berbagi pengetahuan tentang Islam diakhir zaman.بِـسْـمِ اللهِ

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Jangan Anggap Enteng

Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Seorang ibu, ketika agenda sosialisasi Indonesia Berjamaah, dengan
programnya Ekonomi Berjamaah, ditanya. "Apa ibu ada uang cash?"

Ibu itu menjawab sambil tersipu. Beliau tidak pede. Bisa ditebak. Sebab
beliau merasa uangnya tidak banyak. "Rp 500 ribu paling Ustadz," Kata ibu
ini sambil tersenyum malu.

Saya kemudian mengingatkan ibu ini dan jamaah semua, jangan anggap enteng
duit Rp 500 ribu itu. Benar tidak cuma Rp 500 ribu? Duit itu di bank ada
jutaan orang yang duitnya Rp 500 ribu. Bila 10 juta orang?
5.000.000.000.000. Atau senilai lima Triliun Rupiah.

Apa artinya lima Triliun Rupiah itu? Rp 5 T itu buesar dan buanyak
buanget. Satu hotel bintang dua, dengan kira-kira 50-100 kamar, kira-kira
Rp 40-50 milyar.

Itu berarti 100 hotel. Malah dengan skema DP duluan, kerja-kerjasama,
maka bisa bangun 300-500 hotel. Bila satu hotel 50-100 karyawan, itu
artinya puluhan ribu orang bisa bekerja. Subhaanallaah.

Apa artinya Rp 5 Triliun? Satu pesawat boeing 737-500 dengan engine baru,
interior baru, plus beberapa cost operasional awal, kira-kira Rp 75
miliar.

Anggap Rp 100 Miliar. Maka duit ibu tadi, yang bergabung dengan 10 juta
ibu-ibu yang lain, dapat 50 pesawat. Padahal, satu maskapai yang sudah
berusia 10 tahun di Indonesia, baru punya 38 pesawat.

Dan uang itu bisa dipecah-pecah jadi berbagai usaha strategis,
menguntungkan, aman, dan safety. Bisa masuk ke industri rumah sakit,
farmasi, pertanian, perkebunan, properti besar lain, dll.

Apalagi, kenyataan, belum tentu uang ibu ini hanya Rp 500 ribu. Belum
tentu. Ibu ini ternyata pake gelang, cincin, kalung, dari emas. Nilainya
kira-kira Rp 2-5 jutaan plus tabungan kira-kira Rp 5 juta. Itu uang cash.

Belum lagi motornya. Belum lagi suaminya, mungkin juga anaknya. Ibu ini
punya anak, yang kalau dilucuti emasnya, ya ada juga Rp 500 ribu sampai
Rp 1 juta atau Rp 2 juta.

Iseng saya paparkan, ternyata secara bercanda, dari model ibu seperti
yang saya tanya, bisa dapat Rp 55 Triliun. Artinya apa? Sektor ekonomi
akan bergerak. Ekonomi riil.

Dan dengan spirit gotong royong, potensi dana ibu ini, tidak dipakai
untuk membiayai orang-orang kaya hingga semakin kaya, tapi ibu ini dan
jutaan orang lain, akan mendapatkan peluang lebih dari kekuatan dananya.

Yusuf Mansur tidak punya teori kebanyakan. Cuma melihat potensi ini, dan
mengajak kawan-kawan untuk bersatu, bergerak, dan menggerakkan.

Dan kita tetap bisa bekerjasama dengan yang lain. Hanya, dalam keadaan
kita bukan lagi sebagai obyek. Tapi sudah setara. Sama-sama punya peluang
dan kesempatan. Insya Allah berkah.

Maka tidak salah jika saya menyeru diri saya dan sebanyak-banyaknya
orang, bersatulah. Berjamaahlah. Insya Allah kita akan jadi kuat dan bisa
punya peran dan manfaat lebih.

Redaktur : Damanhuri Zuhri
Sumber Minggu, 01 September 2013,
REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Menanti Pemimpin Rabbani

Oleh M Husnaini

Kisah tentang Said bin Amir Al-Jumahi begitu populer. Gubernur Homs,
Suriah, pada masa Khalifah Umar bin Khattab itu memang sosok pemimpin
yang disegani dan dicintai rakyatnya. Tidak tersisa ruang di hati dan
pikirannya kecuali urusan kemajuan rakyat yang dipimpinnya. Tidak heran,
Khalifah Umar bin Khattab sangat menaruh hormat kepadanya.

