berbagi pengetahuan tentang Islam diakhir zaman.بِـسْـمِ اللهِ

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Tokoh Islam : Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Beliau ( Lahir: 691 H. - Wafat: 751 H. )

1. NAMA DAN KELAHIRAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Namanya:

Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'd bin Hariz bin Makki,
Zainuddin az-Zura'i, kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali.

Kunyahnya:

Abu Abdillah, dan gelarnya: Syamsuddin. Dia masyhur dengan Ibnu Qayyim
al-Jauziyah. Dimutlakkan padanya secara ringkas dengan nama Ibnu
al-Qayyim, dan tidak benar dimutlakkan padanya dengan Ibnu al-Qayyim
al-Jauziyah. Sebab pemimpin Madrasah al-Jauziyah di Damaskus adalah
ayah-nya, Abu Bakar Ibnu Ayyub az-Zura'i, lalu keturunannya dan anak
cucu mereka setelah itu masyhur dengannya. Kemudian salah satu dari
mereka dipanggil dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Sedangkan al-Jauzi adalah nisbat kepada suatu tempat di Bashrah. Ada
yang mengatakan, dinisbatkan kepada al-Jauz (buah kelapa) dan jual
belinya.

Kelahirannya:

Dr. Bakar Abu Zaid mengatakan, Kitab-kitab biografi ber-sepakat bahwa
sejarah kelahirannya pada 691 H.

Muridnya, ash-Shafadi menyebutkan kepastian hari dan bulannya, dengan
men-jelaskan bahwa kelahirannya pada tanggal 7, bulan Shafar dari
tahun tersebut. Pendapatnya ini diikuti oleh Ibnu Taghri Bardi,
ad-Dawuri, dan as-Suyuthi. Aku belum pernah melihat ada orang yang
menegaskan tentang tempat kelahirannya, apakah di Zura' ataukah di
Damaskus, selain al-Maraghi dalam Thabaqat al-Ushuliy-yin. Dia
mengatakan bahwa kelahirannya di Damaskus. Sementara mereka menyatakan
mengenai biografinya dan biografi ayahnya, 'Az-Zura'i al-Ashl (asalnya
orang Zura'), kemudian ad-Dimasyqi.' Seperti diketahui bahwa istilah
mereka dengan pengungkapan ini terkadang dimaksudkan untuk menunjukkan
tempat kelahiran kemudian tempat berpindah bagi orang yang dikemukakan
bio-grafinya. Bisa juga yang mereka maksudkan bahwa orang tuanya atau
kakek-kakeknya, misalnya, dari negeri ini, kemudian berpin-dah ke
negeri lainnya. Wallahu a'lam.

2. PUJIAN ULAMA KEPADA IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Ibnu Rajab al-Hanbali 5 mengatakan, Dia bertafaqquh dalam madzhab,
menguasai dan berfatwa, konsisten menyertai Syaikh Taqiyyuddin Ibnu
Taimiyah, dan menguasai berbagai disiplin ke-ilmuan Islam. Dia
memiliki pengetahuan tentang tafsir yang tidak tertan-dingi,
ushuluddin, dan ilmu ini berpuncak kepadanya, hadits berikut maknanya,
fikihnya, dan detil-detil istinbath darinya yang tidak bisa disamai
oleh orang lain dalam hal tersebut, fikih dan ushulnya, bahasa Arab,
dan dia memiliki penguasaan yang luas terhadapnya, ilmu Kalam, nahwu
dan selainnya.

Dia mengetahui ilmu Suluk (perilaku), ilmu kalam ahli Ta-sawwuf,
isyarat, dan detil-detil mereka. Dia memiliki penguasaan yang luas
terhadap ilmu-ilmu ini. Ibnu Katsir mengatakan tentangnya, Dia
mendengarkan hadits, sibuk dengan ilmu, dan menguasai berbagai macam
ilmu, terutama ilmu tafsir, hadits, dan dua asal. Ketika Syaikhul
Islam kembali dari negeri Mesir pada 712 H., dia menyertainya hingga
Syaikh wafat. Dia mengambil ilmu yang melimpah darinya, di samping
kesibukan yang telah dilakukannya sebelumnya. Dia terus mendapatkan
tambahan di pintunya dalam berbagai disiplin ilmu, di samping banyak
melakukan pencarian di malam dan siang hari, serta banyak berdoa. Ibnu
Nashir ad-Dimasyqi mengatakan, Dia memiliki berba-gai macam disiplin
ilmu, terutama tafsir dan ushul berupa manthuq (tekstual) dan mafhum
(kontekstual).

Adz-Dzahabi mengatakan, Dia menaruh perhatian terhadap hadits, matan
dan rijalnya. Dia menyibukkan diri dengan fikih, dan menerangkannya
dengan bagus. Juga dalam bidang Nahwu, dan mendalaminya, serta
memahami dua ushul (fikih dan nahwu).

Asy-Syaukani mengatakan, Dia menguasai berbagai macam ilmu,
mengungguli orang-orang sejawatnya, masyhur di berbagai penjuru, dan
memiliki pengetahuan yang luas tentang pendapat-pendapat salaf.

Al-Qadhi Burhanuddin az-Zura'i mengatakan, Tidak ada di bawah kolong
langit ini orang yang lebih luas ilmunya daripada-nya. Dia mengajar di
ash-Shadariyyah, dan memimpin di al-Jau-ziyah dalam waktu yang lama,
serta menulis dengan tangannya sesuatu yang tak terhitung banyaknya.

Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin asy-Syafi'i mengatakan, Asy-Syaikh
al-Allamah Syamsuddin, salah satu ahli tahqiq, tokoh penga-rang, ahli
tafsir yang jarang ditemui, memiliki karya-karya yang bagus berkenaan
dengan ilmu-ilmu syariat dan hakikat.

Al-Hafizh as-Suyuthi mengatakan, Dia menjadi salah seorang imam besar
dalam bidang tafsir, hadits, furu', dua pokok, dan bahasa Arab.

Al-Qadhi Abdurrahman at-Tafahni al-Hanafi mengatakan, (Beliau adalah)
murid Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang karya-karyanya
tersebar di berbagai penjuru. Dia mengatakan juga, Seandainya dia
(Ibnu Taimiyah) tidak memiliki peninggalan kecuali ilmu yang melekat
pada muridnya, Ibnu al-Qayyim, niscaya itu sudah cukup.

Mulla Ali al-Qari mengatakan mengenainya dan mengenai syaikhnya, Siapa
saja yang menelaah Syarah Manazil as-Sa`irin, maka tampak jelas
baginya bahwa keduanya termasuk di antara tokoh Ahlus Sunnah wal
Jama'ah, dan di antara wali umat ini.

Shiddiq Hasan Khan mengatakan, Ulama agung (tokoh yang tinggi kedudukannya).

3. IBADAH DAN AKHLAK IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, Dia memiliki ibadah dan tahajjud,
shalat panjang hingga mencapai klimaksnya, beribadah, berdzikir, lahap
dengan cinta, inabah (taubat), istighfar, butuh kepada Allah, tunduk
kepadaNya, dan bersimpuh di hadapanNya di pintu ubudiyahNya. Aku tidak
pernah menyaksikan orang seper-tinya dalam hal itu. Aku juga tidak
pernah melihat ada orang yang lebih luas ilmunya daripadanya, dan
lebih tahu tentang makna al-Qur`an dan Sunnah serta hakikat iman
daripadanya. Namun dia bukanlah orang yang ma'shum. Tetapi aku tidak
pernah melihat orang sepertinya berkenaan dengan semua itu. Dia
mendapatkan ujian, mendapatkan gangguan berkali-kali, dan dipenjara
bersama Syaikh Taqiyyuddin pada terakhir kalinya di penjara Damaskus
dalam keadaan terpisah darinya dan tidak dilepaskan kecuali sete-lah
kematian Syaikh. Selama masa dipenjarakan, dia menyibukkan diri
membaca al-Qur`an dengan tadabur dan tafakur. Dari situ, kebaikan yang
banyak terbuka di hadapannya, mendapatkan aspek cita rasa yang sangat
besar dan akibat yang benar. Disebabkan hal tersebut, dia menguasai
tentang ilmu-ilmu ahli ma'rifat dan me-nyeruak ke dalam relung mereka.
Karya-karyanya sarat dengan hal itu.

