berbagi pengetahuan tentang Islam diakhir zaman.بِـسْـمِ اللهِ

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

SYAIR ISLAM : RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !

RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !
(By : Muh. Ashabus Samaa'un)


lihatkah sobat
lihatlah kawan
lihatlah teman
lihatlah semua
kalian para manusia
dunia pendidikan
benar-benar dalam kekacauan
karena sistem pendidikan kita
benar-benar serba edan
hasilnya anak-anak semrawut suka ribut
pulang sekolah tidak belajar malah tawuran
atau kebut-kebutan motor dijalanan
mirip brandalan yang nyasar kesekolahan
dikasih PR tidak dikerjakan
malah-malah waktu luang untuk pacaran
dirumah pura-pura belajar
ternyata main facebookan
pamit les ternyata main Ps-an
lulus sekolah corat coret seragam
katanya untuk expresi kegembiraan
padahal hal itu adalah kemaksiatan
perilaku kufur yang dimurkai Tuhan
cobalah berpikir !
lulus UN bukanlah segalanya
itu hanya satu langkah kecil
untuk menempuh tingkat pendidikan
yang lebih berat tuk selanjutnya
memang begitulah kenyataan
pendidikan kita telah gagal
membentuk manusia bermoral
hasilnya manusia-manusia edan !
pendek akal tak punya aturan
berbuat seenaknya sendiri
pembuat onar dan kericuhan
pandai korupsi gemar perilaku kemaksiatan
pengikut hawa nafsu setan


oh enaknya jadi murid jaman sekarang
belajar disekolah tidak mikir biaya
berangkat sekolah dikasih uang saku
pulang pergi tidak repot jalan kaki
karena memang sudah jaman kemajuan teknologi
begitulah orang tua memanjakan kehidupan kalian
namun kenyataaan,
bukannya kalian berterima kasih atau balas jasa
malah kalian membalas kebaikan dengan kemungkaran
air susu yang mereka berikan
tlah kalian tumpahkan
kemudian kalian beri mereka racun mematikan
begitulah, segala yang tlah kedua orang tuamu lakukan
hanya dibalas dengan kekufuran
malas-malasan belajar
membolos, pacaran, tawuran, sampai mabuk-mabukan
kebut-kebut dijalanan
mirip preman bangun kesiangan
bahkan ada yang pacaran sampai hamil duluan
sungguh mengerikan
generasi macam apa ini
generasi amburadul korban modernisasi
generasi lupa diri
lupa keluarga, lupa agama
lupa Tuhan, lupa hidup, lupa mati


Bayangkanlah wahai para pelajar
Umur kalian sangat belia
jauhilah cara berpikir lattah
cuman suka ikut-ikutan semata
jika kalian turuti hawa nafsu setan
tunggulah murka dari Tuhan
kehancuran dan kebinasaan bagi kehidupan kalian
masa depan yang buruk nan suram tak terbayangkan
kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan kehidupan
tlah menanti tuk meneror jalan kehidupan
sebagai akibat segala kebaikan
yang tlah orang tua dan guru berikan
dibalas dengan kemaksiatan dan kekufuran
sudah lupakah kalian
bahwa hidup didunia ini cuman sementara
waktu yang digunakan sia-sia
pasti kerugianlah yang didapatkannya
tidak saja kerugian dunia namun juga akhiratnya

sudahlah cukup segala kerusakan yang tlah dilakukan
jangan ikuti mereka
yang tlah terlanjur menemui kebinasaan
mulai sekarang kita harus berbenah diri
bertaubat dari segala perilaku maksiat
jadilah anak salih dan shalihah
yang taat beragama
berbakti kepada kedua orang tua
patuh nasehat guru
suka berbuat baik kepada sesama manusia
supaya diakhirat
kita mendapatkan kebahagiaan
yang kekal slamanya
semoga segala yang kita lakukan
mendapat ridha Tuhan Alam semesta
amin.









[ Read More ]

Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam


Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam

(Mantiq, Tasawuf, Filosofi, teologi, liberalisasi dll )

Oleh : www.ashabul-muslimin.tk

                

Mukadimah

Ilmu kalam memang ilmu yang terkesan nyeleneh. Karena mempelajari sesuatu hal diluar kemampuan akal manusia kemudian terkadang juga orang yang tidak kuat akalnya belajar ilmu ini bisa jadi gila, naudzubillah. Oleh karena itulah secara kasar saya katakan ilmu kalam ini disebut juga ilmu pengawuran. Karena terkadang mereka mengingkari sebagian al-Qur'an kemudian lebih mengambil pendapat akalnya sendiri atau barangkali mengimpor pendapat-pendapat filusuf-filusuf yunani yang sudah jelas-jelas mereka itu kaum paganisme (penyembah berhala). Sungguh tidak pantas sekali jika pendapat orang musyrik itu diambil sebagai landasan berpikir bagi kaum muslimin. Ilmu ini bisa membuat orang berbuat syirik dsb. Karena secara mendasar saja bisa dibilang yang mempelajari ilmu ini artinya menyembah akalnya sendiri secara tidak sadar, karena telah menganggap akalnya lebih unggul daripada ayat Allah SWT.

Apa yang disebut dengan ilmu kalam tidak pernah ada pada masa Nabi saw atau pada masa sahabatnya. Ilmu ini mulai muncul setelah berbagai kebudayaan asing diterjemahkan kedala bahasa arab, khususnya filsafat dan ilmu mantiq Yunani. Sebagian besar kaum muslimin yang menyibukkan diri dalam membahas  ilmu kalam tidaklah menjadi kafir akibat perbuatan tersebut. Tujuan mereka  dalam  membahas ilmu tidak lain hanya ingin menjelaskan hal- hal  yang  menyangkut  aqidah  Islam serta mempertemukan antara metode ilmu mantiq dengan apa yang mereka anggap kontroversial dari  nash-nash  syara'. Hanya  saja mereka tersesat dan menyibukkan pikiran mereka dan orang lain terhadap pembahasan-pembahasan yang akal mereka sendiri tidak sanggup menjangkaunya. Padahal langkah yang benar bagi mereka semestinya membatasi pembahasan hanya pada nash-nash syara', yaitu berdasarkan wahyu semata.

 

Munculnya Ilmu Kalam

Sepanjang masa Nabi saw, kaum muslimin hanya mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat dalam al-Quran dan apa yang sesuai dengan metode Kitabullah tersebut. Mereka hidup dimasa turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat rasul.       Cahaya persahabatan tersebut telah  menghilangkan kegelapan, keraguan dan khayalan. Kekuatan iman yang mereka miliki,tidak pernah menimbulkan satu pertanyaan pun yang mengandung unsur keraguan. Mereka tidak berusaha  mencari  ilmu  yang  Allah  sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia. Merekalah yang paling baik dan tinggi martabatnya diantara umat ini.

Bahkan Rasulullah  saw sendiri  pernah memberikan kesaksian tentang kebaikan mereka ini. Karena itulah jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta penyampaiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam daripada metode-metode lain. Betapa tidak !? Sebab, ini merupakan metode Rasul yang berdasarkan metode al- Quran dalam membahas aqidah. Dengan metode ini orang-orang  akan  mendapatkankepuasan  jiwa,  petunjuk  yang  benar,  ilmu yang disertai keyakinan.Berkat metode tersebut, seorang muslim akan menjadi suatu potensi tenaga yang dasyat yang kemudian mendorongnya untuk menyampaikan dakwah dengan semangat. Jalan yang ditempuh dalam hal ini adalah jalan Rasul dan para sahabatnya. Abad pertama hijriyah telah berakhir  setelah dakwah Islam tersebar luas dan menguasai segenap penjuru. Islam pada waktu itu disampaikan dengan pemahaman yang cemerlang, iman yang dalam dan kesadaran yang         hebat. Akibat dari perkembangan dakwah Islam tersebut, Islam berinteraksi  dengan  peradaban  dan  agama yang dimiliki bangsa-bangsa lain yang masuk Islam. Dikarenakan         al-Quran telah mencantumkan rincian tentang aqidah Islam dan telah membeberkan aqidah-aqidah yang berlawanan dengannya, begitu pula bantahan- bantahan yang melemahkan aqidah lain. Maka sebagai    akibat interaksi ini,  timbullah pergolakan  pemikiran  antara  Islam  dengan kekufuran.  Hal  ini  merupakan  salah  satu sebabyangmendorongpemikirankaum muslimin membahas aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk dalam menentukan cara membela aqidah Islam dihadapan aqidah-aqidah (keyakinan) lainnya, terutama filsafat Yunani yang telah dipakai orang-orang nasrani dalam menghadapi dan menghalangi dakwah Islam. Usaha tersebut menghasilkan adanya aktivitas penterjemahan besar-besaran sehingga filsafat Yunani ini beralih dan diketahui oleh sebagian kum muslimin yang menyibukkan diri dalam aktivitas penerjemahan tersebut, yang kelak menghasilkan apa yang disebut dengan 'Ilmu Kalam' dan metode pembahasan 'Ilmu Mantiq'.