Tidak lama setelah melantik Said menjadi gubernur, Umar berkunjung ke
Homs untuk memantau keadaan. Tentu saja kedatangan Umar disambut gembira
oleh seluruh penduduk Homs. Mereka lalu bergantian menyalaminya. Tetapi,
tiba-tiba Umar dikejutkan dengan pengaduan sejumlah penduduk Homs perihal
Said. "Bagaimana dengan gubernur kalian"? tanya Umar.

"Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika siang sudah naik," kata
salah seorang di antara mereka. "Dia tidak mau menerima tamu di malam
hari," protes orang kedua. "Dia tidak keluar menemui kami sehari dalam
setiap bulan," kata yang lain.

Sebagai pemimpin yang bijak, Umar kemudian mengklarifikasi semua keluhan
kepada Gubernur Said. "Apa jawabanmu, Said?" Said diam sejenak kemudian
berkata, "Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan ini. Tetapi
memang harus dikatakan. Keluargaku tidak punya pembantu. Setiap pagi aku
menyiapkan adonan, dan menunggunya sampai mengembang untuk aku jadikan
roti buat mereka, kemudian aku berwudhu dan keluar menemui masyarakat."

"Lantas bagaimana penjelasanmu tentang keluhan kedua?" kata Umar. Said
menjawab, "Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan ini. Sesungguhnya
aku jadikan siang hari untuk mereka, dan malam hari untuk Allah."

"Tanggapanmu terhadap keluhan ketiga?" lanjut Umar. "Demi Allah, aku juga
malu mengatakan ini. Aku tidak punya pakaian selain yang melekat di
tubuhku ini. Karena itu, aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan
menunggunya sampai kering, baru kemudian aku keluar di sore hari."

Subhanallah. Mungkinkah masih ada pemimpin di zaman sekarang yang mau dan
mampu meneladani sosok Gubernur Said? Kesederhanaannya sungguh luar
biasa, kedekatannya dengan umat sukar dicari tandingannya, tetapi dia
tetap memiliki jeda waktu untuk berintim dengan Tuhan. Itulah pemimpin
hebat dalam arti sebenarnya. Sosok demikian saya sebut sebagai Pemimpin
Rabbani.

Pemimpin Rabbani tidak hanya menjalin relasi baik dengan umat, tetapi
juga selalu meluangkan waktu untuk membangun hubungan intim dengan
Tuhannya. Hatinya lembut dan gampang tersentuh oleh kondisi umatnya.
Sudah pasti, pemimpin yang paling Rabbani adalah Rasulullah SAW,
sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 128.

"Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, terasa
berat olehnya penderitaan kamu, sangat menginginkan keimanan dan
keselamatan bagi kamu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin." (QS At-Taubah: 128).

Rasulullah memang teladan paling paripurna dalam segala perilaku
kehidupan. Sebagaimana pribadi panutan ini, Pemimpin Rabbani tidak akan
berani menyakiti hati umat, karena dia tahu bahwa Tuhan pasti marah.
Sebaliknya, dia ogah jauh-jauh dari Tuhan, karena dia paham bahwa jauh
dari Tuhan akan merugikan umatnya.

Kita susah menemukan sosok pemimpin demikian di zaman modern ini. Di
antara seribu orang, boleh jadi hanya ada satu. Setelah kita temukan,
sosoknya pasti juga masih kalah populer dengan pemimpin-pemimpin memble
yang hanya bermodal tampang dan ketenaran. Media pasti juga kurang
tertarik untuk memberitakan kiprah pemimpin yang miskin dana untuk iklan,
sekalipun dia sangat inspiratif dan mencerahkan.

Selain itu, Pemimpin Rabbani memang tidak doyan unjuk tampang, meskipun
dia selalu mencetuskan terobosan-terobosan brilian. Waktunya habis untuk
memikirkan cara memecahkan persoalan keumatan ketimbang berjualan diri
lewat iklan. Itulah sebabnya, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan
Pemimpin Rabbani benar-benar lahir dari ketulusan, bukan dari kepongahan
intelektual, apalagi sekadar ingin meraup keuntungan.

