dalam bab sikap terhadap para shahabat di antara orang-orang yang berlebihan dengan beberapa shahabat dengan orang-orang mengkafirkan mereka.
  • Pertengahan dalam bab 'aql dan naql.

Selain sifat-sifat tersebut, maka Ahlu-as-Sunnah mempunyai ciri-ciri berupak akhlak mulia seperti bersabar terhadap musibah, bersyukur ketika diberi kelapangan, ridha ketika dengan takdir yang buruk. Mengajak menyempurnakan ibadah dan akhlak yang mulia. Amar ma'ruf dan nahi munkar juga merupakan ciri-ciri khas Ahlu as-Sunnah wa al-Jama'ah.

Pembahasan rinci sifat-sifat tersebut ada dalam kitab-kitab 'aqidah, 'ibadah dan akhlak yang ditulis oleh para ulama Ahlu as-Sunnah dari zaman ke zaman.

ALLAH a'lam

***

.
SUMBER Muslim.Or.Id




[ Read More ]

Mutiara Islam : Waspadalah dengan sekecil apapun kesombongan

Sesungguhnya iblis mampu memanfaatkan sekecil apapun kesombongan dalam hati seorang manusia baik itu alim dan ahli ibadah kemudian membinasakan mereka dengan kesombongan itu. tidak jarang alim dan abid yang mati kufur karena kesombongannya sendiri. kenapa iblis itu cerdik dan sangat pengalaman. jangankan kita orang awam. ahli ibadah saja mati kafir akibat digoda iblis. setahu kami iblis itu dulu adalah mantan pemimpin malaikat yang juga hancur akibat kesombongannya sendiri. bahkan dia pernah sujud 70000 tahun sampai tak tersisa sejengkal tanah pun dibumi dari bekas jidat iblis laknatullah. jadi kita manusia memang belum ada apa apanya dibandingkan kekusyukan ibadah iblis dimasa lalu. tapi sayang hancur akibat kesombongannya sendiri. hal itu terbukti ketika adam diciptakan dan seluruh mahluk diperintahkan sujud tapi hanya iblis yang tak mau sujud karena merasa mulia dari adam yang diciptakan dari tanah.

kembali kepada hadits nabi saw. tak ada kesombongan sebesar biji sawipun didalam hatinya melainkan ia masuk neraka.

(ashabul muslimin)

[ Read More ]

Selamat idul fitri 1437 hijriyah

Kami ashabul muslimin mengucapkan selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin. semoga amalan kita diterima Allah swt amin

[ Read More ]

Mutiara islam : Nasehat untuk remaja aktivis dakwah

 wahai para pemuda pemudi harapan bangsa dan agama. luruskan niat kalian kepada Allah ketika belajar agama dan ilmu dunia supaya barokah ilmunya dan berpahala. janganlah kalian menjadi ihwan ahwat genit yang mengaku aktivis masjid namun kalian ketika ada acara kegiatan masjid hanya untuk lirik sana lirik sini mengumbar pandangan kepada lawan jenis. tebar pesona ahirnya kalian bukannya dapat ilmu dan pahala malah dosa karena melakukan perbuatan yg mendekati zina. apalagi masjid adalah tempat yang suci. janganlah kalian berbuat seenaknya dirumah Allah Swt. sesungguhnya tak ada yg mampu lepas dari godaan setan tidak terkecuali alim dan abid kecuali semua yang ihlas karena Allah. kegiatan yg baik amalan yg baik tidak berguna jika tidak ada niat yang baik dan cara yang baik pula. 

Ashabul Muslimin
[ Read More ]

syair islam : hidup murah yang mahal itu gengsinya




hidup ini murah, yang mahal gengsinya
anda makan direstoran mahal
orang lain makan di warung pinggir jalan
rasanya sama, makanannya pun sama
nasi yang ada lauk pauknya
keluarnya juga sama
jadi kotoran yang tidak enak baunya
jadi kenapa anda merasa lebih nyaman direstoran
yang mahal harganya
yang kaya raya pemiliknya
apakah semua itu timbul dari rasa gengsi diri
yang tidak peka kehidupan sosialisasi
andai anda membeli makan diwarung pinggir jalan
itu sama saja anda bersedekah kepada orang kecil
yang belum tentu kehidupannya seenak anda
yang hidupnya pas-pasan
yang berjuang untuk keluarga demi sesuap nasi
untuk biaya pendidikan anaknya
demi masa depan nanti