 

Metode Baru

Metode-metode ilmu kalam (mantiq) yang telah dilahirkan oleh generasi yang datang setelah sahabat (khalaf) adalah teramat jauh berbeda dengan metode sebelumnya yaitu metode sahabat (salaf). Karena metode khalaf ini telah membicarakan Dzat Allah dan berdasarkan pada metode pembahasan filosof filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman. Dalam menentukan bukti, ia berlandaskan pada ilmu mantiq dan telah mengambil sikap pertengkaran/ pertikaian untuk menghadapi para filosof dalam setiap pembahasan. Mereka juga membahas tentang apa yang tidak dapat diindera atau dijangkau tentang dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Dalam hal ini, mereka telah mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang banyak menimbulkan penakwilan, lalu bertambahlah sikap permusuhan tersebut sehingga pada akhirnya terjadi penyimpangan (fitnah) terhadap aqidah yang sebenarnya. Semua kejadian itu telah terjadi antar sesama kaum muslimin yang ikut sibuk membahas masalah ini. Bahkan sampai melibatkan sebagian dari ulama fiqih yang telah berusaha menjauhkan diri dari pembahasan ilmu kalam, malah telah memberi peringatan kepada orang-orang untuk menjauhinya, seperti yang terjadi pada Imam Ahmad ibn Hambal ra.

 

Dan begitulah sikap ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in. Mereka lebih banyak menyibukkan diri dengan mengamalkan Kitabullah daripada sibuk debat kusir dan berbantah-bantahan. Islam kemudian menyebar luas ke pelosok dunia. Terjadilah kemudian penaklukan-penaklukan daerah baru. Setelah itu sebagian kaum muslimin mulai terpengaruh dengan sebagian ide-ide filsafat antara lain filsafat Yunani. Akibatnya mereka terpecah menjadi banyak kelompok, firqoh dan aliran-aliran. Sehingga mereka lebih banyak sibuk dalam berdebat daripada mengamalkan Kitabullah. Hati mereka diabaikan sedangkan akal mereka diagung-agungkan sampai begitu beraninya membahas segala sesuatu (baik yang dapat dijangkau ataupun yang tidak).

 

Mereka berpikir dan membahas Dzat Allah dengan cara yang berlebihan begitu pula terhadap sifat-sifat-Nya, yang mereka bahas secara mendetail berdasarkan pertimbangan akal dan didukung dengan pendapat serta cara pemikiran para filosof sebelumnya. Padahal Allah SWT adalah Maha Pencipta yang tidak dapat dijangkau manusia. Jika manusia masih merasa dirinya lemah untuk mengetahui secara detail tentang dirinya sendiri dan apa yang ada dalam dirinya sampai sekecil-kecilnya, maka bagaimana mungkin akal manusia mampu menjangkau Dzat Allah Yang Maha Pencipta bagi alam semesta dan seisinya. Juga, Dia lah yang menguasai segala urusan yang menyangkut Dzat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, padahal tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur/pembanding! Satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam hal ini adalah dengan menjadikan firman Allah SWT tentang dzat dan sifat-sifat-Nya serta hadist Rasul yang shahih dan terbukti kebenarannya, merasuk dalam kalbu kita, lalu mengimaninya tanpa takwil dan tanpa mempersulit pembahasannya. Sebab kita tahu bahwa jika kita menakwilkan suatu ayat/hadist maka penakwilan itu sesuai dengan firman Allah/sabda Rasul atau tidak. Orang yang menakwilkan sesuatu biasanya tidak sanggup memastikannya, benar atau salah. Yang membentuk keyakinan adalah makna/lafazhlafazh zhahir (berdasarkan konteks kalimat) dari ayat/hadist, juga lafazh hakiki (makna sebenarnya( bukan yang majazi atau makna kiasan).

 

Metode yang Keliru

Setelah membahas dan mendalami metode para ulama kalam dapat kita simpulkan bahwa metode mereka adalah keliru. Metode tersebut tidak dapat membentuk iman bagi seseorang apalagi menguatkannya. Metode ini hanya menghasilkan sekedar pengetahuan tertentu, bahkan dapat dikatakan pengetahuan yang salah dan meragukan, karena merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepada manusia. Juga karena panca indera kita tidak sanggup menjangkaunya. Kekeliruan metode tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek:

Pertama; metode ulama kalam dalam menentukan bukti didasarkan pada ilmu mantiq, bukan kepada penginderaan. Hal ini menjadikan seorang muslim sangat memerlukan belajar ilmu mantiq agar ia dapat membuktikan eksistensi Allah. Ini berarti bagi seorang yang belum mengetahui ilmu mantiq maka ia tidak boleh membahas aqidah Islam. Padahal islam datang pada masa dimana kaum muslimin belum mengetahui ilmu mantiq. Mereka telah mengembangkan risalah Islam dengan cara yang terbaik serta memberikan bukti-bukti yang meyakinkan terhadap segala hal yang menyangkut aqidah mereka, tanpa memerlukan pembahasan ilmu mantiq dalam menentukan bukti apapun terhadap aqidah Islam. Ini dari satu segi. Sedangkan dari segi lain metode ilmu mantiq (logika) dalam menentukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam menarik kesimpulan.

Hal ini disebabkan oleh premis premis yang salah yang tidak didasarkan atas fakta-fakta. Berbeda halnya dengan metode berpikir yang didasarkan atas fakta-fakta yang nyata. Metode terakhir inilah yang telah digunakan oleh al-Quran dalam menentukan bukti-bukti sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu kekeliruan dalam berpikir. Adapun metode yang menimbulkan kekeliruan dalam berpikir, jelas tidak boleh dijadikan patokan dalam menentukan bukti bukti.

 

Merujuk Kepada Akal Dalam Masalah Ghaib.

 

Kedua: metode yang digunakan para Mutakallimin adalah dengan menjadikan akal sebagai patokan dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan masalah iman, bahkan sampai-sampai menjadikan akal sebagai standar untuk memahami hal-hal yang ghaib pula. Mereka telah menafsirkan al-Quran berdasarkan pertimbangan akal, sehingga menyalahi dasar-dasar lainnya, seperti; mensucikan Allah secara mutlak, kebebasan dalam berkehendak, keadilan Allah dan pemilihannya yang terbaik dalam setiap keputusan/ketentuan dan sebagainya. Mereka telah merujuk kepada akal dalam menafsirkan ayat-ayat yang dari segi lahirnya dianggap kontroversial. Akal juga dijadikan sebagai standar pemutus terhadap hal-hal yang mutasyabihat. Bahkan mereka telah menakwilkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan pendapat yang mereka pilih. Sikap penakwilan ini selalu digunakan karena mereka bertolak dari akal, bukannya dari wahyu (al-Quran). Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat al-Quran harus ditakwilkan dan disesuaikan dengan ketentun akal. Begitulah sikap mereka yang telah menjadikan akal sebagai patokan untuk menafsirkan al- Quran yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam banyak pembahasan. Jika saja mereka menjadikan al-Quran sebagai patokan untuk setiap pembahasan dan akal mereka didasarkan pada al-Quran, tentu tidak akan sampai membahas apa yang sudah mereka bahas.