Sementara kebanyakan pemimpin kita sekarang hanya sekumpulan orang yang
sangat berhasrat untuk menduduki jabatan mapan dan posisi terpandang.
Boleh jadi mereka cerdas dalam berolah pikiran dan ucapan, karena
memiliki gelar pendidikan. Tetapi mereka minus keautentikan. Terkadang
malah sama sekali tidak punya bekal kepemimpinan, tetapi nekat
mencalonkan. Sosok demikian jelas tidak akan mampu menjawab persoalan,
apalagi dekat dengan umat dan Tuhan.

Semua janji yang diobral ketika mencalonkan menguap begitu saja ketika
sudah berhasil menduduki kursi jabatan. Kepemimpinan yang merupakan
amanah bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan dirasakan sebagai
keberuntungan, sehingga pantas menggelar perayaan dan menerima ucapan
selamat dari segenap keluarga dan rekan. Lihatlah fenomena demikian pada
setiap pemilihan pemimpin, mulai Pilkades hingga Pilpres.

Bangsa ini memang sedang dilanda krisis pemimpin harapan. Mereka yang
seharusnya dapat berperan mengamankan nasib rakyat justru memiliki andil
paling besar dalam mengenyahkan martabat, nyawa, dan harta benda rakyat.
Di tengah situasi demikian, kehadiran Pemimpin Rabbani sangat kontekstual
diharapkan untuk mengatasi carut marut kondisi politik yang semakin
menjadikan bangsa dan negara nelangsa.


Redaktur : Heri Ruslan
Selasa, 03 September 2013,
Sumber REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Hikmah : Istri shalehah yang cerdas

Oleh: Moch Hisyam

Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan, "Suatu hari anak Abu Thalhah dari
(ibu) Ummu Sulaim meninggal dunia. Lalu, Ummu Sulaim berkata kepada
keluarganya, 'Jangan kalian bercerita kepada Abu Thalhah perihal anaknya
itu. Biar aku sendiri yang akan menceritakan kepadanya."

Begitu Abu Thalhah datang dari suatu bepergian, Ummu Sulaim menghidangkan
santap makan malam kepadanya. Setelah Abu Thalhah makan dan minum dengan
puas, Ummu Sulaim pergi ke kamar untuk bersolek secantik mungkin. Abu
Thalhah pun mempergaulinya sebagaimana pasangan suami-istri.

Setelah melihat suaminya merasa kenyang dan terpuaskan, Ummu Sulaim
berkata penuh kelembutan, "Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika
ada satu kaum meminjamkan barangnya kepada suatu keluarga, misalnya,
kemudian mereka meminta kembali barang yang dipinjamkan tersebut, apakah
keluarga tersebut dibenarkan menolaknya?"

Abu Thalhah menjawab, "Tidak." Ummu Sulaim berkata, "Kalau begitu
tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu." Mendengar hal itu, karuan
saja Abu Thalhah menjadi marah, seraya berkata, "Kamu biarkan aku
menikmati pelayananmu sehingga aku terpuaskan dengan layananmu. Setelah
itu, baru kamu memberitahukan aku tentang anakku."

Keesokkan harinya, Abu Thalhah pun pergi menemui Rasulullah SAW dan
menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar apa yang diceritakan Abu
Thalhah, Rasulullah pun bersabda kepadanya, "Semoga Allah memberi berkah
kepadamu berdua di malam yang telah kalian lewati itu." Kemudian, Ummu
Sulaim pun hamil.

Demikianlah, gambaran akan kesalihan dan kecerdasan Ummu Sulaim sebagai
istri dari Abu Thalhah. Kesalihan dan kecerdasannya terlihat dari
beberapa hal.

Pertama, bagaimana kesabarannya dalam menghadapi kematian anaknya. Kedua,
bagaimana Ummu Sulaim lebih mementingkan keridhaan suaminya ketimbang
kesedihannya.

Ketiga, bagaimana kelembutannya dalam menyampaikan berita kematian
anaknya kepada suaminya. Dan, keempat, bagaimana ia berusaha tampil
memesona di depan suaminya untuk melanggengkan jalinan keluarga dan kasih
sayang di antara keduanya.

Dengan demikian, istri yang salihah lagi cerdas adalah istri yang selalu
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada suaminya selama tidak
bertentangan dengan perintah Allah SWT, menyenangkan suaminya ketika ia
dipandang olehnya, menjaga diri dan harta suaminya bila suaminya pergi,
dan berpikir, bertutur, serta bersikap cerdas.