Dia berhaji beberapa kali dan bermukim sementara waktu di Makkah.
Penduduk mengutarakan tentangnya, karena kegigihan beribadah dan
banyak melakukan thawaf, sebagai suatu perkara yang menakjubkan.

Ibnu Katsir mengatakan, Aku tidak pernah mengetahui di dunia ini, di
zaman kami, orang yang lebih banyak beribadah dari-padanya. Dia
memiliki metode dalam shalat yang dia panjangkan sekali. Dia
memanjangkan rukuk dan sujudnya. Terkadang banyak sahabatnya yang
mencelanya, tapi dia tidak kembali dan tidak menarik diri darinya,
semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Hajar 5 mengatakan, Apabila dia telah Shalat Shubuh, maka dia
duduk di tempatnya untuk berdzikir kepada Allah hingga siang, dan dia
mengatakan, 'Inilah waktu makanku. Seandainya aku tidak makan, niscaya
kekuatanku menjadi lemah.' Dia pernah mengatakan, 'Dengan kesabaran
dan kefakiranlah, kepemimpinan dalam agama akan diraih.' Dia juga
mengatakan, 'Seorang peniti jalan itu harus memiliki semangat yang
bisa menjalankan dan me-naikkannya, dan ilmu yang bisa menerangi dan
menuntunnya'.

Ibnu Katsir 5 mengatakan, Dia adalah orang yang bagus bacaan Qur`annya
dan akhlaknya, banyak mencintai orang lain, tidak dengki kepada siapa
pun, tidak menyakitinya, tidak memper-budaknya, dan tidak dendam
kepada siapa pun. Ringkasnya, dia sangat sedikit keburukannya dalam
semua urusan dan ihwalnya, sedangkan yang lebih mendominasinya adalah
kebajikan dan akhlak yang utama.

4. PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN OLEH IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Dr. Bakar bin Abdullah Abu Zaid mengatakan, Siapa yang memperhatikan
biografi Ibnu al-Qayyim 5, maka dia mendapati-nya memiliki kecintaan
yang jujur dalam menuntut ilmu, kesung-guhan yang besar dalam mengkaji
dan meneliti, kebebasan dalam mengambil ilmu dari para syaikh, baik
dari Hanabilah maupun selainnya, dan melebur di jalan ilmu. Hal itu
telah bercampur de-ngan daging dan darahnya sejak usia dini, serta
bersemangat dalam mencari ilmu sejak masih kecil, pastinya pada saat
usia tujuh tahun. Hal itu tampak lewat perbandingan antara tarikh
kelahirannya 691 H. dengan tarikh kematian sejumlah syaikhnya yang
dari mereka dia menimba ilmu.

Di antara syaikhnya, ialah asy-Syihab al-Abir (wafat 697 H.). Dengan
demikian, dia mulai mendengar pada saat berusia tujuh tahun. Sungguh
Ibnu al-Qayyim memuji syaikhnya, asy-Syihab, dan dia menyebutkan
sekelumit dari ta'birnya terhadap mimpi dalam kitabnya, Zad al-Ma'ad,
kemudian mengatakan, Aku mendengar beberapa juz di hadapannya, dan aku
belum diperkenankan mem-baca ilmu ini di hadapannya karena masih
kecil, sementara kema-tian menjemputnya.' Di antara syaikhnya, ialah
Abu al-Fath al-Ba'labaki (wafat pada 709 H.), dan dia telah membaca
sejumlah kitab di hadapan-nya tentang nahwu, di antaranya Alfiyyah
Ibnu Malik. Alfiyyah dan sejenisnya seperti al-Muthawwalat (teks-teks
panjang lainnya) ber-kenaan dengan bahasa Arab, tidak dipelajari
kecuali oleh orang yang mampu, menguasai, dan mencapai puncak dalam
pencarian.

Artinya, dia telah menguasai bahasa Arab saat masih belum berusia 19 tahun.

Demikian pula tentang jumlah syaikh dan gurunya, sebagai-mana yang
akan disebutkan tentang guru-gurunya insya Allah. Se-sungguhnya
banyaknya penyimakan dan gurunya, melimpahnya ilmu yang dikuasainya,
dan banyaknya keahliannya di dalamnya, –padahal masa tinggalnya di
dunia ini (sekedar) hampir 60 tahun– menunjukkan kepada kita juga atas
kebenaran hasil (kesimpulan) ini.

5. UJIAN YANG DIHADAPI IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Ustadz Abdul Azhim Abdussalam Syarafuddin mengatakan, Dia mendapatkan
gangguan sebagaimana yang menimpa Syaikh-nya. Dia dipenjara bersamanya
di penjara setelah dihinakan, diarak di atas unta sembari dicambuk
dengan cemeti, dan dipenjara, karena mengingkari syadd ar-rihal
(memaksakan perjalanan jauh) untuk menziarahi kubur al-Khalil (seorang
penyair).

Dia juga mendapatkan ujian dalam hubungannya dengan para qadhi. Hal
itu karena dia berfatwa tentang bolehnya perlombaan dengan tanpa
muhallil (penengah), lalu as-Subki mengingkarinya dan memintanya
menarik pendapatnya, maka dia menarik apa yang difatwakannya. Yang
menjelaskan (problematika) ini adalah bahwa asy-Sya-fi'iyah,
Hanafiyyah dan Ahmad berpendapat bahwa jika seseorang berlomba (pacuan
kuda) dengan selainnya, dan salah satunya me-nyerahkan rahn (taruhan),
maka perlombaan pacuan kuda tersebut boleh. Apabila masing-masing dari
keduanya menyerahkan taruhan, maka perlombaan pacuan kuda tidak
diperbolehkan, kecuali jika keduanya memasukkan muhallil (peserta
lomba yang tidak dipungut taruhan) antara keduanya. Hal itu karena
perlombaan pacuan kuda dengan tanpa keberadaannya dalam kondisi ini
menjadi perjudian, karena masing-masing dari keduanya bertaruh untuk
mengambil jika menang dan diambil jika kalah. Sekiranya keduanya
memasukkan muhallil di antara kedua-nya, maka boleh bertaruh. Dia
adalah peserta lomba ketiga yang membawa kuda yang bisa menandingi
kuda keduanya, dan dia tidak membayar sedikit pun. Jika dia bisa
mengalahkan keduanya, maka dia mengambil taruhan yang diserahkan
keduanya. Jika muhallil bisa mengalahkan salah satunya, maka dia dan
pemenang berserikat pada harta orang yang terakhir. Jika keduanya
menga-lahkan muhallil, maka keduanya mengambil taruhan yang telah
keduanya keluarkan, dan muhallil tidak menanggung kerugian sedikit
pun. Pendapat mereka diselisihi Ibnu al-Qayyim, lalu dia berpen-dapat
tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda dengan tanpa muhallil. Bahkan,
dia cenderung tidak membolehkan muhallil. Pen-dapat yang disinyalir
darinya dalam masalah ini, ialah perkataan-nya, Pendapat tentang
muhallil (peserta lomba yang tidak dipungut taruhan) adalah madzhab
yang diambil manusia dari Sa'id bin al-Musayyab. Adapun sahabat, maka
tidak dihafal dari seorang pun dari mereka bahwa dia mensyaratkan
muhallil atau pemberi taruhan, padahal mereka banyak melakukan
perlombaan dan memberikan jaminan. Bahkan, yang dihafal dari mereka
ialah kebalikannya.