 

Memang benar, iman terhadap al-Quran sebagai kalamullah (firman Allah) harus didasarkan kepada akal, yakni akal lah yang telah membuktikan kemukjizatannya. Tetapi setelah al-Quran diimani akan menjadi standar untuk mengimani segala sesuatu yang tercantum di dalam al-Quran, tanpa dipertimbangankan lagi oleh akal. Oleh karena itu jika terdapat berbagai ayat dalam al-Quran (mengenai aqidah), maka akal tidak boleh dijadikan tolok ukur kebenaran dan kesalahan makna ayat-ayat tersebut. Kita wajib merujuk hanya pada ayat-ayat al-Quran itu sendiri tanpa 'campur tangan' akal. Dalam hal ini fungsi akal hanya memahami nash-nash saja. Sayangnya para mutakallimin tidak berbuat demikian, melainkan menjadikan akal sebagai tolok ukur dalam penafsiran al-Quran. Oleh karena itu, muncullah sikap penakwilan ayat ayat al-Quran.

 Mengikuti Pendapat Para Filosof

 Ketiga: Para mutakallimin telah menjadikan sikap pertikaian dengan para filosof sebagai dasar pembahasan mereka. Misalnya, golongan mu'tazilah mengambil pendapat dari para filosof dan membantah mereka.  Golongan ahlus sunnah dan jabariyah membantah pendapat mu'tazilah juga dengan mengambil pendapat para filosof dan menentangnya. Padahal yang menjadi obyek pembahasan adalah islam, bukan sikap pertikaian para filosof maupun lainnya. Seharusnya mereka membahas apa yang terdapat pada al-Quran dan Hadist, dan

berhenti disitu tanpa melampaui batas pembahasannya, juga tanpa memperdulikan lagi pendapat siapapun. Akan tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengalihkan aktivitas tabligh Islam dan penjelasan tentang hal-hal yang menyangkut aqidah Islam kepada perdebatan dan berbantah-bantahan. Mereka telah memadamkan kekuatan dan semangat aqidah yang merupakan pendorong jiwa manusia, mengaburkan makna aqidah sehingga menjadikannya sebagai aktifitas perdebatan belaka yang dilakukan secara terus menerus

atau sebagai keahlian tersendiri dalam ilmu kalam. Sikap mereka ini berlawanan dengan metode al-Quran yang juga pernah membantah sebagian pemikiran-pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan suatu metode yang hanya berlandaskan kepada seruan yang difokuskan kepada akal dan fitroh manusia. Dengan demikian metode ini menjadikan setiap orang yang mendengar seruan tersebut mendapat kepastian dan meyakini apa yang dibahas oleh akal terhadap hal-hal yang dapat dijangkaunya yang menunjukkan adanya Khaliq. Disamping ia mampu membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah. Hikmah/tujuan dari ciptaan-ciptaan dan keagungan-Nya.

Bahkan, seseorang yang sampai kepadanya  seruan al-Quran akan merasakan bahwa ia harus mendengar seruan itu dan mengikutinya sampai seorang atheis pun bisa memahami dan cenderung kepadanya.  Metode al-Quran adalah sangat sesuai untuk setiap orang, tanpa ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, baik intelek maupun awam. Metode al-Quran sungguh telah menjadikan manusia berpikir lebih serius tentang keberadaannya di ala mini serta kelanjutannya nanti. Contoh-contoh untuk seruan tersebut antara lain firman Allah SWT:

 

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. al-Hajj [22]: 73-74)

 

Juga firman Allah dalam QS. ath-Thâriq [86]: 5-8, QS. adz-Dzriyat [51]: 20-21, QS. an-Nazi'ât [79]: 27-33). Demikianlah metode al-Quran dalam menjelaskan/menetapkan kekuasaan, kehendak, ilmu dan keagungan Allah berdasarkan apa yang sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Metode tersebut membangkitkan perasaan jiwa manusia sehingga terpengaruh dengan hasil keputusan akal yang telah membuktikan serta mengakuinya sesuai dengan hakikat fitrahnya sehingga manusia merasa puas dan terpenuhilah keinginannya dengan cara yang menimbulkan ketentraman dan ketenangan jiwa. Keluar dari Realita yang Terindera Para mutakallimin telah keluar dari realita bahkan melampaui batas hingga hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Mereka membahas hal-hal di sebalik alam semesta (meta fisika). Misalnya membahas tentang Dzat Allah dan sifat-sifat- Nya yang merupakan suatu hal yang mustahil dapat dijangkau oleh indera manusia.

 

Pembahasan ini telah dikaitkan dengan pembahasan yang berhubungan dengan realita yang dapat diindera. Secara berlebihan, mereka telah menganalogkan hal yang ghaib, yaitu Allah SWT dengan alam nyata, yaitu manusia. Bahkan mereka menetapkan sifat 'keadilan' Allah SWT sama dengan keadilan menurut pandangan manusia di bumi. Mereka lupa bahwa manusia (makhluk) itu dapat dijangkau indera, sedangkan Dzat Allah tidak. Dengan demikian tidak dapat dianalogikan antara satu dengan lainnya. Mereka juga tidak menyadari bahwa keadilan Allah itu tidak dapat disamakan dengan keadilan mnusia di bumi, juga tidak boleh menundukkan Allah kepada hukum dan peraturan alam/manusia. Karena Dia-lah yang menciptakan alam, yang sekaligus mengaturnya sesuai dengan hukum-hukum yang juga Ia ciptakan. Apabila dilihat bahwa manusia dengan segala keterbatasannya memandang dan memahami keadilan dengan cara yang terbatas pula, ia akan menentukan sikap terhadap alam sekitarnya sesuai dengan pemahamannya. Tetapi apabila pandangannya meluas, pemahaman dan sikapnya tentang keadilanpun berubah juga. Lalu bagaimana mungkin manusia akan menganalogikan Rabb, Pencipta alam semesta ini, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, lalu mereka

memandang keadilan-Nya sesuai dengan makna yang mereka kehendaki? Begitu pula halnya dengan kriteria penentuan baik dan yang terbaik bagi Allah SWT.

Ayat-Ayat Mutasyabihat

Kelima: ayat-ayat mutasyabihat yang bersifat global dan tidak memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya telah turun dengan penjelasan yang umum tanpa memberi perincian. Ayat-ayat tersebut dapat berupa penjelasan tentang segala sesuatu secara garis besar atau berupa ketentuan terhadap fakta/keadaan yang kelihatannya tidak bisa dibahas, ditelaah dan dijadikan patokan sehingga pembacanya tidak bisa memalingkan diri darinya. Walaupun membahasnya, namun ia tidak dapat mengetahui hakikat tujuan makna-maknanya kecuali hanya sebatas apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya.  Oleh karena itu, wajarlah apabila

semuanya ditentukan sikap pasrah kepada ayat-ayat tersebut, tanpa mencari sebab-sebab (penakwilan) atau penjelasan yang lebih detail. Sebagai contoh dalam hal ini, bahwa di dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang menerangkan adanya paksaan pada perbuatan-perbuatan manusia. Sebaliknya, banyak juga yang menunjukkan adanya ikhtiyar (pilihan manusia sendiri).  Diantaranya firman Allah SWT: TQS. al- Mukmin [40]: 31, juga dalam QS. al-Insân [76]:30, QS. al-Baqarah [2]: 286, QS. al-An'âm [6]: 125. Di dalam al-Quran terdapat pula sejumlah ayat yang menyebutkan bahwa Allah memiliki wajah dan tangan, menjelaskan bahwa Dia ada di langit. Diantaranya seperti firman-Nya:

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (QS. al-Mulk [67]: 16)

juga dalam QS. ar-Rahman [55]: 27, QS. al-Fajr [89]: 22, QS. al-Maidah [5]: 64. Disamping itu terdapat ayat-ayat lain yang menetapkan sikap pensucian terhadap Allah SWT, yakni tidak boleh menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya, seperti firman- Nya: TQS. asy-Syûrâ [42]: 11, QS. al-An'âm [6]: 100. Demikianlah ragam ayat al-Quran yang tersebar di berbagai segi yang Nampak adanya pertentangan (kontroversial). Ayat ayat inilah yang oleh al-Quran disebut sebagaiayat-ayat mutasyabihat.  Mengikuti Ayat-Ayat Mutasyabihat Pada waktu ayat-ayat tersebut turun, Rasulullah saw menyampaikannya kepada masyarakat, para sahabat, segera saja kaum muslimin mengimaninya. Mereka menghafal ayat-ayat tersebut di dalam lubuk hatinya dan ayat-ayat tersebut tidak menimbulkan pembahasan dan perdebatan apapun di kalangan mereka. Mereka tidak melihat adanya pertentangan apapun yang memerlukan penjelasan yang detail. Mereka memahami semua ayat sesuai dengan segi yang diterangkan dan ditetapkan oleh ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka mengimani ayatayat tersebut, membenarkan dan memahaminya dengan pemahaman yang global dan mereka merasa cukup dengan pemahaman seperti ini. Mereka menganggap ayat-ayat tersebut sebagai penjelas bagi kenyataan atau sebagai penetapan bagi suatu hakikat. Banyak dari kalangan para ulama intelek tidak masuk pada pembahasan perincian ayat-ayat mutasyabihat ini dan tidak pula memperdebatkannya. Bahkan, dipandangnya bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu kemaslahatan bagi Islam. Maka pemahaman makna yang bersifat global bagi setiap orang yang memahaminya sesuai dengan ukuran yang dapat dipahami, tidak perlu ia terjerumus ke dalam perincian dan bahasan yang mengada-ada. Demikianlah kaum muslimin menemukan metode al-Quran, menerima ayat-ayat-Nya dan bertindak sesuai dengan metode tersebut. Pada waktu datang golongan mutakallimin, mereka meletakkan pemahamannya terhadap ayat-ayat mutasyabihat berdasarkan pada apa yang didapatkan oleh akal mereka tentang makna ayat 'laisakamitslihi syaiun' (tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya). Mereka menjadikan pemahaman ini sebagai penentu dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Mereka bangun di atas pemahaman ini dasar-dasar (ushuluddin menurut mazhab mereka). Lalu membahasnya secara terperinci berdasarkan ushul pemahaman mereka tersebut. Disamping itu mereka menakwilkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya. Juga, mengkafirkan semua orang yang menyalahi pendapatnya. Banyak dan panjangnya pembicaraan dalam masalah ini menyebabkan timbulnya fitnah yang besar di kalangan kaum muslimin. Andai kata mereka mengembalikan masalah tersebut kepada Allah dan Rasul, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang melimpah ruah. Firman Allah SWT mengumpamakan mereka seperti dalam TQS. Ali Imran [3]: 7.

Perlu kita merenungkan sabda

Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh

muslim dari 'Aisyah ra:

"Andaikata kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat maka mereka itu adalah orang-orang yang disebut Allah swt (dalam QS. Ali Imran diatas) maka berhati-hatilah terhadap mereka." (HR.

Muslim)

 

Hambatan Bahasa Ada yang mengatakan bahwa sebab keterlibatan dalam ilmu kalam adalah kelemahan yang menimpa otak kaum muslimin dalam memahami bahasa arab. Oleh karena itu, kata mereka, kita akan beralih dari cara para sahabat membahas aqidah pada cara-cara logika. Bukanlah satu kesalahan apabila kita tetap memertahankan sikap pensucian terhadap Allah tanpa mengingkari dan menyerupakan. Alasan mereka ini sebenarnya merupakan hujjah yang lemah. Sebab, gaya pembahasan yang dilakukan oleh para ulama kalam tidak menunjukkan bahwa bahasa merupakan salah satu hambatan dalam pemahaman aqidah secara benar, tetapi obyek bahasan yang ada pada merekalah yang menjadikannya berselisih pendapat. Sebagai contoh, apabila kita mengatakan:

'Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'

Makna ayat ini dapat dipahami artinya dari segi bahasa, tanpa perlu menggunakan cara-cara mantiq/logika. Akan tetapi berubahnya obyek pembahasan yang dibahas dari segi Dzat Allah itulah yang mendorong munculnya metode tersebut. Apabila yang mendorong menggunakan cara-cara logika adalah benar bahasa

arab maka adalam hal ini cukuplah kita menerangkan arti bahasa untuk kata-kata yang membutuhkan penafsiran/penjelasan dan terhadap makna-makna yang belum jelas dalam benak kita maka kita terima secara pasrah tanpa membahasnya atau memperdebatkannya lagi. Tetapi nampaknya bahwa arti lughawi (bahasa) bukan merupakan sebab penakwilan dan pembahasan tentang Dzat Allah atau terlibatnya akal dalam kesesatan yang sulit baginya untuk melepaskan diri darinya kecuali dalam keadaan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi, penyebab yang sesungguhnya (penakwilan dan pembicaraan mengenai dzat Allah) adalah mengikuti hawa nafsu dan tidak meneladani metode para ulama salaf. Metode yang Memecah Belah Persatuan Di antara hal-hal yang perlu diingat adalah bahwa pembahasan ulama kalam ini telah menyebabkan munculnya banyak firqah-firqah yang keluar dari Islam. Mereka termasuk dalam golongan-golongan yang disebutkan oleh rasulullah saw dalam sabdanya:

"Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya masuk neraka. Sedangkan Kaum muslim terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya juga masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: siapakah dia, ya Rasulullah? Beliau menjawab: golongan yang mengikuti aku dan para sahabatku." (Sunan Tirmidzi: 22642-2643; Sunan Abu Daud 4596-4597; Musnad Imam Ahmad no. 1024)

 

Rasulullah saw telah memberi petunjuk kita agar meneladani pola hidup beliau, serta melarang kita, umatnya menyalahi jalan tersebut. Perhatikanlah sabda Beliau dalam sebuah hadist shahih:

"Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sesudahku), kelak dia akan melihat banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.

Lalu gigitlah (peganglah) dengan gerahammu. Dan jahuilah perkara-perkara yang baru (maksudnya dalam masalah ibadah). Sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid'ah dn semua bid'ah (mengakibatkan seorang masuk) dalam neraka." (Sunan Abi Daud, 4607; Sunan Tirmidzi 2678; Musnad Imam Ahmad IV hal. 126-127).

 

Demikian pula diantara hal yang perlu dipegang teguh bahwa pembahasanpembahasan ini dan yang serupa dengannya akan menyebabkan berhadapannya seorang muslim melawan saudaranya yang muslim, bahkan akan mengalihkan perhatiannya hanya untuk menghadapi 'urusan dalam' kaum muslimin. Sehingga orang-orang kafir dapat mengambil kesempatan untuk melontarkan banyak perkara-perkara syubhat yang menyibukkan kaum muslimin dalam menyelesaikannya, bahkan dapat menyebabkan terhentinya kegiatan dakwah dan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu kita lihat ketika ilmu-ilmu logika mulai berkurang, bahkan lenyap dari masyarakat sangat diperhatikan dan menjadi pembahasan serius kaum orientalis. Begitu juga para teolog nasrani banyak mengarang buku-buku di bidang ini. Pembahasan ilmu kalam masih mempengaruhi sekelompok kecil umat, yang alangkah baiknya mereka tinggalkan hanya karena Allah semata, yang mereka cintai. Jika tidak, maka mereka baik sengaja ataupun tidak berarti telah mengikuti orang yang tidak  mengharapkan kebaikan bagi agama Islam ini.  Dalam kenyataannya, permasalahan ilmu kalam telah dimunculkan oleh beberapa orang nasrani yang kemudian memeluk Islam tetapi tidak ikhlas pada-Nya. Diantara hal yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Ghailan ad-Damasyqi pada mulanya sebelum menganut Islam adalah orang Qibti (Nasrani dari Mesir). Dan dialah orang yang paling gencar menyerukan masalah qodar. Misalnya apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya Kitabu al-Ma'arif, hal 166:

"Ghailan ad-Damasyqi adalah orang Qibti yang tidak ada searang pun sebelumnya membicarakannya dan menyeru kepada masalah qodar kecuali Ma'bad al-Jahni. Dan Ghailan memiliki julukan Abu Marwan. Lalu ditangkap oleh Hisyam ibnu Malik (wafat pada tahun 125 H), kemudian disalib di pintu gerbang kota Damaskus."