Sebagai seorang Muslimah dan istri, kisah di atas harus menjadi renungan
dan keteladanan agar menjadi istri yang salihah lagi cerdas. Sebab, kisah
di atas mengandung teladan yang realistis bagi kaum Muslimah dan istri
yang salihah tentang kecerdasan yang tinggi dan akalnya yang cemerlang.

Ketika seorang Muslimah mampu menjadi istri salihah lagi cerdas ,akan
menjadikan dirinya mendapatkan keridhaan Allah SWT, Rasul-Nya, dan
keridhaan dari suaminya. Semua itu akan mengantarkannya meraih
kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta kelak dimasukkan ke surga.

Untuk itu, teladanilah kisah di atas dan pelajarilah terus bagaimana
menjadi istri yang salihah lagi cerdas. Berusahalah untuk
mempraktikkannya serta bermohonlah kepada Allah SWT agar diberi kemampuan
untuk menjadi istri yang salihah serta memiliki kecerdasan.


Redaktur : Damanhuri Zuhri

sumber REPUBLIKA.CO.ID.
Selasa, 03 September 2013,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Hikmah : Pentingnya sikap disiplin

Oleh M Husnaini

Di antara ajaran mulia yang sangat ditekankan dalam Islam adalah
disiplin. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih kesuksesan.
Kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan tidak akan memiliki makna
signifikan tanpa disertai sikap disiplin.





Sering kita jumpai orang berilmu tinggi tetapi tidak mampu berbuat banyak
dengan ilmunya, karena kurang disiplin. Sebaliknya, banyak orang yang
tingkat ilmunya biasa-biasa saja tetapi justru mencapai kesuksesan luar
biasa, karena sangat disiplin dalam hidupnya.





Tidak ada lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan disiplin kepada anak
didiknya. Demikian pula organisasi atau institusi apapun, lebih-lebih
militer, pasti sangat menekankan disiplin kepada setiap pihak yang
terlibat di dalamnya. Semua pasti sepakat, rencana sehebat apapun akan
gagal di tengah jalan ketika tidak ditunjang dengan disiplin.





Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan
atau kepatuhan terhadap peraturan. Ketaatan berarti kesediaan hati secara
tulus untuk menepati setiap peraturan yang sudah dibuat dan
disepakatibersama. Orang hidup memang bukan untuk peraturan, tetapi
setiap orang pasti membutuhkan peraturan untuk memudahkan urusan hidupnya.





Analoginya sederhana. Kita bisa perhatikan pentingnya peraturan itu dalam
lampu lalu lintas. Ketaatan setiap pengendara terhadap isyarat lampu
lintas jelas membuat kondisi jalan menjadi tertib dan aman. Bayangkan
ketika masing-masing pengendara mengabaikan peraturan berupa isyarat
lampu lalu lintas itu. Pasti kondisi jalan akan kacau, macet, dan bahkan
memicu terjadinya kecelakaan.





Contoh di atas tentu bisa ditarik ke dalam ranah kehidupan yang lebih
luas. Tegasnya, disiplin sangat ditekankan dalam urusan dunia, dan
lebih-lebih urusan akhirat. Tidak heran jika Allah memerintahkan kaum
beriman untuk membiasakan disiplin. Perintah itu, antara lain, tersirat
dalam Al-Qur'an surat Al-Jumuah ayat 9-10.





"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan
shalat Jum'at, maka bersegeralah untukmengingat Allah dan tinggalkanlah
jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian
mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di
muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kalian beruntung." (QS Al-Jumuah: 9-10).





Menurut ayat di atas, keberuntungan akan kita raih dengan disiplin
memenuhi panggilan ibadah ketika datang waktunya dan kembali bekerja
ketika sudah menunaikan ibadah. Bukan hanya urusan dagang yang harus
ditinggalkan ketika sudah tiba waktu shalat. Sebab, menurut para mufasir,
ungkapan "Tinggalkanlah jual beli" dalam ayat itu berlaku untuk segala
kesibukan selain Allah. Dengan kata lain, ketika azan berkumandang, maka
kaum beriman diserukan untuk bergegas memenuhi panggilan Allah itu.