Dia mengemukakan dalil-dalil dari kalangan yang berpenda-pat tentang
muhallil dan membantahnya, kemudian mengemuka-kan dalil-dalil yang
melarang muhallil. Di antara yang disebutkan darinya sebagai
penjelasan tentang akibat yang ditimbulkan pada muhallil berupa
kebatilan pendapatnya, dan mengenai hal ini ada dua macam kerusakan:

Pertama, keluar dari keharusan berlaku adil, yang notabene adalah
penyerta syariat yang sempurna, berputar bersamanya, karena porosnya
adalah keadilan. Kedua, membuat orang yang menaati Allah dan RasulNya,
yang menyerahkan taruhan karena berkeinginan belajar perlom-baan
(pacuan kuda) agar memiliki kemampuan berjihad, menjadi lebih buruk
keadaannya daripada orang pinjaman ini yang nota-bene adalah penyusup.
Bahkan, penyusup ini, yaitu muhallil, hanya memperhatikan kepentingan
dirinya sendiri.

Dia dipenjara bersama Syaikhnya dalam keadaan terpisah darinya dan
tidak dilepaskan kecuali setelah kematian Syaikh. Selama masa
dipenjara, dia menyibukkan diri membaca al-Qur`an dengan tadabur dan
tafakur. Dari sanalah, kebaikan yang banyak terbuka di hadapannya.

Dia berhaji beberapa kali, dan bermukim sementara waktu di Makkah.
Penduduk mengutarakan tentang-nya, karena kegigihan beribadah dan
banyak melakukan thawaf, dengan suatu yang menakjubkan. Dr. Bakar bin
Abdullah Abu Zaid mengatakan yang ringkas-nya,

Banyak fatwa dan aqa'id (akidah) yang masyhur darinya, yang karena
sebagiannya dia mendapatkan gangguan, di antaranya sebagai berikut:

1. Masalah talak tiga dengan satu lafazh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
5 berfatwa bahwa talak tiga dengan satu lafazh dianggap satu. Ibnu
al-Qayyim berfatwa ten-tang masalah ini sejalan dengan pilihan
syaikhnya, Ibnu Taimiyah, sedangkan penduduk bumi pada umumnya
menerapkan bahwa talak tiga dengan satu lafazh dianggap tiga, bukan
satu. Ini adalah perkara yang karenanya menimbulkan pengingkaran dalam
jiwa, terutama jiwa yang memiliki wawasan luas tentang sejarah fikih
dan ilmu perselisihan.

Murid-muridnya menyebutkan gangguan yang menimpanya dikarenakan fatwa
ini. Ibnu Katsir mengatakan, Dia berfatwa tentang masalah talak
sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Taqiy-yuddin Ibnu Taimiyah, dan
karena sebab itu terjadi kerenggangan hubungan yang terlalu panjang
untuk disebutkan dengan Qadhi al-Qudhah Taqiyyuddin as-Subki dan
selainnya.

2. Fatwanya tentang bolehnya perlombaan (pacuan kuda) dengan tanpa
muhallil (peserta lomba yang tidak dipungut ta-ruhan).

3. Pengingkarannya terhadap syadd ar-rihal (memaksakan perjalanan
jauh) ke kubur al-Khalil.

Ibnu al-Qayyim berusaha sekuat tenaga mengembalikan khalaf ke jalan
Salaf. Ini menyelisihi sesuatu yang dianut oleh strata pemikiran di
masyarakat di mana dia hidup. Sebab masyarakat telah dikuasai oleh
sejumlah kesalahan dan dikepung oleh sejumlah keyakinan yang tidak
sejalan dengan madzhab salaf. Dan termasuk hal yang tidak bisa
dihindarkan bila Ibnu al-Qayyim mendapatkan gangguan sedemikian rupa,
ketika menyuarakan kebenaran secara lantang dalam masyarakat seperti
ini.

Di antara amalan yang diperhitungkan sebagai qurabat (pen-dekatan diri
kepada Allah), ialah syadd ar-rihal (memaksakan per-jalanan jauh) ke
kubur al-Khalil. Ibnu al-Qayyim mengingkari hal itu, menyampaikan
kepada orang-orang sezamannya, baik masya-rakat umum maupun
terpelajar, dan menjelaskan kepada mereka bahwa syadd ar-rihal
(memaksakan perjalanan jauh) ini merupakan perkara yang diingkari
dalam agama dan bid'ah yang menyelisihi jalan yang lurus. Hal itu
mengakibatkan pergolakan yang mence-ngangkan, sehingga dia
dipenjarakan karenanya. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Rajab, Dia
dipenjara pada satu masa, karena mengingkari syadd ar-rihal
(memaksakan perjalanan jauh) ke kubur al-Khalil.

6. GURUNYA DAN MURID IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Gurunya:

Ayahnya, Abu Bakar Ibnu Ayyub Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Abd ad-Da`im,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syihab al-'Abir, Ibnu asy-Syirazi,
al-Majdu al-Harrani, Ibnu Maktum, al-Kahhali, al-Baha` bin Asakir,
al-Hakim Sulaiman Taqiyyuddin Abu al-Fadhl bin Hamzah, Syarafuddin bin
Taimiyah, saudara Syaikhul Islam, al-Mutha'im, Fathimah binti Jauhar,
Majduddin at-Tunisi, al-Badr bin Jama'ah, Abu al-Fath al-Ba'labaki,
ash-Shaff al-Hindi, az-Zam-lakani, Ibnu Muflih, al-Mizzi.

Muridnya:

Al-Burhan bin al-Qayyim al-Jauzi, putranya Burhanuddin, Ibnu Katsir,
Ibnu Rajab, Syarafuddin bin al-Qayyim, putranya Abdullah bin Muhammad,
as-Subki, Ali bin Abdul Kafi bin Ali bin Tamam as-Subki, adz-Dzahabi,
Ibnu Abdil Hadi, an-Nabulsi, al-Ghazi, al-Fairuz Abadi al-Muqri.

7. HAJI DAN MUJAWARAH YANG DILAKUKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Dr. Bakar Abu Zaid mengatakan,

Murid terdekatnya, al-Allamah Ibnu Rajab 5 menyebutkan kepada kita
bahwa syaikhnya, Ibnu al-Qayyim 5 berhaji beberapa kali dan bermukim
sementara waktu di Makkah. Lalu dia menga-takan, Dia haji berkali-kali
dan bermukim sementara waktu di Makkah. Penduduk Makkah membicarakan
tentangnya, karena kegigihannya beribadah dan banyak melakukan thawaf,
sebagai suatu yang menakjubkan.

Ibnu al-Qayyim menyebutkan di sejumlah kesempatan dalam kitabnya
tentang sebagian ihwalnya, saat dia berada di Makkah –semoga Allah
senantiasa menyucikan dan mengaman-kannya–, di antaranya sebagai
berikut: 1. Dia menulis kitabnya, Miftah Dar as-Sa'adah wa Mansyur
Wilayah al-Ilm wa al-Iradah, saat bermukimnya di Makkah –semoga Allah
memeliharanya–. Dia mengatakan di akhir mukadimahnya, Ini adalah
sebagian hidangan dan hadiah yang telah Allah bukakan kepadaku ketika
aku memfokuskan diri untukNya di sisi BaitNya, menjatuhkan diri di
pintuNya dalam keadaan miskin lagi hina, mengharapkan hembusan dan
kekuatanNya di BaitNya, baik pagi maupun petang. Maka dia pun (yakni
dirinya) tidak terelakkan untuk mengutarakan segala hajatnya, dan
menggantungkan harapannya kepadaNya. Lalu dia memasuki pagi dalam
keadaan bermukim di pintuNya, dan singgah di tempat naunganNya.

2. Dia mencari kesembuhan dengan air Zamzam. Dia menga-takan, Pada
saat aku bermukim di Makkah, aku terkena berma-cam-macam penyakit,
sedangkan di sana tidak ada tabib dan tidak ada obat-obatan
sebagaimana di kota-kota lainnya. Maka aku ber-obat dengan madu dan
air Zamzam, ternyata aku melihat suatu yang menakjubkan di dalamnya
berupa kesembuhan.