Sebagaimana halnya dahulu, sekelompok nasrani yang masuk Islam telah membahas tentang berbagai syubhat yang mengangkut aqidah, khususnya masalah taqdir, kita akan menemukan pula bahwa sekelompok Yahudi yang masuk Islam telah menimbulkan berbagai syubhat; tentang penyerupaan dan penitisan/penjelmaan Allah swt. Untuk itu dibuatlah cerita-cerita dan riwayat palsu. Asy-Syahru Satani berkata:

"Kebanyakan berita-berita/cerita yang dibuat berkenaan dengan masalah penyerupaan Dzat Allah berasal dari Yahudi. Dan sesungguhnya sikap demikian sudah merupakan tabi'at mereka. Barangkali, Abdullah ibnu Saba' yang dahulu seorang Yahudi kemudian masuk Islam merupakan orang yang pertama kali memunculkan perkara-perkara Syubhat dan bid'ah tentang penyerupaan Allah disamping sikap ekstrim dan dan berlebih-lebihan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abdul Qadir al-Baghdady di dalam kitabnya al-Farqu Bainal Firoq, hal 214."


 Wallahu'alam


 Sumber : Buku Kekeliruan Ilmu Kalam

Penulis: Syamsuddin Ramadhan

Cet. I, Rajab 1424 H–September 2003 M



DOWNLOAD EBOOK ISLAM


[ Read More ]

10 HAL YANG DAPAT MENUMBUHKAN CINTA !


Oleh : M. Ashabus Samaa'un

(www.ashabul-muslimin.tk)

 

Mukadimah Hadits

 

"Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia."

(HR. Ad-Dailami)

 

PENJELASAN

 

Apa itu cinta?" cinta adalah satu kata berjuta makna . Cinta adalah satu kata yang sulit dimengerti maknanya". begitulah kata seorang penyair.

Namun apakah makna cinta itu sebenarnya? Apakah cuman sekedar yaitu rasa saling suka kepada lawan jenis. Tapi umumnya orang mengartikan cinta seperti itu. Ada lagi yang mengartikan cinta adalah sebuah Kisah seorang remaja, ketika jalinan asmara yang menggebu-nggebu dalam batinnya sehingga dia mengatakan orang yang dicintainya adalah cinta sejatinya. Padahal Cinta itu tidak bermakna sesempit itu. Dan bisa jadi orang tersebut adalah salah kaprah mengartikan cinta sejati itu apa. Namun jika orang telah salah mengartikan cinta dampaknya bisa jadi sangat berbahaya. Kenapa? Mari kita simak kajian berikut.

 

 Memang cinta adalah kata yang paling sensitif dikatakan orang ketika dia telah menemukan seseorang yang dicintainya, apalagi bagi mereka yang masih remaja, percintaan adalah topik pokok dalam kehidupannya. Karena masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa kemudian rasa tertarik kepada lawan jenis itu tumbuh menjadi subur ketika dia mulai menginjak usia remaja alias masa pubertas. Maka tak heran sinetron-sinetron ABG kebanyakan membahas masalah itu-itu saja. Begitulah sinetron jaman sekarang, mungkin produser film sudah tahu kalau kebanyakan orang Indonesia itu pemirsanya kebanyakan ABG. Sehingga jika yang dibahas masalah asmaradana mungkin filmnya akan laku keras. Tapi mungkin dampaknya bisa jadi buruk karena sinetron itu mengajari pacar-pacaran anak-anak remaja yang masih labil mentalnya. Anak usia belasan umumnya gampang terpengaruh tontonan dan omongan orang lain, terkadang habis nonton dia terinpirasi untuk melakukannya dengan lawan jenisnya. Padahal pacaran itu adalah 'pemanasan' menuju zina besar (zina kemaluan). Tapi kebanyakan remaja sekarang mungkin telah jauh dari ilmu agama, ditambah lagi  juga dampak perkembangan globalisasi yang semakin menjauhkan manusia dari budi pekertinya. Sehingga tidak tahu bahaya pacaran sebenarnya. Justru kata remaja sekarang malah pacaran dibilang  gaul, trend, modern dan sebagainya. Padahal tidak tanggung-tanggung dampaknya akibat pacaran itu, yaitu merajalelanya perzinaan dan aborsi besar-besaran, naudzubillah. Karena pacaran adalah pintu terlebar dari semua pintu menuju perzinaan.

 

Kemudian kembali kepada masalah makna cinta. Berbeda dengan orang beriman, ia akan mengartikan cinta sebagai seluruh kepasrahan hidup, mati, ibadah dan amalannya segalanya hanya untuk Allah karena ia mengharapkan ridha Allah saja supaya mendapatkan keselamatan hidup dunia dan akhirat. Cinta adalah sesuatu yang sangat berbahaya jika disalah gunakan, misalnya seseorang yang mencintai wanita berlebihan namun wanita itu kafir sehingga dia bisa terancam terancam murtad dari agamanya karena ingin menikahi wanita kafir itu, tapi wanita itu menolaknya kecuali dengan syarat orang itu murtad, naudzubillah. hal itu pernah diceritakan dalam sejarah tentang seorang yang shaleh kemudian murtad karena jatuh cinta kepada wanita kafir, sebelum dia sempat menikahi wanita itu dia jatuh dari tangga  kemudian mati dalam keadaan kafir, sungguh sia-sia seluruh amal dan sesungguhnya balasan bagi orang yang kafir / murtad adalah kekal dijahanam selama-lamanya, naudzubillah. Senada apa yang difirmankan Allah ;

"Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" [Al-Baqarah: 217].

 

Selain cinta kepada lawan jenis yang membabi buta, ada lagi yang bisa menyebabkan orang mendapatkan kesengsaraan dunia dan akhirat, yaitu orang dewasa yang mencintai anak-anak, istri, harta kekayaan, pangkat dan jabatan melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga semua hal yang dicintainya itu melalaikan dia dari beribadah. Oleh karena itu mencintai sesuatu lebih besar daripada cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kepada Islam maka bisa dibilang haram/termasuk perbuatan musyrik. Karena terancam apa yang difirmankan Allah SWT berikut ini ;

"Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (pada hari kiamat).' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Qs. At Taubah: 24)

 

Kemudian Ibnu Katsir rahimahulullah menjelaskan , "Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian." (dari kitab Al Qur'an Al 'Azhim, karya Ibnu katsir 4/124)

 

Sungguh karena berbahayanya penyakit cinta buta yaitu cinta yang dilandasi hawa nafsu bukan dilandasi keimanan, maka hanya karena cinta buta itu seseorang bisa masuk neraka walaupun amalnya sebesar bola dunia. Karena Nabi Muhammad saw telah mengatakan bahwa seseorang pada hari kiamat nanti akan masuk surga atau neraka bersama seseorang yang paling dicintainya, jika yang dicintai termasuk ahli surga maka dia akan ikut masuk surga meski amalnya tak seberapa, jika yang dicintainya ahli neraka maka dia akan masuk neraka meski amalnya sebesar bola dunia. maka kita sebagai orang beriman pantas hati-hati dalam masalah cinta.