Meskipun demikian, bukan berarti kaum beriman harus terus menerus larut
dalam urusan ibadah saja. Ayat di atas juga memerintahkan supaya kaum
beriman segera kembali bekerja setelah menunaikan ibadah. Dengan
demikian, disiplin harus dilakukan secara seimbang antara urusan akhirat
dan urusan dunia. Tidak dibenarkan mementingkan yang satu sambil
mengabaikan yang lain.





Disiplin yang dilakukan secara seimbang antara urusan ibadah dan kerja,
akhirat dan dunia, itulah yang akan mengantarkan kaum beriman kepada
kesuksesan. Perintah untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia
juga dapat ditemukan dalam Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 77.





"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan jatahmu dari kenikmatan
dunia, dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.
Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS
Al-Qashash: 77).





Kita juga bisa cermati ajaran disiplin dalam perintah shalat jamaah.
Kewajiban shalat wajib lima waktu selama sehari semalam sangat dianjurkan
untuk dikerjakan secara berjamaah. Menurut keterangan Rasulullah SAW,
nilai pahala shalat wajib secara berjamaah adalah dua puluh tujuh derajat
dibanding shalat sendirian. Dari sini, dapat dipahami jika sebagian ulama
kemudian menghukumi shalat jamaah sebagai sunnah muakkadah, sementara
sebagian ulama lain menghukuminya wajib.





Shalat jamaah jelas membutuhkan disiplin. Karena, umumnya shalat jamaah
dikerjakan bersama-sama di masjid atau langgar tidak lama setelah azan
berkumandang yang diikuti dengan iqamah. Dengan demikian, jika ingin
mengikuti shalat jamaah, maka kita harus segera meninggalkan kesibukan
setelah mendengar azan. Shalat jamaah di masjid atau langgar itu
dikerjakan tepat waktu. Kalau kita masih saja ruwet dengan segala tetek
bengek dunia, sementara azan sudah berkumandang, dipastikan kita akan
ketinggalan, atau malah tidak mendapati shalat jamaah sama sekali.





Belum lagi tradisi i'tikaf atau berdiam diri ketika menunggu shalat
jamaah dimulai. Ditambah tradisi berzikir setelah shalat jamaah selesai.
Tanpa disiplin waktu yang bagus, mustahil kita dapat melakukan semua itu.
Membiasakan disiplin dalam segala urusan secara seimbang itulah yang akan
menjadikan hidup kita indah, tertata, dan diliputiberkah.

Redaktur : Heri Ruslan

Sumber www.republika.co.id


--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Hikmah : Biar Saya yang Bayar

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Setelah selesai shalat 'Isya dan sunnah ba'diyah, sebagian besar jamaah
Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang langsung pulang ke
pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di
sekitar masjid.

Pengunjung pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian
jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air
masing-masing atau ziarah ke Madinah.

Di antara kerumuman para pembeli di salah satu pusat perbelanjaan itu
terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dari tadi dia sudah beberapa kali
membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.

Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam
terakhir dia di Makkah, karena besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk
selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air.

Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya
tidak cukup. Dengan berat hati dia pergi meninggalkan toko sajadah itu.

Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya
kembali melayang ke sana. Setelah memutari lantai dasar pusat
perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko
sajadah itu.

Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang
tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang
memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya.

Begitu sajadah itu dia letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil
sajadah pilihan Pak Muhsin, lalu membayarnya dan menyerahkannya kepada
Pak Muhsin sambil berkata: "Hadiah, hadiah…tafadhdhal!". Pak Muhsin
sangat senang sekaligus terharu.

Sampai di Tanah Air, peristiwa itu selalu dia kenang, apalagi setiap dia
melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak dia kenal itu. Dia
ingin melakukan hal yang sama.

Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu
barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang
yang mahal harganya.

Demikianlah, pada suatu hari, setelah melaksanakan shalat Zhuhur
berjamaah di sebuah masjid, dia mampir ke toko buku kecil di samping
masjid langganannya.

Pada saat dia sedang melihat-lihat buku tentang Islam terbitan terbaru,
tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang
memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.

"Pak, apakah nanti ba'da Maghrib masih buka?" tanyanya kepada penjual
buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup.

"Bapak kembali besok pagi saja." Kata penjual buku itu. "Wah sayang
sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah", kata calon pembeli buku
itu sambil beranjak pergi pelan-pelan.

Pak Muhsin kembali ingat peristiwa di Mekkah tempo hari. Segera saja dia
bilang sama penjual buku: "Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku
itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar".