3. Dia mengobati dirinya dengan ruqyah dan minum air Zamzam. Dia
mengatakan dalam kitabnya, Madarij as-Salikin, saat membicarakan
tentang ruqa (jamak dari ruqyah), Aku telah men-coba hal itu pada
diriku dan pada orang selainku perkara-perkara yang menakjubkan,
terutama saat bermukim di Makkah. Aku mengalami penyakit yang
mengganggu hingga nyaris aku tidak bisa bergerak, dan hal itu terjadi
pada saat thawaf dan selainnya. Aku pun bersegera membaca al-Fatihah,
dan mengusapkannya pada tempat yang sakit, ternyata seakan-akan
kerikil jatuh. Aku telah mencoba hal itu berkali-kali.

Aku mengambil sewadah air Zamzam, lalu aku membacakan al-Fatihah
padanya dan meminumnya, ternyata dengan hal itu aku mendapatkan
manfaat dan kekuatan yang belum pernah aku jumpai sebagai obat serta
perkara yang lebih besar daripada itu. Tetapi itu tergantung kekuatan
iman dan keyakinan yang benar. Hanya Allah-lah tempat untuk dimohon
pertolonganNya.

4. Tafa`ul (optimisme)nya tatkala putranya tersesat jalan pada hari Tarwiyah.

Dia mengatakan dalam Miftah Dar as-Sa'adah di akhir pem-bahasan
tentang fa`l (optimisme), Aku kabarkan kepadamu tentang diriku
mengenai kasus ini, yaitu aku kehilangan salah satu anakku pada hari
Tarwiyah di Makkah, sedangkan dia masih anak-anak. Aku berusaha
mencari-nya, dan memanggilnya di semua rombongan hingga waktu hari
kedelapan, ternyata aku tidak mendapatkan beritanya. Aku pun putus asa
karenanya, maka seseorang berkata kepadaku, 'Ini adalah kelemahan,
naiklah dan masuklah sekarang ke Makkah lalu carilah.' Aku pun menaiki
kuda, ternyata aku menjumpai segolongan orang berbincang-bincang dalam
kegelapan malam di jalan. Salah satu dari mereka mengatakan, 'Suatu
kampung telah kehilangan sesuatu lalu aku menemukannya.' Aku tidak
tahu, apakah selesainya kata-katanya itu lebih cepat ataukah
didapatinya anak itu pada sebagian penduduk Makkah, lalu aku
mengenalinya lewat suaranya.

8. KARYA TULIS IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH 5 YANG SUDAH DICETAK

1. Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah 'ala Ghazwi al-Mu'aththilah wa
al-Jahmiyyah, dicetak di India pada 1314 H., kemudian dicetak di Mesir
pada 1351 H.

2. Ahkam Ahl adz-Dzimmah, dicetak dengan tahqiq Shubhi ash-Shalih
dalam dua jilid.

3. Asma` Mu`allafat Ibnu Taimiyah, risalah ini dicetak dengan tahqiq
Shalahuddin al-Munajjid.

4. I'lam al-Muwaqqi'in an Rabb al-Alamin, dicetak dalam empat jilid di
percetakan al-Muniriyah dan percetakan as-Sa'adah.

5. Ighatsah al-Lahfan min Mashayid asy-Syaithan, dicetak berkali-kali
dalam dua jilid.

6. Ighatsah al-Lahfan fi Hukm Thalaq al-Ghadhban, dicetak dengan
tahqiq Muhammad Jamaluddin al-Qasimi. 7. Bada`i' al-Fawa`id, dicetak
di Mesir pada percetakan al-Mu-niriyyah dengan tanpa tanggal, dan ini
empat juz dalam dua jilid.

8. At-Tibyan fi Aqsam al-Qur`an, dicetak beberapa kali.

9. Tuhfah al-Maudud fi Ahkam al-Maulud, dicetak beberapa kali, di
antaranya dua cetakan bertahqiq: salah satunya cetakan Abdul Hakim
Syarafuddin al-Hindi 380 H., dan kedua, dengan tahqiq Abdul Qadir
al-Arna`uth, 391 H.

10. Tahdzib Mukhtashar Sunan Abi Dawud, dicetak bersama Mukhtashar
al-Mundziri, dan syarahnya (Ma'alim as-Sunan), karya al-Khaththabi
dalam delapan jilid kecil.

11. Jala` al-Afham fi ash-Shalah wa as-Salam ala Khair al-Anam.

12. Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah, dicetak di Mesir berkali-kali.

13. Hukm Tarik ash-Shalah, dicetak berkali-kali di Mesir.

14. Ad-Da` wa ad-Dawa`, dicetak dengan judul al-Jawab al-Kafi Liman
Sa`ala an ad-Dawa` asy-Syafi.

15. Ar-Risalah at-Tabukiyyah, dicetak di percetakan as-Salafiy-yah di
Mesir 1347 H.

16. Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin, dicetak per-tama
kalinya di percetakan as-Sa'adah, Mesir, 1375 H.

17. Ar-Ruh, dicetak berkali-kali.

18. Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, dicetak berkali-kali dalam
empat jilid, dan terakhir dicetak dalam lima jilid.

19. Syifa` al-Alil fi Masa`il al-Qadha` wa al-Qadar wa al-Hikmah wa
at-Ta'lil, dicetak dua kali.

20. Ath-Thibb an-Nabawi, dicetak secara tersendiri dua kali, dan ini
diambil dari Zad al-Ma'ad.

21. Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa'adatain, dicetak berkali-kali.

22. Ath-Thuruq al-Hakimah fi as-Siyasah asy-Syar'iyyah, dicetak berkali-kali.

23. Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah asy-Syakirin, dicetak ber-kali-kali.

24. Al-Furusiyyah, dan ini adalah ringkasan dari al-Furusiyyah asy-Syar'iyyah.

25. Al-Fawa`id, dan ini bukan Bada`i' al-Fawa`id, dicetak per-tama
kalinya di percetakan al-Muniriyyah. 26. Al-Kafiyah asy-Syafiyah fi
al-Intishar li al-Firqah an-Najiyah, dicetak berkali-kali dan masyhur
dengan nama an-Nuniyyah.

27. Al-Kalim ath-Thayyib wa al-Amal ash-Shalih, dicetak berkali-kali
di Mesir dan India, dengan nama al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim
ath-Thayyib.

28. Madarij as-Salikin Baina Manazil Iyyaka Na'bud wa Iyyaka Nasta'in,
dicetak berkali-kali dalam tiga jilid dengan nama ini. Ini adalah
syarah Manazil as-Sa`irin, karya Syaikhul Islam al-Anshari.

29. Miftah Dar as-Sa'adah wa Mansyur Wilayah al-Ilm wa al-Iradah,
dicetak berkali-kali. Kitab ini berisikan tentang mengetahui ilmu dan
keutamaannya, mengetahui hikmah Allah pada pencipta-anNya dan
hikmahNya dalam tasyri'Nya, serta mengenal kenabian dan kebutuhan yang
sangat besar kepadanya.

30. Al-Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adh-Dha'if, dicetak
ber-kali-kali, dan dicetak dengan nama al-Manar.

31. Hidayah al-Hayara fi Ajwibah al-Yahud wa an-Nashara, dicetak berkali-kali.

9. WAFAT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Dia 5 wafat pada malam Kamis, 13 Rajab waktu adzan Isya 751 H. dalam
usia 60 tahun, semoga Allah merahmatinya. Dia dishalatkan keesokan
harinya setelah shalat Zhuhur di al-Jami' al-Umawi, kemudian di Jami'
Jarrah, dan manusia berdesak-desakan untuk melayat jenazahnya.

Ibnu Katsir mengatakan, Jenazahnya disaksikan oleh penuh manusia,
disaksikan para qadhi, para tokoh, dan orang-orang shalih, baik dari
kalangan khusus maupun umum. Orang-orang berdesak-desakan untuk bisa
memikul kerandanya.