 

Tetapi selain cinta buta yang berbahaya ada juga cinta yang membawa manusia kedalam surga yaitu cinta yang dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga dia mengihlaskan segala amalan dan seluruh umur hidupnya hanya untuk  berjuang dijalan Islam. Itulah yang menyebabkan Allah ridha memberikan surga yang abadi untuknya. Nabi SAW pernah bersabda Dari Anas bin Malik RA, "Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, "Kapankah kiamat datang?" Nabi pun SAW menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW" Maka Rasulullah SAW pun bersabda, "Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai." Anas pun berkata, "Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi SAW, 'Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.'" Anas kembali berkata, "Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka." (HR. Al-Bukhari) 

 

Artinya dalam hadits diatas walaupun seseorang itu amalnya sedikit namun dia bisa beruntung masuk kedalam surga karena mencintai Allah dan Rasul-Nya. Karena jika kita mencintai Allah, Allah juga akan mencintai kita. Jika sebaliknya kita menaruh cinta kepada makhluk lebih besar daripada cintanya kepada Allah maka berhati-hatilah, karena Allah akan mengacuhkannya. Bahkan tidak mendengar doanya karena dia telah syirik kepada-Nya. Dan dia bisa terancam masuk neraka jika yang dicintainya itu melalaikan dia dari Ibadah, atau bahkan memurtadkannya dari agama.

 

Oleh karena itu Rasulullah telah memberi nasehat besar bahwa siapa saja yang mencintai kepada makhluk maka jangan berlebihan karena suatu saat nanti dia akan berpisah (entah karena mati/perceraian) tapi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tak mengenal perpisahan. Nabi saw bersabda "Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya." (H.R. Hakim) 

 

Orang mukmin pun belum dikatakan sempurna imannya meski sempurna ibadahnya  sebelum dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada segala sesuatu. Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasehat begini "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtua dan, anaknya dan manusia semuanya"(HR. Al-Bukhari)

 

Cinta memang sudah menjadi fitrah (bawaan) manusia sejak lahir. Cinta tidak akan bisa hilang dari naluri manusia. Tapi cinta bisa berbahaya jika disalah gunakan atau mencintai sesuatu yang tidak semestinya secara berlebihan. Karena begitu pentingnya cinta maka bagaimanakah cara menumbuhkan dan menambahkan cinta supaya kita benar-benar jadi hamba-Nya yang bahagia. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan sepuluh sebab yang akan menumbuhkan dan menambah rasa cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Berikut sepuluh sebab tersebut :

1.      Membaca Al-Qur`ân dengan tadabbur (penghayatan) dan memahami maknanya.

2.      Memperbanyak ibadah nafilah (sunnah) setelah menunaikan ibadah-ibadah wajib. Misalnya puasa senin-kamis, atau shalat dhuha.

3.      Memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan.

4.      Lebih mendahulukan pelaksanaan dari apa yang dicintai oleh Allah, walaupun hal tersebut menyelishi hawa nafsunya.

5.      Membawa hati untuk mencermati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan menelusuri taman-tamannya (majelis ilmu).

6.      Menyaksikan kebaikan, kebajikan dan nikmat-nikmat Allah kepada makhluk-Nya.

7.      Menundukkan diri di hadapan Allah Subhânahu wa Ta'âla.

8.      Berkhalwat dan bermunajad (berdzikir) kepada-Nya di waktu malam, terkhusus pada sepertiga malam terakhir.

9.      Duduk dengan orang-orang shalih.

10. Menghindari segala sebab yang bisa memisahkan antara hatinya dengan Allah 'Azza wa Jalla.

 

Demikianlah semoga bermanfaat dan segala kekurangan kami mohon maaf.

 

Wallahu'alam

 

Refrensi Tulisan :

- muslim.or.id,

- alsofwah.or.id 

berbagai sumber

[ Read More ]

[Hadits Nabi] : Syarat-syarat Keluarga Yang Sakinah dan Bahagia

Rasulullah pernah bersabda"Apabila Allah menghendaki, maka rumah tangga yang Bahagia itu akan diberikan kecenderungan senang mempelajari ilmu- ilmu agama, yang muda-muda menghormati yang tua-tua, harmonis dalam kehidupan, hemat dan hidup sederhana, menyadari cacat-cacat mereka dan melakukan taubat."
(HR Dailami dari Abas ra)

Penjelasan Hadits


Salah satu dari sekian banyak hajat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam kehidupan di dunia ini ialah membentuk rumah tangga. Untuk membentuk rumah tangga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan harus diikat dengan sebuah pertalian akad yang biasa disebut dengan pernikahan. Ikatan yang dijalin antara keduanya harus didasari pula dengan rasa cinta kasih agar dalam rumah tangga yang dibina itu akan tercipta rasa ketentraman dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum 21:

"Sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah, yaitu diciptakan-Nya untukmu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri agar supaya kamu mendapat sakinah (ketenangan hati). Dan dijadikan-Nya kasih sayang antara kamu (suami-isteri). Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."(Ar-Ruum ayat 21)

Menurut hadist Rasulullah SAW, yang dilansir di awal tulisan ini, paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh pasangan suami istri:


Pertama . Harus banyak mempelajari ilmu-ilmu agama. Faktor ajaran Islam memegang peranan penting karena ajaran agama (Islam) ini merupakan petunjuk untuk membedakan antara yang hak dan batil, antara yang menguntungkan dan merugikan, yang pada gilirannya merupakan pegangan dalam meniti kehidupan berkeluarga.

Salah satu contoh ajaran Islam, walaupun seorang laki-laki dan perempuan sudah membina rumah tangga, harus tetap berbakti kepada kedua orangtua kedua belah pihak sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini: "Ridho Allah tergantung kepada keridhaan orang tuanya dan murka Allah juga diakibatkan kemurkaan orang tuanya."

Berbakti kepada orang tua bukan cuma memberikan material semata, tetapi banyak cara termasuk berbakti kepada mereka yang sudah meninggal dunia dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT memohon keselamatan dan ampunan bagi mereka.

Pihak keluarga muslim yang bahagia adalah ketakwaan kepada Allah SWT yang didirikan berdasarkan ilmu keagamaan. Dengan pilar ini maka semua kekurangan akan dapat dilengkapi. Dia juga pematri pemandu hati, pembina watak dan pembersih jiwa. Dengan ketakwaan juga dia akan menjadi kompas penunjuk hak dan pengikat kewajiban dan dia pulalah pemudah semua kesulitan dan penangkal segala kejahatan. Takwa juga akan menjadi pemacu segala kebajikan dan pemersatu segala perbedaan.

Kedua. Akhlak dan Kesopanan. Di dalam rumah tangga yang bahagia sudah terjalin hubungan harmonis antara sesama keluarga. Mereka yang muda menghormati yang tua, begitu juga sebaliknya yang tua menghargai dan mencintai yang muda. Sikap saling menghormati dan menyayangi dalam keluarga ini digariskan dalam sebuah hadist Rasulullah SAW: "Tidaklah termasuk umatku orang-orang yang tidak menghormati orang tua dan orang yang tidak menyayangi orang-orang kecil/muda."

Ketiga. Etika Pergaulan. Dalam rumah tangga yang bahagia akan tercermin melalui keharmonisan antara sesama anggota keluarga. Masing-masing anggota keluarga dapat menempatkan diri dan menjalankan tugasnya masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Suami bertanggung jawab terhadap isteri dan anak-anak, sedangkan isteri tidak membuat kebijakan tanpa sepengetahuan suami. Demikian pula anak-anak selalu mematuhi kehendak orang tuanya. Dalam rumah tangga yang bahagia tidak ada perasaan saling mencurigai dan saling salah menyalahkan.