anda beli baju di mall
orang lain beli baju dipinggir jalan
bahannya sama kain, dipakai rasanya juga sama
merknya kadang juga sama
tapi berbeda soal harga
anda mungkin lebih baik menyumbang untuk klongo merat
daripada membeli dagangan orang melarat
yang nasib hidupnya hampir sekarat
berjuang demi keluarga
berjuang mencari harta
agar bisa hidup normal
seperti manusia lainnya

anda tamasya keluar negri
dan berhaji berkali-kali
supaya terkesan mewah bergensi
tapi anda tak pernah berpikir
banyak anak jalanan yang berjuang
antara hidup dan mati
demi sesuap nasi
demi mempertahankan hidup
yang sementara ini

banyak pula anak yatim piatu
yang sudah tak punya orang tua
untuk menanggung hidup mereka
terkadang banyak pula diantaranya,
jadi pengemis dan gelandangan

mampukah anda orang kaya melihat sekitarnya
dapatkah anda orang kaya menyadari
hidup anda selalu diatas mereka
dan bisakah anda orang  kaya
mensyukuri keadaan anda
dengan mendermakan sebagian rezeki
demi senyuman kecil diwajah mereka

lebih baik punya satu kendaraan tapi bermanfaat
untuk menemani aktivitas sehari-hari
daripada punya banyak mobil ferrari
harga miliaran tak terhitung lagi
tapi hanya terparkir digarasi
apakah orang seperti ini
cuman sekedar menuruti gengsi
atau cuman jadi budak nafsu duniawi

apakah ia tidak pernah berfikir
segala yang ia punya bakal binasa
kenapa tidak pernah berfikir
kelebihan harta untuk investasi ahirat saja
ia gunakan untuk menyantuni anak yatim
dan membantu fakir miskin
itu justru akan membuat ia lebih bahagia
didunia dan ahiratnya
sementara keadaan ia sebaliknya
semakin kaya semakin dibudak dunia
semakin kaya ia hamburkan hartanya
tapi kenapa ia merasa
hidup ia tak pernah bahagia
merasa sendiri dan selalu merana
seakan akan dikejar kejar musuh
itulah dunia semakin dituruti
semakin menuntut orangnya
sehingga ia stress lupa diri
tidak jarang orang kaya
ahir kematiannya bunuh diri
sungguh kita berlindung kepada Allah
kepada yang demikian
supaya selamat diahirat nanti


BY : M.A Samaaun
(pembina dan admin Ashabul Muslimin)
[ Read More ]

SEBUAH KETELADANAN ZUHUD DARI RASULULLAH SAW


SEBUAH KETELADANAN ZUHUD DARI RASULULLAH SAW




Oleh : M.A. Samaaun


Ternyata problem rumah tangga tidak hanya dihadapi orang awam pada umumnya saja, karena Rasulullah saw juga merasakan yang sama dengan kita yang kadang berselisih dengan istri kita.  Suatu ketika karena ada suatu permasalahan, Nabi Muhammad SAW telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi.


Hal ini kemudian tersebar kepada kalangan sahabat nabi saw dan muncul desas desus Nabi saw telah menceraikan semua istrinya padahal hanya ingin menjauhi mereka selama sebulan saja. Ketika Umar bin Khathab mendengar kabar ini, segera ia berlari ke masjid. Setiba di sana, dia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka juga bersedih dan menangis. Kaum wanita juga menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian, Umar pergi menemui putrinya, Hafsah yang telah dinikahi Nabi. Umar mendapati Hafsah sedang menangis di kamarnya.


Ia bertanya kepada anaknya yang bernama Hafsah, salah satu istri Rasulullah saw "Mengapa engkau menangis? Bukankah selama ini saya telah melarangmu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi?" Hafsah tak menjawab apa-apa, ia terus menangis. Umar kembali ke masjid. Terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di mimbar. Kemudian, ia duduk bersama para sahabat, lalu ia berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad yang terletak di tingkat atas masjid.


Umar kemudian bertemu Rabah dan dia minta izin untuk menemui Nabi. Rabah menghampiri Nabi dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan pesan Umar apakah bisa menemuia beliau. Tapi, Nabi hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Permintaan untuk menjumpai Nabi diulang. Baru setelah permintaan yang ketiga kalinya, Nabi Muhammad mengizinkan Umar naik ke atas. Ketika Umar masuk, dia menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma. Terlihat jelas bekas daun kurma pada badan Nabi yang putih bersih. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.