Dia dimakamkan di Damaskus, di pekuburan al-Bab ash-Shaghir di sisi
ibunya –semoga Allah merahmati keduanya–. Seba-gian muridnya
menyebutkan bahwa tidak lama sebelum kematian-nya, dia bermimpi
melihat Syaikh Taqiyyuddin, dan bertanya kepadanya tentang
kedudukannya, maka Syaikh mengisyaratkan ketinggian kedudukannya
melebihi kedudukan para tokoh, kemu-dian mengatakan, 'Engkau sebentar
lagi akan menyusul kami, tetapi engkau sekarang berada pada tingkatan
Ibnu Khuzaimah.' Wallahu a'lam.

Sumber darulhaq.com
[ Read More ]

Memaknai Musibah Dengan Kesabaran

Oleh Syarifah SPd*

Hari berganti hari, masa berganti masa detik berganti detik. Hidup
adalah sebuah ketidak pastian, namun perpindahan adalah suatu hal yang
pasti. Cobaan datang mendera bertubi tubi, entah itu nikmat atau
musibah. Semua adalah sepaket ujian yang telah Allah siapkan untuk
kita sebagai fitrah kita manusia.

Bila dianalogikan layaknya sebuah baja. Agar menjadi baja yang bagus
dan bernilai pun harus ditempa dan di panaskan berkali kali agar
menjadi besi yang amat berharga dan bernilai jual. Begitu pula kita,
manusia, perlu di uji berkali kali agar mental menjadi lebih kuat dan
derajat kita semakin meningkat di sisi Allah SWT.

Mukmin yang kuat, tak akan terpental hanya karena pukulan badai hidup
yang menyerangnya. Ia akan segera bangkit dari keterpurukan nya dan
belajar untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan yang di alaminya.

Kasih sayang Allah tidak selalu berwujud kesenangan, melimpahnya
harta, tercapainya segala keinginan, dan jauh dari berbagai musibah.
Justru bisa jadi sebaliknya. Orang yang mendapatkan berbagai
kesenangan itulah yang tidak dicintai-Nya. Orang tersebut dibiarkan
tenggelam dalam kesenangan dunia sampai tiba ajalnya. Pada saat itu
semua kesenangan dicabut dan diganti dengan berbagai siksa yang
mengerikan, baik ketika di kubur, di padang mahsyar, maupun di neraka.

Jangan mengira pula bahwa nikmat yang di peroleh para pelaku maksiat
yang terus menerus tanpa musibah itu adalah rahmat dari Allah, bisa
jadi itu tipu daya Allah. Bisa jadi itu istidraj, dimana Allah
membiarkan hambanya memperoleh segala yang ia kehendaki sementara
adzab yang nyata telah menanti di akhirat kelak.

Sungguh celaka orang yang bermain main dengan larangan Allah. Ia larut
dan terlena oleh nikmat dunia yang menipu lagi menjerumuskan. Sungguh
beruntunglah orang orang yang bersabar menerima musibah dan memahami
hakikat bahwa musibah itu pada dasarnya adalah sebuah proses untuk
menghapuskan dosa dosanya.

"Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah
segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan
disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat." (Terjemah hadits
riwayat Muslim)

Setiap musibah sudah digariskan dan ditentukan oleh sang Pencipta
yaitu Allah SWT. Manusia tidak akan pernah tahu kapan ajal akan
menjemput karena itu merupakan sebuah ketetapan dari Allah yang tiada
mengetahui kecuali Allah semata.

Adakalanya musibah merupakan sebuah ujian dari Allah SWT dan
adakalanya pula musibah tersebut merupakan teguran atau bahkan
laknat/adzab dari Allah SWT. Musibah bisa menjadi peluang koreksi
batin. Boleh jadi kesulitan itu bersumber dari diri sendiri. Kita
sendiri yang mengundang permasalahan. Dosa-dosa menutup kita dari
kasih sayang Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita perbuat baik
terhadap Allah maupun terhadap manusia.

Musibah kadang datang untuk memperingatkan kita, sedikit mencubit
kita, agar segera tersadar dan kembali ke jalan Allah setelah beberapa
waktu tersesat. Awalnya hanya cubitan kecil. Jika kita tidak juga
merasa, kemudian diingatkan dengan dipukul sedikit keras.

Jika tidak terasa juga kemudian dipukul dengan tenaga yang lebih
besar. Bukankah kadang seseorang harus disentak atau ditendang agar
tidak terperosok ke dalam jurang yang dalam. Karena toh sakit akibat
jatuh ke dalam jurang jauh lebih fatal dibanding sakit akibat
ditendang atau disentak untuk mengingatkan, membuat kita bertafakkur,
mengistirahatkan hati sejenak dan merenungi dimana kah letak kesalahan
kita.

Sebagaimana terdapat dalam firman Allah surah an-nisa ayat 79 yang
artinya: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah,dan apa
saja bencana yang menimpamu,maka dari (kesalahan)dirimu sendiri...(QS
An-Nisaa :79)

Kala musibah sebagai ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya
maka setiap ujian ini akan disesuaikan dengan tingkat ketakwaan
seorang hamba tersebut. Sudah barang tentu manusia yang paling
bertakwa akan diuji dengan ujian yang semakin berat sesuai dengan
tingkatan dan kadar iman serta takwanya kepada sang Kholiq Robbul
'Izzati.

Seperti halnya seorang yang masih dalam bangku sekolah setiap level
atau jenjang pendidikan memiliki instrumen ujian yang berbeda
berdasarkan tingkatan jenjang pendidikan tersebut. Ujian siswa anak
Sekolah Dasar (SD) akan berbeda tingkat kesukarannya dengan ujian
siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), demikian halnya dengan ujian dalam
kehidupan ini pasti ada tingkatan atau level.

Selain sebagai sebuah ujian, terkadang musibah merupakan suatu teguran
dari Allah SWT atas perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang
cenderung melakukan hal-hal yang menjurus pada sebuah kemaksiatan atau
kemungkaran. Bahkan yang lebih mengerikan lagi apabila musibah
tersebut merupakan suatu adzab yang diberikan Allah kepada hamba-Nya
yang tentunya adalah hamba yang ingkar, kufur, dan melanggar perintah
agama.

Terkait dengan hal tersebut wajib percaya bahwa segala sesuatu yang
telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu, menurut apa yang
telah ditentukan dan ditetapkan oleh Tuhan Allah, sejak sebelumnya
(zaman azali). Jadi segala sesuatu itu (nasib baik dan buruk) sudah
diatur dengan rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang
tertentu.

Tetapi kita tidak dapat mengetahuinya sebelum terjadi. Rencana
sebelumnya itu Qadar atau Takdir. Namun kalau kita bisa menerima
dengan ikhlas atas ketetapan-Nya,Insya Allah kita akan terhindar dari
perasaan frustasi dan putus asa karena seseorang yang putus asa akan
sendirian di dunia ini dan tidak mempunyai jalan keluar. Sungguh tidak
pantas lagi jika ada musibah yang sebenarnya akan meninggikan kita,
justru kita menghujat Allah, mengeluhkannya, membenci Allah.

Mulai sekarang mari kita ubah persepsi kita. Apakah yang akan menimpa
kita, entah nikmat atau musibah, kita hadapi dengan ikhlas, ridha
karena semuanya adalah kasih sayang dari Allah untuk meninggikan kita.
Dan mari kita syukuri dengan sikap sabar dan syukur. Bersyukur dengan
semua potensi di jasad dan jiwa kita yang Allah karuniakan, dengan
mengabdi sebaik-baiknya, bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang
sebenarnya, menjalankan Islam secara kaaffah. Insya Allah.

"....Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk
bagimu,Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui."(QS
Al-Baqarah:216)


* Penulis adalah Alumnus IAIN Antasari Banjarmasin 2010 Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,

Redaktur : Heri Ruslan
Jumat, 30 Agustus 2013, 15:01 WIB



--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Opini Sederhana : Mendingan Aku Jujur Gak Nipu Diri !