Keempat. Hemat dan Hidup Sederhana. Rumah tangga yang serba berkecukupan dengan harta benda yang melimpah belum menjamin penghuninya berbahagia. Malahan dengan harta melimpah disertai kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang luas sering menimbulkan persoalan yang tiada henti.
Akibatnya kehidupan dalam keluarga kurang harmonis karena tidak ada lagi komunikasi atau terbatasnya untuk bersama dalam keluarga karena sibuk dengan kepentingan masing-masing. Inilah salah satu penyebab retaknya kehidupan rumah tangga. Namun sebagian besar penyebab kehancuran suatu rumah tangga karena tidak pandai berhemat dan tidak memikirkan bagaimana hidup esok hari.


Kelima Menyadari Cacat Diri Sendiri masing-masing anggota keluarga. Sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang tidak menyadari aib atau cacat diri sendiri. Tetapi melihat aib orang lain sudah menjadi tren yang populer. Dalam kehidupan rumah tangga yang bahagia, mereka tidak saling membuka aib, tetapi sebaliknya saling menutupi aib.  Kemudian yang harus disadari bahwa masing-masing orang memiliki kekurangan dan kelebihaan. Kekurangan dan kelebihan masing-masing inilah yang harus dimanfaatkan untuk saling mengisi dan menutupi sehinga selaras dan serasi.

Sebagai tambahan selain kelima faktor barusan, guna mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia, adalah dengan tidak melupakan hidayah dan petunjuk-petunjuk Allah SWT sebagaimana dilukiskan dalam Alquranul karim Surat Al-Hasyr 19:

 "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."  (QS Al-Hasyr 19)

Wallahu'alam

 

Sumber : (koran sriwijayapost)

 

[ Read More ]

Syair Islam : Waspadalah Teroris (khawarij)



wahai saudaraku,

ijinkan aku berbagi sesuatu

yaitu tentang serigala berbulu domba

ciri-ciri teroris yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya

diantara miliaran manusia dimuka bumi

ada sekelompok manusia yang merasa dirinya paling benar jalannya

kemudian mengejek, mengolok-olok yang lain,

memboikot, merampas hak milik saudaranya

demi kepentingan golongannya,

katanya bertujuan untuk menegakkan kebenaran hakiki,

namun akhirnya hanya untuk memperkaya diri sendiri,

terkadang perbuatan bertolak belakang dengan apa yang mereka katakan,

mereka melarang orang lain berbuat kejelekan

tapi mereka melakukan kejelekan yang lebih berat,

mereka mengatakan kebenaran

tetapi mereka mengingkari kebenaran itu dengan perbuatan mereka.

Penampilan mereka bagus

namun sayang hati mereka kotor dan lusuh.

Kepada orang diluar golongannnya mereka menyombongkan diri,

kepada orang didalam golongannya sendiri terkadang mereka ribut sendiri

padahal hanya karena hal yang sepele.

Mereka lebih suka memandang orang dari penampilan bukan dari akhlaqnya.

Mereka menodai kitab suci dengan perkataan mereka yang sombong

dan mereka gunakan ayat suci untuk menyerang dan mencela orang lain,

Sungguh kitab suci mengajarkan kepada mereka supaya berakhlaq mulia kepada sesama

namun perbuatan mereka sebaliknya.

Meskipun mereka hafal kitab suci

namun tak lebih dari menyangkut dikerongkongannya,

sama sekali tak masuk kedalam hatinya.

Hal itu tercermin dari perbuatan mereka yang mengingkari ajaran kitab suci

padahal mulut mereka banyak mengatakan ayat suci.

Mereka menyangka mereka paling masuk surga,

padahal surga itu milik Allah Bukan milik nenek moyang mereka.

Mereka menyesatkan banyak manusia dengan cara yang samar,

memang tak ada yang lebih berbahaya daripada iblis berpakaian sorban

Wahai Saudaraku jangan ikuti jejak mereka

Jika tidak ingin divonis oleh Rasulullah sebagai…

Anjing-anjing penghuni neraka, ..

naudzubillah."

 

( Syair Ashabul Muslimin)

[ Read More ]

Nasehat Islam : Janganlah Suka Mencari Muka Manusia


Waspadalah kepada riya' dan atau cari muka

"Meskipun kau mampu lampui ujung barat sampai ujung timur bumi, kau daki seribu gunung, kau taklukan samudra luas, kau telasak seribu hutan rimba belantara, dan kau susuri padang pasir luas nan gersang kering kerontang namun jika  hanya untuk mencari wajah manusia (perhatian, kecintaan, popularitas dan simpati orang lain) hal itu sungguh perbuatan sia-sia hanya akan menimbulkan sesal akhirnya. Mencari wajah kepada manusia seperti bergantung pada akar yang lapuk sedangkan mencari wajah (ridha) Allah SWT seperti bergantung pada tali yang amat kuat. Kecintaan manusia bersifat sementara, dan kau hanya akan dibuat lelah seumur hidup jika mencarinya sedangkan kecintaan Tuhanmu kekal slamanya dan lebih baik balasannya. Hati-hatilah dengan amal yang sia-sia yaitu beramal untuk mencari muka manusia. Diakhirat amalnya seperti debu yang berterbangan, tak berarti apa-apa".

(Syair Ashabul Muslimin)


[ Read More ]

Islam Memang Mengajarkan Kerukunan dan Menghargai orang lain

Oleh : Azhari Akmal Tarigan

(Penulis Koordinator Tim Penulis Tafsir Al-Qur'an UTS dan  Dosen Fak. Syari'ah IAIN.SU Medan)
Saya yakin, kerukunan antar umat beragama tidak akan pernah terwujud secara harmonis dan langgeng sepanjang tidak ada penghargaan antar sesama. Penghargaan yang saya maksud adalah penghargaan minoritas (apakah Kristen yang menjadi minoritas ataukah Islam menjadi minoritas) terhadap kelompok mayoritas. Disparitas minoritas-mayoritas tidak perlu ditutup-tutupi karena realitasnya demikian. Tidak juga salah jika minoritas – mayoritas dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan termasuk dalam pendirian rumah ibadah.

 
Sebelum lebih jauh saya mendiskusikan tema di atas, saya ingin bercerita tentang pengalaman peribadi saya terlebih dahulu. Antara tahun 2003-2004 saya dan keluarga tinggal di Jln.****** pinggiran Kota Medan.  Di depan rumah kontrakan saya terdapat sebuah Geraja yang besar dan cukup ramai. Tidak saja pada hari minggu tetapi juga pada hari-hari lainnya. Jika hari minggu, sejak pagi sampai siang hari, gereja penuh sesak dikunjungi jama'atnya. Biasanya, anak-anak jadwalnya lebih pagi dan orang dewasa jadwal ibadahnya pada siang hari. Mereka melakukan ritual dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Sangat jelas terdengar oleh saya lagu-lagu rohani yang menembus dinding rumah saya.

Apakah saya merasa terganggu ? Pada mulanya ia. Saya dan keluarga tertanggu. Anak saya yang masih berada di TK hampir hapal "lagu rohani" tersebut, setidaknya iramanya.. Bahkan beberapa kali saya menyaksikan ia bermain-main di halaman gereja bersama teman-temannya yang Muslim dan Kristen. Saya mengaku terganggu karena seumur-umur, saya tidak pernah tinggal dekat gereja. Jadi saya tidak pernah tahu bagaimana orang Kristen beribadah. Saya juga tidak pernah mendengar mereka bernyanyi. Tapi sewaktu tinggal di jln. P, saya menyaksikannya setiap minggu. Perlahan namun pasti  saya akhirnya dapat "menikmati" ibadah mereka. Mendengarkan lagu-lagu pujian yang bagi saya, itulah tasbih dan zikir mereka. Saya percaya, mereka sedang beribadah yang menurut mereka itulah yang benar. Apakah saya harus protes ! Haruskah saya mengekspresikan rasa tidak senang saya ! Tentu saja tidak. Saya sadar bahwa keyakinan tidak bisa dipaksanakan, tidak juga bisa disamakan. Sama sadarnya saya, bahwa kami adalah pendatang. Tambahan lagi, jumlah muslim di daerah tersebut sedikit. Wajarlah, kendati di belakang rumah saya ada mushalla, tetapi saya tidak pernah mendengar suara Toa berdering pada waktu shubuh. Paling-paling hanya azan. Mengapa orang Islam tidak memaksakan dirinya untuk menghidupkan Toa. Jawabnya karena kita menghargai mereka yang mayoritas. Kita tidak ingin menggangu mereka.