Selepas mengucapkan salam kepada beliau, Umar bertanya, "Apakah engkau telah menceraikan istri-istri engkau, ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Tidak." Umar sedikit lega, sambil bercanda untuk menghibur Nabi saw  ia mengatakan, "Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah membuat patuh wanita-wanita kita. Tetapi, setelah hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang Anshar. Mereka telah justru dikuasai kehendaknya oleh  wanita-wanita mereka, sehingga wanita-wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan mereka."


Nabi SAW tersenyum mendengar perkataan Umar. Umar lalu memperhatikan keadaan kamar Nabi. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu, selain itu tidak terdapat apa pun. Umar menangis sampai senggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu. Tiba-tiba Rasulullah bertanya kepada Umar, "Mengapa engkau menangis?"


"Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasululah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengkaruniakan kepada engkau  bekal yang lebih banyak," jawab Umar. Ia mengatakan, orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan Rasul, hidup dalam keadaan sangat miskin.


Mendengar jawaban Umar, Rasulullah berkata, "Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini."


Beliau menambahkan, jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, umat Islam pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana, kita akan mendapatkan segala-galanya. Mendengar sabda Nabi, Umar menyesal. Lalu, ia berkata, "Ya Rasulullah, memohonlah ampun kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini."



Amanat / Hikmah dari kisah Rasulullah saw



- Zuhud adalah salah satu akhlaq terpuji yang patut kita contoh dalam kehidupan kita karena dengan sifat zuhud kita mampu membersihkan diri kita dari kotoran duniawi yang melenakan hati dari mengingat datangnya mati.



- Begitulah wujud kecintaan para sahabat Nabi saw, ketika nabi saw mengalami suatu masalah mereka pun ikut bersedih, seakan-akan merasakan apa yang Rasulullah saw rasakan, dalam suatu hadits pernah disebutkan, kecintaan kepada Allah dan RasulNya bisa memasukkan kedalam surga walau amal tak seberapa, karena sabda nabi saw sesungguhnya seseorang bersama orang yang dicintainya diahirat nanti?.



- Dan sekedar amanat dan nasehat untuk kita tentang zuhud kepada dunia sangat penting, bayangkan kita semua pasti ingin bergelimang harta bukan? dan hidup mewah dan enak didunia tanpa merasa menderita dan ahiratpun ingin masuk surga? siapa pun pasti juga mau yang seperti ini tapi apakah kita tidak berfikir? Rasulullah saw saja yang PASTI masuk surga kehidupannya sedemikian sederhana apa adanya, tidak pernah membanggakan harta, semua hartanya kadang ia sedekahkan. Lihatlah tempat alas tidur rasul saw dari pelepah daun kurma dan dedaunan kering? sementara kita beralas tidur mewah spring bed, tidur sampai ngiler lupa waktu sholat. memanglah kenikmatan dunia selalu membuat orang lupa



- kita patut menangisi kenaifan diri kita yang terlalu berharap masuk surga sementara kita sendiri masih mencintai dunia, padahal semakin manusia cinta dunia semakin ia lupa ahirat, hidup manusia kalau sudah cinta dunia ia hanya ingin hidup serba mewah bak raja segala kehidupannya terpenuhi apa yang ia inginkan tercapai tapi manusia akan tertutup mata hatinya ia akan menjadi sombong, angkuh dan semakin kaya semakin pelit, itulah rumus kehidupan dunia "semakin manusia kaya, semakin tumbuh sifat pelit dalam dirinya, karena semakin ia banyak harta semakin manusia mencintainya tak ingin sedikitpun kehilangan hartanya,"



- Hidup Manusia yang bergelimang harta, segala kehidupannya terpenuhi lahir dari keluarga terpandang, dikaruniai fisik yang sempurna terkadang membuat ia lupa diri, bangga diri dan tidak peka terhadap orang lain yang kehidupannya jauh lebih buruk daripada dia, yang hidupnya terlunta-lunta, terkadang untuk makan sehari-hari pun belum tentu ada. sehingga manusia macam ini jika tidak mempunyai ilmu agama yang cukup adalah semakin kaya semakin tidak bersyukur, semakin tidak peduli keadaan sosial, semakin angkuh, bangga diri lupa mati, tidak mau sedekah apalagi berzakat, akibatnya semua hartanya hanya akan jadi timah panas yang membakarnya dineraka.