Oleh : Muhammad A. Samaaun.

Dalam sebuah hadits dikatakan Jujur adalah inti islam. Begitulah islam
selalu mengajarkan jujur kepada umatnya supaya mendapatkan kehidupan
yang lurus didunia dan diakhirat.

Dalam perjalanan hidup ini kadang banyak kita temukan orang-orang yang
berpenampilan layaknya seorang intelek/alim. Namun disisi lain kadang
orang itu juga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan layaknya
intelek/alim semacam berkata kotor, mencacimaki dan sebagainya.

Kita tak usah heran, kita hanya perlu menyimpulkan bahwa sifat orang
munafiq adalah tidak mau jujur dengan dirinya sendiri. Dia hanya
mengharapkan sanjungan dan penghormatan dari orang disekitarnya.
Penampilannya memang alim tapi kita tidak tahu jika hati manusia itu
bengkok atau lurus karena tertutupi kulit dan tulang dan juga
tertutupi pakaiannya. Tapi ingatlah barangsiapa menipu Allah dengan
melakukan perbuatan yang baik didepan orang banyak tetapi bermaksiat
pada saat dia sendirian atau malah kadang penampilan tak sesuai
perbuatan. maka sesungguhnya yang dilihat Allah bukanlah penampilan
kalian akan tetapi penampilan hati kalian. Apakah anda pernah
mendengar kisah pelacur masuk surga? atau ahli ibadah yang mati masuk
neraka?. Itu intinya adalah masalah hati. Hati manusia yang lurus maka
insyaAllah dia akan mendapatkan jalan hidup yang lurus. Jika hati
manusia bengkok maka sebaik apapun penampilan dhohir anda maka itu tak
berpengaruh kepada hisab dihari kiamat. Mungkin didunia hanya mendapat
sanjungan orang lain, tapi sayang dunia ini sementara. Akhirat itu
kekal selamanya. Memang paling sulit diantara memelihara sesuatu
adalah memelihara hati sendiri.

Mendingan kita berpenampilan apa adanya yang penting sopan dan sesuai
ajaran islam. Tak usah bangga dengan penampilan kita. Seperti kata
teman saya "Mendingan Gue Jujur, gak Nipu diri, Orang mau berkata apa
kek, emang inilah saya, saya gak mau orang lain tertipu gara-gara
penampilan saya. saya gak mau pakai topeng!"

Yah begitulah meskipun teman saya itu orangnya bukan ahli agama tapi
saya menyukainya daripada seorang ahli ibadah tapi cuman
"kelihatannya". Janganlah kita memakai topeng karena entar topeng itu
yang masuk surga, bukan kitanya.. hehehe. apakah cukup rasional
penjelasan saya.

Ya, apalagi karena memang segala sesuatu yang tertutupi nantinya akan
nampak juga biar waktu yang menentukan jadwalnya. Kata seorang bijak
"Orang yang terbiasa membohongi diri sendiri sebenarnya dia tersiksa
batinya, meski ia selalu tampil ceria dan bahagia didepan banyak
manusia".

wallahu'alam



--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Kisah Hikmah : Jujur Adalah Inti Islam

Oleh Syahruddin El-Fikri

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari, Rasulullah SAW kedatangan
seorang tamu yang ahli maksiat. Ia pernah berzina dan juga suka
minum-minuman keras.

Ia menyampaikan maksud kedatangannya untuk memeluk agama Islam. Rasul SAW
senang mendengarnya. Ia pun kemudian bersyahadat. "Asyhadu an La ilaha
Illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah."

Namun demikian, ia menyatakan dirinya belum bisa meninggalkan perbuatan
maksiat yang sering dilakukannya seperti berzina dan minum-minuman keras.

Rasul SAW tak langsung melarangnya. Beliau hanya tersenyum seraya meminta
satu hal kepada lelaki itu. "Apa itu ya Rasul?" tanya dia. Rasul SAW
menjawab: "Berkatalah jujur."

Mendengar hal itu, lelaki itu senang, karena menurutnya, agama Islam itu
mudah. "Kalau cuma jujur, saya sanggup wahai Rasulullah," jawabnya. Rasul
memujinya dan memintanya untuk selalu jujur dalam keadaan apa pun dan di
mana pun.

Setelah itu, lelaki tersebut kembali ke rumahnya. Ia bahagia sudah
memeluk Islam. Sampai di rumah, ia pun melihat sejumlah botol minuman
keras yang masih terisi.

Ia lalu mengambil botol tersebut dan lantas membuka tutupnya. Dalam hati
ia berkata, betapa mudahnya Islam itu, sebab dirinya yang sudah menjadi
Muslim, tidak diperintahkan untuk langsung mendirikan shalat. Bahkan, tak
melarangnya untuk menghentikan perbuatan maksiat yang menjadi
kegemarannya.

Namun, beberapa saat kemudian, lelaki itu tersadar. "Kalau nanti aku
ketemu Rasul dan beliau bertanya, apakah aku masih minum? Lalu aku jawab
tidak, berarti aku berbohong. Maka aku berdosa. Dan jika aku berkata
jujur aku masih meminumnya, maka aku juga berdosa karena Islam melarang
itu?"

Pergolakan batin ia alami, antara meneruskan meminum minuman keras atau
meninggalkannya. Ia mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Ia tak
jadi meminumnya.

Beberapa hari kemudian, ia berjalan-jalan dan menjumpai seorang perempuan
yang cantik jelita. Lelaki itu pun mencoba merayu dan menggodanya.

Kata-kata indah yang diucapkannya, bagai setetes air penawar dahaga.
Rayuan gombal yang dilontarkannya, membuat sang perempuan tergoda. Ia pun
membawa perempuan itu ke rumahnya. Ia bermaksud untuk melakukan zina
dengannya.

Namun, belum sempat melakukan perbuatan itu, ia kembali mengalami
pergolakan batin. Ia membayangkan bila suatu saat nanti bertemu dengan
Rasul dan beliau menanyakan apakah dirinya berzina?

"Kalau aku jawab iya, maka hukuman rajam sebagai balasannya. Kalau
berkata tidak, maka aku berdusta dan tidak jujur kepada Rasulullah,"
batinnya. Akhirnya, ia tak jadi melakukan zina dan perempuan yang sudah
ada di depannya ia suruh pulang.

Lelaki itu segera menemui Rasulullah. Ia langsung meminta maaf dan
berkata: "Wahai Rasul, sungguh Islam itu luar biasa. Engkau tidak
memerintahkanku untuk shalat dan juga tidak melarangku untuk berbuat
maksiat. Engkau hanya minta satu kepadaku, jujur. Wahai Rasul, saya
memahami, sesungguhnya itulah inti Islam." Rasul pun tersenyum dan
mengajak lelaki itu untuk shalat dan bertaubat.

Dari kisah di atas, sedikitnya tiga hikmah yang bisa dipetik. Pertama,
hendaknya kita selalu berkata jujur, tidak berbohong dalam situasi apa
pun. Kedua, jujur akan membawa keselamatan dan keberkahan. Sebaliknya
bohong, akan membuat pelaku dihinggapi rasa bersalah dan ketidaknyamanan.

Ketiga, Islam adalah agama yang mengajak manusia pada kebaikan dengan
cara yang lembut, bijak, dan penuh kasih sayang. Wallahu a'lam.



Redaktur : Damanhuri Zuhri
Sabtu, 31 Agustus 2013, 05:17 WIB

Sumber REPUBLIKA.CO.ID

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Kisah dan Hikmah : Rencana Fir'aun Membuat Menara Langit

Oleh Afriza Hanifa

Istana Fir'aun terguncang hebat. Sang raja dikalahkan
begitu saja oleh pemuda belia bernama Musa. Tipu dayanya memanggil para
ahli sihir dari penjuru negeri Mesir berakhir kekalahan.

Alih-alih mengalahkan Musa, para penyihir malah tertunduk sujud menyembah
Tuhan Musa dan enggan lagi menuhankan Fir'aun.