Menariknya, kehidupan di tempat tersebut cukup harmonis. Saya yang pendatang dan secara kolektif menjadi minoritas di tempat itu harus menghormati dan menghargai masyarakat sekitarnya. Inilah sunnatullahnya. Tidak ada konflik. Saya yang kerap pulang malam sehabis dakwah di tempat yang jauh tidak pernah di ganggu. Saudara-saudara saya yang Kristen begitu sangat bersahabat. Hampir satu tahun saya tinggal di tempat tersebut. Saya tidak pernah menghadapi masalah. Bahkan ketika saya pindah ke rumah yang permanent, mereka membantu saya. Pengalaman tersebut mengajarkan kepada saya, kerukunan antar pemeluk agama hanya dapat dibangun, jika ada saling menghargai dan menghormati; antara pendatang dengan penduduk asli, kelompok minoritas dengan mayoritas. Bukankah tidak ada manfaatnya membenturkan keyakinan dan kepercayaan yang sifatnya sangat ruhani tersebut.

Hemat saya, konflik yang terjadi antara Islam dan Kristen di Indonesia salah satu sebabnya adalah karena kelompok pendatang dan minoritas kerap memaksakan kehendaknya. Hubungan Islam dan Kristen dalam sejarahnya, termasuk di Indonesia, diwarnai rasa "marah" bahkan dalam tingkat tertentu rasa bermusuhan kendati dalam sunyi. Hal ini semakin dipicu, karena kedua agama tersebut merupakan agama risalah, yang memiliki dan mengakui klaim keselamatan hanya ada pada agamanya. Suasana yang seperti ini, jika tidak disikapi dengan jujur dan terbuka, akan melahirkan konflik horizontal.

Bagi saya, salah satu wujud keterbukaan dan keberterusterangan itu adalah, adanya keharusan bagi kelompok minoritas dan pendatang untuk menghargai kelompok asli dan menjadi mayoritas. Bagi umat Islam di Bali atau di daerah Batak, ketika menjadi minoritas, harus menghargai saudaranya yang mayoritas atau penduduk asli di daerah tersebut. Adalah sikap yang tidak bijaksana jika mereka yang minoritas memaksakan dirinya untuk mendirikan masjid. Harus dibedakan larangan beribadah dengan larangan mendirikan rumah ibadah. Selama ini kita kerap menyamakan antara beribadah dengan mendirikan rumah ibadah. Sesungguhnya mendirikan rumah ibadah tidak wajib. Ajaran Islam menegaskan bahwa seluruh bumi Allah ini dapat dijadikan masjid dalam makna "tempat sujud" bukan dalam arti bangunan yang memiliki kubah. Muslim yang minoritas tidak perlu untuk menggunakan Toa yang voltasenya maksimal ketika azan, baca Qur'an atau tabligh. Kita harus menenggang rasa terhadap mereka yang mayoritas. Itulah cermin kedewasaan beragama.

Demikian pulalah halnya jika umat Kristen menjadi pendatang dan minoritas di daerah tertentu. Adalah tidak bijaksana jika ekspresi keberagamaannya didemontrasikan sedemikian rupa. Wajar saja di sebuah kampung yang penduduknya mayoritas muslim merasa tersinggung, jika kelompok minoritasnya memaksakan diri untuk mendirikan rumah ibadah. Lebih-lebih jika aturan-aturan hukum dicoba untuk "diutak-atik". Tidak tepat juga jika kita menggunakan alasan Hak Asasi Manusia. Bagi saya yang menjadi hak asasi adalah beribadah bukan mendirikan rumah ibadah.

Saya terkadang heran saja, jika ada pihak yang mencoba menafikan logika mayoritas-minoritas.  Faktanya ada pemeluk agama yang menjadi mayoritas tetapi juga ada yang minoritas. Ini adalah realitas yang tidak dapat dibantah dan merupakan kenyataan sosial yang terdapat di mana-mana. Dalam konteks etnik realitasnya juga demikian; ada etnik asli, ada pula etnik pendatang. Di Indonesia Islam menjadi mayoritas secara totalitas penduduk negeri ini. Tetapi di daerah-daerah tertentu, Islam menjadi minoritas. Lihatlah di Karo juga di daerah Tapanuli atau di Nias. Lihat pula di Bali, Irian Jaya, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa bagian Indonesia Timur lainnya. Tanyalah umat Islam di sana. Bagaimana mereka diperlakukan. Sudahkan adil dan bermartabat. Bagi saya, sepanjang hak-hak dasar, beragama (beribadah), keselamatan jiwa, keturunan, harta dan akal  (al-dauiriyat al-khamsah) kelompok minoritas tidak terganggu, maka tidak ada yang perlu di desakkan dan dipaksakan.

Saya teringat kejadian tahun 1967 ketika terjadi konflik agama di Indonesia. yaitu pengrusakan geraja di Meulaboh, Aceh (Juni 1967), perusakan gereja di Ujung Pandang, Makasar (Oktober 1967) dan beberapa kasus lainnya. Sewaktu M. Natsir pulang dari lawatannya ke luar negeri, ia diminta berkomentar tentang hubungan Islam – Kristen di Indonesia. Pokok pemikiran yang disampaikan Natsir adalah, apa yang terjadi itu sesungguhnya dampak-ekses dari satu peristiwa atau fenomena yang dirasakan tidak adil. Apakah masih sesuai dengan Pancasila jika pemeluk agama tertentu dengan berbagai caranya memaksakan orang-orang yang telah beragma untuk berpindah agama. Apakah sesuai dengan Pancasila, jika di daerah yang hampir tidak dijumpai pemeluk agama tertentu berdiri rumah ibadah yang cukup megah ! Akhirnya, M. Natsir menawarkan perlunya etika dalam dakwah. Tidak ada boleh pemaksaan dalam hal keyakinan beragama. Dakwah harus disampaikan dengan penuh kejujuran dan ketulusan. Dakwah memerlukan kearifan, kebijaksanaan, bukan provokasi apa lagi menghasut dan menjelekkan agama tertentu dengan tujuan untuk merubah dan menggeser keyakinan orang lain. Jika orang harus berpindah agama, sejatinya perpindahan itu didasarkan pada pencarian dan penemuan kebenaran itu sendiri.

Bagi saya salah satu bentuk perwujudan dari etika tersebut adalah saling menghargai dan menghormati kelompok minoritas terhadap kelompok mayoritas. Jika ini terwujud, maka efeknya akan muncul saling  menghargai antar sesama. Pada gilirannya, yang mayoritas menjadi pelindung bagi minoritas. Sejarah Islam menunjukkan, ketika Islam menjadi mayoritas dan non muslim menjadi minoritas, yang tercipta adalah kedamaian dan ketenteraman. Jika ada yang ragu, marilah kita kembali menolah sejarah dan membacanya dengan jujur.

Mungkin apa yang ditawarkan ini bagi sebagian orang terasa naïf. Namun semangat yang ingin dikemukakan adalah dalam membangun kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia, kita perlu terbuka, apa adanya, jujur dan tanpa perasangka. Saya khawatir, pemerintah kerap menyatakan tidak ada konflik agama, tetapi masyarakat merasakannya. Saatnya pemerintah, pejabat, tokoh organisasi agama (bukan tokoh agama) berhenti berbicara dan tanyalah umat beragama, apa sesungguhnya yang mereka rasakan. Selanjutnya apa yang mereka inginkan. Jangan-jangan, apa yang dinyatakan pemeluk agama dengan apa yang diinginkan tokohnya tidak sama.(sumber : koran waspada)

 


 




[ Read More ]

    close
    Banner iklan disini

    Kunjungan Anda

    Total Tayangan Halaman