- mungkin sebagai gambaran contoh kecil saja adalah kehidupan artis sinetron yang mengajarkan kehidupan glamour, berumah mewah bermobil mewah, punya istri cantik, kerjanya enak ngantor duduk pakai dasi, gaji gede, itulah yang diajarkan panutan sesat televisi jaman sekarang mengilusi penontonnya sehingga jadi pendamba dunia, dikibuli oleh angan-angan kosong, sehingga lupa bahwa hidup ini sementara, padahal kita harus memperjuangkan hidup ini mati-matian dengan cara yang halal dan pasti penuh rintangan onad duri ujian dan cobaan, jika ingin sukses dunia dan ahirat.



- Kemudian ada yang bertanya dan beranggapan salah, apakah kalau begitu umat islam itu tidak boleh kaya? tentu saja sangat boleh, karena sahabat Nabi saw yang bernama abdurrohman bin auf adalah salah satu contohnya, kaya tapi beriman ia gunakan sebagian besar kekayaannya untuk berjuang dijalan Allah SWT, bukan untuk bermegah-megahan didunia sambil membanggakan diri menghina orang miskin, gemar mencari pujian dan penghormatan dan sebagainya.



- Seperti kata ulama terkenal "Zuhud bukan berarti kita tidak memiliki apa-apa, tapi zuhud adalah kita tidak dikuasai oleh apa yang kita punya". maksudnya adalah kita boleh memiliki banyak harta tetapi jangan sampai kita dibuat lupa olehnya sehingga lalai akan aturan agama, hidup didunia ini sementara, seperti orang berteduh di perjalanan jauh, cuman singgah saja, kalaupun mati semua yang kita punya, Istri, anak, harta kekayaan, pangkat jabatan semuanya tak ada yang menemani perjalanan kita menuju alam barzah yang sangat gelap dan dingin, yang menemani adalah amal perbuatan kita selama hidup didunia.



 Kebanyakan orang sukses adalah yang masa mudanya prihatin, orang lain sibuk hura-hura ia sibuk belajar, orang lain sibuk menikmati masa muda masa yaitu masa paling indah untuk pacaran, nongkrong, dan perbuatan mudorot lainnya ia gunakan untuk belajar agama , orang lain sibuk dengan mainan mereka chatingan lewat hape android pake bbm dan sebagainya ia sibukkkan diri membantu pekerjaan orang tua. wahai saudaraku para remaja, sukses itu tidak hanya berarti kita bergelimang harta, tapi sukses itu bisa diartikan juga kita menjadi pribadi yang dewasa dan punya sifat kemandirian yang dewasa, mampu menyikapi segala hal dengan akal yang berwawasan luas. sehingga segala sesuatu akan ia serahkan kepada Allah sang pemiliki solusi dan masalah. berbeda dengan orang yang belum pernah belajar zuhud sejak masa muda ketika masalah rumah tangga melanda ia melarikan diri kepada miras, main perempuan, berjudi, hura-hura,narkoba dan sebagainya yang semua itu akan membinasakan dia diahir kehidupannya.



Terahir nasihat kepada para pemuda supaya berlatih zuhud sedari sekarang supaya masa tua nanti kita jadi orang yang punya bekal untuk menamengi diri dari godaan dunia, belajarlah dengan tekun, jangan ikutan gengsi teman-temanmu yang bersekolah harus naik motor atau diantar pakai mobil lebih baik jalan kaki dan bersepeda selain sehat juga melatih mental kita menumbuhkan rasa prihatin sejak dini. berlatih menabung, hemat tidak boros-borosan dalam membelanjakan uang saku juga termasuk perilaku menumbuhkan sifat zuhud. seorang pelajar yang tidak punya rasa zuhud sedikitpun dalam hatinya ia tidak akan mampu mensyukuri apa yang ia beri dari orang tua, semisal minta tambahan uang saku, menuntut beli ini beli itu dan sebagainya. kasihan orang tua kita apalagi jika orang tua kita termasuk keluarga tidak mampu apakah itu tidak sama saja dengan mencekik leher orang tuamu? bayangkanlah ketika kamu nanti jadi orang tua dan anakmu bukan anak yang pandai bersyukur dan suka menuntut apakah itu tidak menyakiti hati orang tuamu?


Refrensi : Koran Republika

[ Read More ]

Nasehat Islam : Hikmah diciptakan sakit


Sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

Sakit itu muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu jihad. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.

sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

Sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.

Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

Sakit itu gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoaka oleh mereka.

Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.

Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit.

(Ashabul Muslimin)
[ Read More ]

    close
    Banner iklan disini

    Kunjungan Anda

    Total Tayangan Halaman