Fir'aun geram bukan kepalang. Ia mengamuk di atas singgasananya. Para
menteri dan orang-orang disampingnya menjadi luapan kemarahannya.
Semuanya dicaci kemudian diusir dari istananya.

Fir'aun menyendiri sembari menenggak anggur. Namun kemarahannya tak
kunjung reda. Ia pun memanggil kembali semua menteri dan pejabat kerajaan
untuk menghadapnya segera.

Takut-takut, para pejabat memasuki istana. Melihat rajanya yang masih
emosional, makin takut hati mereka. Sebentar lagi, raja negeri Mesir ini
pasti meledak. Wajah sang raja tertekuk geram.

Ia seakan baru saja ditampar keras oleh Musa. Sang Nabiyullah membuktikan
ketuhanan Fir'aun palsu belaka. Ia sekedar manusia lemah yang berdusta
mengaku Tuhan.

Ketika semua pembesar telah berkumpul, Fir'aun tiba-tiba bertanya pada
perdana menterinya, "Hai Haman, Apakah aku ini seorang pendusta?" teriak
Fir'aun.

Hamman, pengikut setia Fir'aun pun langsung bertekuk lutut kemudian
meyahut, "Siapa yang berani menuduh baginda Fir'aun sebagai pembohong?!"
ujarnya membela.

Fir'aun pun berkata, "Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di Surga?"
ujar penguasa negeri piramida, geram."Musa telah berdusta!" ujar Hamman
segera. Ia tak ingn tuannya marah.

Namun Fir'aun tak puas dengan jawaban Hamman. Ia pun memalingkan wajahnya
dengan wajah masih merah padam. "Saya tahu Musa itu hanyalah tukang sihir
yang berdusta," ujar Fir'aun.

Fir'aun kembali memandang Hamman dengan ide tipu daya yang lain, "Wahai
pembesarku, akulah Tuhan kalian. Bersama Hamman, bagunlah untukku sebuah
menara yang menjulang tinggi supaya aku sampai higga pintu-pintu langit.
Aku ingin melihat Tuhan Musa, dan aku tahu bahwa Musa itu hanyalah
seorang pendusta," ujar Fir'aun.

Hati Fir'aun benar-benar tertutup. Ia terhalang menuju jalan yang lurus.
Pun para pembesarnya tak dapat menolak perintah sang raja. Hamman pun
segera memperintahkan para pembesar lain untuk memenuhi keinginan
Fir'aun. Namun itu hanyalah sifat munafik Hamman.

Ia sebenarnya tahu betul bahwa mustahil membangun menara seperti yang
diinginkan Fir'aun. Bahkan meski peradaban Mesir kala itu dipandang maju,
membangun menara hingga pintu langit merupakan perkara ajaib yang tak
mampu dilakukan. Kendati demikian, ia mengiyakan perintah Fir'aun agar
sang raja tak murka padanya.

Hingga kemudian, Hamman dengan kedudukannya meemberikan pengaruh bagi
keputusan raja. Ia dengan mulut manisnya berusaha memuja Fir'aun.

"Namun paduka, untuk pertama kalinya saya merasa keberatan. Kendati Anda
telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapapun
di langit. Karena memang tidak ada Tuhan selain Anda," ujar Hamman.

Mendengarnya, Fir'aun langsung berbangga diri dan memuja diri sendiri
dengan ucapan Hamman. Fir'aun pun kemudian mendeklarasikan diri kembali
sebagai Tuhan. "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu
selain aku," ujar Fir'aun.

Fir'aun pun kemudian menyebarkan rumor di tengah masyarakat. Setiap orang
yang berani melawannya dan menyembah selainnya, maka akan mendapat
hukuman mati. Fir'aun memperketat militernya. Ia menyebar semua aparat
untuk menjaga eksistensinya sebagai Tuhan.

Bani Israil pun dirundung teror Fir'aun tersebut. Apalagi Hamman
mengusulkan agar Fir'aun membunuh setiap pria dan menodai setiap wanita
diantara para pengikut Musa.

Semakin hari, Bani Israil tak kuat dengan siksaan Fir'aun. Mereka tak
lagi sabar dengan keimanan. Bukan Bani Israil jika tak melawan nabi
mereka.

Berbondong, mereka pun menemui Nabi Musa dan berkata, "Kami memang telah
menderita masalah sebelum Anda datang kepada kami. Namun kami juga tetap
menderita setelah Anda datang pada kami," keluh mereka.

Dengan sabar, Musa hanya menjawab, "Mudah-mudahan Allah membinasakan
musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat
bagaimana perbuatanmu,"jawab Nabiyullah.

Sebagaimana diketahui dalam kisah Nabi Musa, Allah di kemudian hari
menyelamatkan Bani Israil dan membinasakan Fir'un, Hamman dan semua bala
tentara mereka.

"Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami
perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu
mereka khawatirkan," surah Al Qashshash ayat 6.

Keterangan ayat menyebutkan bahwa yang dimaksud kekhawatiran Fir'aun dan
Hamman ialah kerajaan yang akan hancur oleh Bani Israil. Oleh karena
kekhawatiran tersebut, pemerintahan Fir'aun menyiksa Bani Israil. Namun
Allah selalu menyelamatkan hambaNya dan membela nabiNya.

Kisah Hamman tersebut dikisahkan dlam kitabullah dalam beberapa surat,
diantaranya dalam Surah Al Qashshash ayat 6 dan ayat 38, Surah Al Mu'min
ayat 36-37, serta Surah Al Ankabut ayat 38. Rujuklah kitab tafsir
"Qashshashul Anbiya" karya Ibnu Katsir untuk kisah lengkap perjalanan
hidup dan dakwah Nabiyullah Musa Alaihissalam.

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Minggu, 01 September 2013

Sumber REPUBLIKA.CO.ID,


--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Jangan Anggap Enteng

Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Seorang ibu, ketika agenda sosialisasi Indonesia Berjamaah, dengan
programnya Ekonomi Berjamaah, ditanya. "Apa ibu ada uang cash?"

Ibu itu menjawab sambil tersipu. Beliau tidak pede. Bisa ditebak. Sebab
beliau merasa uangnya tidak banyak. "Rp 500 ribu paling Ustadz," Kata ibu
ini sambil tersenyum malu.

Saya kemudian mengingatkan ibu ini dan jamaah semua, jangan anggap enteng
duit Rp 500 ribu itu. Benar tidak cuma Rp 500 ribu? Duit itu di bank ada
jutaan orang yang duitnya Rp 500 ribu. Bila 10 juta orang?
5.000.000.000.000. Atau senilai lima Triliun Rupiah.

Apa artinya lima Triliun Rupiah itu? Rp 5 T itu buesar dan buanyak
buanget. Satu hotel bintang dua, dengan kira-kira 50-100 kamar, kira-kira
Rp 40-50 milyar.

Itu berarti 100 hotel. Malah dengan skema DP duluan, kerja-kerjasama,
maka bisa bangun 300-500 hotel. Bila satu hotel 50-100 karyawan, itu
artinya puluhan ribu orang bisa bekerja. Subhaanallaah.

Apa artinya Rp 5 Triliun? Satu pesawat boeing 737-500 dengan engine baru,
interior baru, plus beberapa cost operasional awal, kira-kira Rp 75
miliar.

Anggap Rp 100 Miliar. Maka duit ibu tadi, yang bergabung dengan 10 juta
ibu-ibu yang lain, dapat 50 pesawat. Padahal, satu maskapai yang sudah
berusia 10 tahun di Indonesia, baru punya 38 pesawat.

Dan uang itu bisa dipecah-pecah jadi berbagai usaha strategis,
menguntungkan, aman, dan safety. Bisa masuk ke industri rumah sakit,
farmasi, pertanian, perkebunan, properti besar lain, dll.