Bapak dari daerah itu kaget dan senang, tidak dia duga ada yang berbaik
hati mau membayarkan enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya
jawab agama ini sangat dia perlukan dalam berdakwah di daerah.

Pak Muhsin dapat merasakan kebahagiaan bapak yang tidak dia kenal itu,
seperti kebahagiaanya waktu di Makkah dulu.









Redaktur : Damanhuri Zuhri
Rabu, 04 September 2013, 11:22 WIB

Sumber















Nonang/Republika




sajadah


A+ | Reset | A-






REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Syair Islam : Dunia Anak Punah

DUNIA ANAK PUNAH
Oleh : Muhammad Ashabus Samaa'un
(Pembina majelis ashabul muslimin)


hai kawanku
tentang kerinduanku
dan tentang keluh kesahku
tentang masa lalu
pernah ku melihat
dunia yang tertinggal
dunia yang penuh
dengan kenangan
alam yang penuh kedamaian
dunia penuh kegembiraan
dunia bermain tanpa beban
dunia anti permasalahan
dunia anak-anak penuh keceriaan
adalah surga dunia yang penuh kebebasan
kini semua itu berganti dengan penjajahan
berganti dengan penindasan
kepada jiwa-jiwa polos
yang bersih dari syahwat dan dosa


akankah kita peduli
dengan dunia anak yang tlah pergi
akankah kita peduli
dunia yang penuh kegembiraan
Hilang ditelan globalisasi
akankah kita peduli
dunia anak-anak musnah
ditelan perubahan zaman
akankah kita biarkan
dunia yang penuh kebebasan
ditindas peradaban zaman
mengapa kita biarkan
dunia anak punah
bersama zaman edan


sadarkah... sadarkah dari mana kau berasal
bukankah dari dunia itu kau berasal
mengapa kau tidak pedulikan
dan lebih terlena dengan kemajuan zaman
yang merusak moral dan peradaban
yang memusnahkan jati diri bangsa ini

anak kecil dulu bernyanyi gembira ria
anak kecil sekarang doyan lagu cinta
anak dulu bermain boneka-bonekaan
atau gundu dan mainan layangan
anak sekarang mainan hape sambil galau sms-an
anak dulu habis mahrib rajin mengaji
anak sekarang santapannya televisi
setiap hari menyajikan gaya hidup gengsi
juga mengajari otak mesum dan anarki
apalagi yang udah kenal facebook
chatingan semalam suntuk
siangnya tidak belajar malah ngantuk


cobalah bertanya akibat semua itu
buah peradaban modernisasi jaman
kecil kecil dah tahu pacaran
kecil kecil dah tahu cium ciuman
kecil kecil dah tahu gitu gituan
anak kecil berotak mesum
masih kecil dah kaya brandalan
perilakunya tidak karuan
sungguh memprihatinkan
dunia anak tlah punah
dunia anak tlah musnah
Dunia anak telah pergi
dunia anak tinggal kenangan
dunia anak tinggal cerita
kini semua hilang
kini semua pergi
hilang bersama perubahan zaman
hilang bersama masa lalu
hilang bersama sang waktu
hilang bersama hancurnya moral
sungguh hal yang menyedihkan.


wallahu'alam
[ Read More ]

Syair Umum : Biarkan Ku Berjalan Sendiri

Biarkan Ku Berjalan Sendiri
Oleh : Muh. Alie Marzen

biarkan kuberjalaan
diatas kesunyian
biarkan aku melupakan kenangan
biarkan kuberjalan
diatas kedamaian
walau hanya
ditemani kesendirian

kusadari semua
kini telah berubah
segala indah kurasa telah pergi
segala kebersamaan
tlah hilang bersama
masa lalu tertinggal


Biarkan biarkan biarkan
kumenatap menatap bayangan
sambil melupakan semua
yang tlah pergi
takkan pernah aku
ingat lagi
semua yang terjadi

Kutakpernah berharap
dirimu kan kembali
hingga sampai nanti
biarkan kusendiri
kutak pernah berharap
seorangpun kan mengerti
segala kisah hidupku ini
aku adalah sang penyendiri
di tengah kehidupan gelap gulita ini




ttd.
M. Alie Marzen
(Admin situs ashabul-muslimin.tk)
[ Read More ]

    close
    Banner iklan disini

    Kunjungan Anda

    Total Tayangan Halaman