Apalagi, kenyataan, belum tentu uang ibu ini hanya Rp 500 ribu. Belum
tentu. Ibu ini ternyata pake gelang, cincin, kalung, dari emas. Nilainya
kira-kira Rp 2-5 jutaan plus tabungan kira-kira Rp 5 juta. Itu uang cash.

Belum lagi motornya. Belum lagi suaminya, mungkin juga anaknya. Ibu ini
punya anak, yang kalau dilucuti emasnya, ya ada juga Rp 500 ribu sampai
Rp 1 juta atau Rp 2 juta.

Iseng saya paparkan, ternyata secara bercanda, dari model ibu seperti
yang saya tanya, bisa dapat Rp 55 Triliun. Artinya apa? Sektor ekonomi
akan bergerak. Ekonomi riil.

Dan dengan spirit gotong royong, potensi dana ibu ini, tidak dipakai
untuk membiayai orang-orang kaya hingga semakin kaya, tapi ibu ini dan
jutaan orang lain, akan mendapatkan peluang lebih dari kekuatan dananya.

Yusuf Mansur tidak punya teori kebanyakan. Cuma melihat potensi ini, dan
mengajak kawan-kawan untuk bersatu, bergerak, dan menggerakkan.

Dan kita tetap bisa bekerjasama dengan yang lain. Hanya, dalam keadaan
kita bukan lagi sebagai obyek. Tapi sudah setara. Sama-sama punya peluang
dan kesempatan. Insya Allah berkah.

Maka tidak salah jika saya menyeru diri saya dan sebanyak-banyaknya
orang, bersatulah. Berjamaahlah. Insya Allah kita akan jadi kuat dan bisa
punya peran dan manfaat lebih.

Redaktur : Damanhuri Zuhri
Sumber Minggu, 01 September 2013,
REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

Menanti Pemimpin Rabbani

Oleh M Husnaini

Kisah tentang Said bin Amir Al-Jumahi begitu populer. Gubernur Homs,
Suriah, pada masa Khalifah Umar bin Khattab itu memang sosok pemimpin
yang disegani dan dicintai rakyatnya. Tidak tersisa ruang di hati dan
pikirannya kecuali urusan kemajuan rakyat yang dipimpinnya. Tidak heran,
Khalifah Umar bin Khattab sangat menaruh hormat kepadanya.

Tidak lama setelah melantik Said menjadi gubernur, Umar berkunjung ke
Homs untuk memantau keadaan. Tentu saja kedatangan Umar disambut gembira
oleh seluruh penduduk Homs. Mereka lalu bergantian menyalaminya. Tetapi,
tiba-tiba Umar dikejutkan dengan pengaduan sejumlah penduduk Homs perihal
Said. "Bagaimana dengan gubernur kalian"? tanya Umar.

"Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika siang sudah naik," kata
salah seorang di antara mereka. "Dia tidak mau menerima tamu di malam
hari," protes orang kedua. "Dia tidak keluar menemui kami sehari dalam
setiap bulan," kata yang lain.

Sebagai pemimpin yang bijak, Umar kemudian mengklarifikasi semua keluhan
kepada Gubernur Said. "Apa jawabanmu, Said?" Said diam sejenak kemudian
berkata, "Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan ini. Tetapi
memang harus dikatakan. Keluargaku tidak punya pembantu. Setiap pagi aku
menyiapkan adonan, dan menunggunya sampai mengembang untuk aku jadikan
roti buat mereka, kemudian aku berwudhu dan keluar menemui masyarakat."

"Lantas bagaimana penjelasanmu tentang keluhan kedua?" kata Umar. Said
menjawab, "Sebenarnya aku juga tidak ingin mengatakan ini. Sesungguhnya
aku jadikan siang hari untuk mereka, dan malam hari untuk Allah."

"Tanggapanmu terhadap keluhan ketiga?" lanjut Umar. "Demi Allah, aku juga
malu mengatakan ini. Aku tidak punya pakaian selain yang melekat di
tubuhku ini. Karena itu, aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan
menunggunya sampai kering, baru kemudian aku keluar di sore hari."

Subhanallah. Mungkinkah masih ada pemimpin di zaman sekarang yang mau dan
mampu meneladani sosok Gubernur Said? Kesederhanaannya sungguh luar
biasa, kedekatannya dengan umat sukar dicari tandingannya, tetapi dia
tetap memiliki jeda waktu untuk berintim dengan Tuhan. Itulah pemimpin
hebat dalam arti sebenarnya. Sosok demikian saya sebut sebagai Pemimpin
Rabbani.

Pemimpin Rabbani tidak hanya menjalin relasi baik dengan umat, tetapi
juga selalu meluangkan waktu untuk membangun hubungan intim dengan
Tuhannya. Hatinya lembut dan gampang tersentuh oleh kondisi umatnya.
Sudah pasti, pemimpin yang paling Rabbani adalah Rasulullah SAW,
sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 128.

"Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, terasa
berat olehnya penderitaan kamu, sangat menginginkan keimanan dan
keselamatan bagi kamu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin." (QS At-Taubah: 128).

Rasulullah memang teladan paling paripurna dalam segala perilaku
kehidupan. Sebagaimana pribadi panutan ini, Pemimpin Rabbani tidak akan
berani menyakiti hati umat, karena dia tahu bahwa Tuhan pasti marah.
Sebaliknya, dia ogah jauh-jauh dari Tuhan, karena dia paham bahwa jauh
dari Tuhan akan merugikan umatnya.

Kita susah menemukan sosok pemimpin demikian di zaman modern ini. Di
antara seribu orang, boleh jadi hanya ada satu. Setelah kita temukan,
sosoknya pasti juga masih kalah populer dengan pemimpin-pemimpin memble
yang hanya bermodal tampang dan ketenaran. Media pasti juga kurang
tertarik untuk memberitakan kiprah pemimpin yang miskin dana untuk iklan,
sekalipun dia sangat inspiratif dan mencerahkan.

Selain itu, Pemimpin Rabbani memang tidak doyan unjuk tampang, meskipun
dia selalu mencetuskan terobosan-terobosan brilian. Waktunya habis untuk
memikirkan cara memecahkan persoalan keumatan ketimbang berjualan diri
lewat iklan. Itulah sebabnya, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan
Pemimpin Rabbani benar-benar lahir dari ketulusan, bukan dari kepongahan
intelektual, apalagi sekadar ingin meraup keuntungan.

Sementara kebanyakan pemimpin kita sekarang hanya sekumpulan orang yang
sangat berhasrat untuk menduduki jabatan mapan dan posisi terpandang.
Boleh jadi mereka cerdas dalam berolah pikiran dan ucapan, karena
memiliki gelar pendidikan. Tetapi mereka minus keautentikan. Terkadang
malah sama sekali tidak punya bekal kepemimpinan, tetapi nekat
mencalonkan. Sosok demikian jelas tidak akan mampu menjawab persoalan,
apalagi dekat dengan umat dan Tuhan.

Semua janji yang diobral ketika mencalonkan menguap begitu saja ketika
sudah berhasil menduduki kursi jabatan. Kepemimpinan yang merupakan
amanah bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan dirasakan sebagai
keberuntungan, sehingga pantas menggelar perayaan dan menerima ucapan
selamat dari segenap keluarga dan rekan. Lihatlah fenomena demikian pada
setiap pemilihan pemimpin, mulai Pilkades hingga Pilpres.

Bangsa ini memang sedang dilanda krisis pemimpin harapan. Mereka yang
seharusnya dapat berperan mengamankan nasib rakyat justru memiliki andil
paling besar dalam mengenyahkan martabat, nyawa, dan harta benda rakyat.
Di tengah situasi demikian, kehadiran Pemimpin Rabbani sangat kontekstual
diharapkan untuk mengatasi carut marut kondisi politik yang semakin
menjadikan bangsa dan negara nelangsa.


Redaktur : Heri Ruslan
Selasa, 03 September 2013,
Sumber REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
[ Read More ]

    close
    Banner iklan disini

    Kunjungan Anda

    Total Tayangan Halaman